Showing posts with label tradisi. Show all posts
Showing posts with label tradisi. Show all posts
Desa Winduraja adalah salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Desa ini terletak pada ketinggian 500 meter diatas permukaan laut (dpl). Luas wilayahnya terbagi ke dalam dua bagian, luas wilayah pesawahan sebesar 64 hektar dan luas daratan sebesar 240 hektar. Jumlah penduduknya sekitar 5200 jiwa dengan komposisi pria dan wanita yang tidak jauh berbeda.

Menurut cerita naskah Parahyangan, Winduraja dipilih sebagai tempat pemusaraan tiga raja, yakni Raja Sunda Rakeyan Kendang, Raja Sunda Galuh Darmaraja dan Raja Darmakusumah, yang memerintah tiga Kerajaan, Sunda, Galuh dan Galunggung.

Keunikan desa ini ada pada jumlah tugu (rumah) di tiga kampung yang tidak berubah dari tahun ke tahun sejak dahulu. Seperti kampung Sindang Balong yang terdapat makam Arganata di Dusun Sukamulya, yang mempunyai 14 Tugu atau rumah (Kepala Keluarga). Atau juga Kampung Sawah Jati, dekat makam Cinuraja, di Dusun Margajaya, yang mempunyai tujuh tugu. Serta Kampung Kiara Koneng, yang terdapat makam Dalem Dungkut–utusan Kesultanan Cirebon, di Dusun Sukajadi, yang mempunyai 18 tugu.

“Teu nambih-nambih ti baheula oge, termasuk jumlah pendudukna,” ungkap Mamat Rahmat (47), warga Dusun Sukamulya, Desa Winduraja, beberapa waktu lalu.

Mamat menuturkan, di tiga kampung tersebut, secara alami penduduknya tidak bertambah, meskipun dia juga tidak merinci jumlah penduduk di setiap kampung unik tersebut. “Kalau ada pertambahan jiwa, secara alami akan ada yang keluar dari kampung tersebut,” ujarnya. Ketua Komunitas Galuh Etnik Winduraja, Atus Gusmara, mengatakan, di tiga kampung tersebut, tidak ada aturan tertulis atau aturan tidak tertulis soal batasan tugu dan jumlah jiwanya.

“Yang jelas secara alami ada proses seleksi alam, ini keunikannya,” ungkapnya.

Atus mengungkapkan, keunikan di desanya tersebut layak dijadikan cagar budaya, seperti di Kampung Kuta atau Baduy atau juga Kampung Naga.

“Saya yakin sekali, keunikan desa ini berkorelasi dengan kesejarahan,” pungkasnya. (DK/Koran-HR)

sumber: www.harapanrakyat.com

SENI gondang buhun di Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupatan Ciamis, merupakan satu-satunya seni gondang yang masih tersisa di Tatar Galuh. Kondisinya terancam punah karena sudah tidak ada lagi generasi muda yang berminat untuk melanjutkannya.

Untunglah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar, lewat Balai Taman Budaya Jawa Barat, melalui program revitalisasinya berhasil menyelamatkan gondang buhun Kampung Adat Kuta dari ancaman kepunahan.

"Program revitalisasi gondang buhun ini sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu dan berhasil melahirkan dua grup baru dari generasi yang lebih muda. Semuanya berasal dari Kampung Adat Kuta," ujar Kabid Kebudayaan Disbudpar Ciamis, Drs Agus Yani, kepada Tribun pada acara helaran penampilan gondang buhun hasil revitalisasi di Alun-alun Kecamatan Tambaksari, beberapa hari lalu.

Menurut Ketua Adat Kampung Kuta, Karman, seni gondang buhun di Kampung Adat Kuta tersebut merupakan seni tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun sejak ratusan tahun lalu semenjak zaman Kerajaan Galuh yang diwarisi dari leluhur Kampung Kuta.

Gondang buhun selalu menjadi penampilan wajib setiap ritual nyuguh yang digelar pada pekan terakhir bulan Safar (menjelang bulan Maulud). Tradisi nyuguh ini merupakan ritual adat Kampung Kuta setiap bulan Safar yang selalu digelar disisi Sungai Cijolang, perbatasan Jabar-Jateng.

Tradisi nyuguh lahir dari sejarah, ketika warga Kampung Adat Kuta hendak melepas prajurit balatentara Kerajaan Pajajaran yang hendak menyeberang ke Sungai Cijolang menuju Kerajaan Majapahit di tanah Jawa.

"Para parajurit Pajajaran tersebut tidak hanya disuguhi makanan berupa ketupat dan makanan lainnya. Tetapi juga disuguhi penampilan seni gondang," ujar Karman.

Sejak itu, seni gondang menjadi penampilan pembuka setiap ritual nyuguh. Paling tidak, seni gondang ini tampil sekali setahun, yakni saat setiap ritual nyuguh tersebut, yang penampilannya jauh dari kesan sebagai seni hiburan, tapi lebih sebagai seni yang berbau spritual dengan lengkingan kawih dari lirik yang berisi petuah dan nasihat bagi anak negeri.

"Penampilan seni gondang ini lebih berkaitan dengan ritual adat di Kampung Kuta yang bersifat sakral. Adanya hanya di Kampung Kuta untuk keperluan adat," kata Karman.

Mengikuti perkembangan zaman, gondang buhun ini pun ditampilkan tidak hanya pada acara ritual nyuguh, tetapi juga ketika warga Kampung Adat Kuta menggelar hajat pernikahan yang menggunakan tenda atau balandongan.

"Sebelum tenda atau balandongan digunakan, selepas subuh sekitar pukul 05.00 pagi harus didahului dengan menampilkan seni gondang. Sekarang pun seni gondang buhun dari Kampung Kuta ini mulai diundang tampil ke luar daerah seperti di Bandung, Sukabumi, Purwakarta serta tentunya di Ciami sendiri," ujar Karman.

Dengan seringnya tampil di luar Kampung Kuta, kelompok seni gondang buhun Kampung Kuta ini mulai kerepotan karena pemainnya hanya ada enam orang. Semuanya sudah tua-tua, sehari-hari berprofesi sebagai petani sekaligus ibu rumah tangga. Jadi repot bila harus tampil di luar Kampung Kuta. Keenam pemain (semua perempuan) tersebut tidak hanya berperan sebagai pemegang alu untuk dpukulkan ke lisung (gondang), tetapi juga merangkap sebagai juru kawih (sinden).

"Pemainnya semua perempuan mulai Mak Idar, Darsiti, Sariyi, Kartini, Engkan, dan Darsiwi. Semuanya sudah berusia di atas 50 tahun, sudah tua-tua. Makanya sejak tiga bulan lalu, provinsi (maksudnya Dibudpar Jabar) melatih dua kelompok lagi, semuanya masih muda-muda," kata Karman.

Kedua kelompok yang dilatih melalui program revitalisasi gondang buhun Kampung Adat Kuta tersebut mewarisi langsung seni gondang buhun dari seniornya, Idar cs, baik tata gerak panutugan gondang maupun lanjutan kawihnya. Dua grup baru gondang buhun ini adalah Isur cs dan Sati cs, masing-masing grup terdiri atas enam orang.

"Setelah tampil di Alun-lun Tambaksari, kedua grup gondang buhun hasil revitalisasi dari Kampung Adat Kuta ini juga akan ditampilkan di Balai Budaya Jabar di Bukit Dago Selatan, Sabtu (28/9) malam nanti," ujar Siti Afiatun dari Balai Taman Budaya Jabar.

sumber: Tribun Jabar
KARINDING alat musik khas tradisi Sunda yang berawal hanya sebagai alat pengusir hama padi sawah, kini terus bertahan berkolaborasi dengan alat musik modern. Tak gamang tampil dipanggung - panggung pertunjukan memperdengarkan harmonisasi bunyi yang bisa bikin merinding.

Dalam tradisi Sunda, alat musik karinding ini amatlah sederhana. Baik dari bahan baku dan cara membuatnya maupun cara menggunakannya. Di Pasir Mukti Tasikmalaya maupun Cikalong Kulon Cianjur, karinding biasanya dibuat dari pelepah kawung (aren). Biasanya dimainkan oleh kaum laki-laki, bentuknya amat sederhana dan pendek sehingga bisa disimpan dalam tempat rokok.

Sementara jenis karinding terus berkembang saat ini adalah karinding yang terbuat dari bambu. Yang semula berkembang di Limbangan atau Cililin. Karinding bambu biasanya dimainkan oleh kaum ibu-ibu. Sehingga tak terheranlah bila bentuk karinding dari bambu ini biasa dibuat seperti tusuk konde yang runcing dibagian ujungnya. Sehinga bisa berfungsi yakni sebagai tusuk sanggul sekaligus juga alat musik.

Namun di Kelompok Seni 'Karinding Nyengsol' Sanggar/Yayasan Galuh Etnik asal Dusun Margajaya Desa Winduraja Kawali, satu kelompok seni karinding yang ada di Tatar Galuh Ciamis. Dari empat pemain karinding hanya seorang perempuan. Selebihnya laki-laki.

"Total anggota rombongan seni dari Galuh Etnik ini 13 orang, yang main karinding empat orang. Dari 4 pemain karinding, hanya seorang perempuan. Yakni Resi Siti Saadah, anak saya yang nomor dua, kini masih duduk di kelas 1 SMP," ujar Ajus Gusmara (39), pimpinan kelompok seni 'Karinding Nyengsol' Sanggar Galuh Etnik kepada Tribun Selasa (26/3) lalu.

Di kelompok 'Karinding Nyengsol' ini, alat musik karinding tak berdiri sendiri, namun berkolaborasi dengan alat musik lainnya yang semuanya terbuat dari bambu seperti telempung renteng, telempung biasa, tartiwi (gitar kecapi awi), bastiwi (bas kecapi awi), saluang, kabasa, suling, rebab, hingga terompet. Modifikasi alat musik modern dengan bahan dasar bambu.

"Semua serba bambu. Tidak hanya alat musiknya. Tempat penyimpanan karinding pun terbuat dari tabung bambu khusus yang diukir," ujar Ajus yang mengaku mengembangkan 'Karinding Nyengsol' ini sejak tahun 2006 lalu.

Dan sekarang kelompok musik perkusi 'Karinding Nyengsol' ini diperkuat 13 orang pemain. Mulai dari Ajus Gusmara, Taufik, Karso dan Ressi Siti Saadah, semuanya pemegang karinding. Kemudian Ato Rahman (celempung), Ujang Rahmat (terompet dan suling), Esa Ganesa (tartiwi), Dadan (kabasa dan saluang), Pandu Radea (bastiwi), Mumu (rebab dan celempung), serta tiga orang vokalis mulai dari Rarah Siti Suhaibah, Azis dan Melqi. "Rarah anak sulung saya yang masih sekolah di Aliyah. Di kelompok ini dua anak saya sudah ikut bergabung, Resi dan kakaknya Rarah," ujar Ajus lagi.

Meski kental tradisi dan etnik, menurut Ajus, kelompok 'Karinding Nyengsol' yang dipimpinnya tidak tabu untuk mengkolaborasikan karinding dengan seni tradisi lainnya seperti reog, calung, maupun bobodoran. Seperti saat tampil menghibur peserta rapat koordinasi KB dan Pemberdayaan Masyarakat tingkat Kabupaten Ciamis di Aula PKK Pendopo Ciamis, Selasa (26/3) lalu. (tribun Jabar/sta)

sumber: TRIBUNNEWS.COM
Sedang mencari bedog atau golok khas buatan Ciamis? Jika ya, baik untuk kebutuhan harian atau sekadar cenderamata, maka saatnya Anda merencanakan sebuah perjalanan ke sentra pembuatan golok tradisional di dusun Kertajaya, Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Ciamis.


Konon, pembuatan golok di Kertajaya Cisontrol dimulai oleh seorang empu bernama Buyut Lasih dan terus berlangsung hingga sekarang secara turun temurun di tempat tersebut. Pembuatan golok sebagai industri rumahan kini dikerjakan para keturunan Buyut Lasih. Jika dulu bedog atau golok diproduksi sebagai perkakas perang, sekarang senjata tajam tersebut menjadi alat rumah tangga sehari-hari.


Pembuatan golok di Kertajaya Cisontrol menggunakan bahan-bahan logam, kayu dan tanduk terpilih dan dikerjakan secara manual. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk menghasilkan golok yang baik dan 'berkarakter'. Keindahan gagang dan sarangka (wadah) golok juga memerlukan sentuhan rasa seni yang terasah.


Bisnis golok warisan leluhur di Dusun Kertajaya Cisontrol kini dikelola oleh unit usaha bernama 'Lentera Remaja'. Lewat situs blognya, usaha ini menawarkan penjualan bedog atau golok dalam kisaran Rp. 220.000 hingga Rp. 250.000 per buahnya.


Berminat memesan golok Cisontrol? Jika tak sempat mengunjungi langsung sentra pembuatan golok (bedog) di lokasinya langsung, Anda dapat mengunjungi websitenya dan menemukan keterangan pemesanan disana.
Tulisan tentang Kampung Kuta, Ciamis, pernah ditampilkan CiamisManis.com pada beberapa waktu yang lalu. Liputan yang cukup mendalam juga pernah ditayangkan oleh Tim Potret Liputan6.com pada tahun 2002 silam. Laporan tersebut sangat berharga untuk menjadi tambahan pengetahuan kita tentang nilai-nilai kearifan lokal di tatar Galuh. Berikut laporannya:

Orang Kuta Bersanding Adat, Merangkul Alam

Keseimbangan antara manusia dan alam kerap tercermin dalam adat istiadat Bangsa Timur. Sayangnya, saat ini, tak banyak masyarakat di Tanah Air yang menjaga nilai-nilai harmonisasi kehidupan tadi. Banyak hutan belantara yang diterjang keserakahan manusia dengan alasan klasik: demi kelangsungan ekonomi. Ironis memang.

Nah, kehidupan warga Kampung Kuta, Ciamis, Jawa Barat, dapat menjadi sebuah contoh kecil. Betapa tidak, mereka umumnya masih mempertahankan "adat karuhun" untuk melestarikan alam sekitar. Makanya tak heran, wilayah yang berlokasi di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, atau sekitar 45 kilometer dari Ciamis ini mendapat anugerah Kalpataru dari pemerintah, awal Juni silam. Anugerah itu diberikan atas jasa warga Kuta yang memelihara hutan lindung seluas 40 hektare.

Bila mengunjungi wilayah tersebut, sepintas tak ada yang istimewa dari Kampung Kuta. Dan seperti halnya kampung lainnya, suasana pagi di Kampung Kuta juga semarak dengan berbagai aktivitas penduduk. Sebagian warga ada yang hendak menuju Pasar Rancah, sebuah pasar kecil dekat wilayah mereka. Untuk itulah, mereka menumpang sebuah truk kecil yang merupakan satu-satunya sarana transportasi ke dunia luar.

Setelah menempuh jarak sekitar 15 kilometer, mereka sampai di Pasar Rancah. Pusat perdagangan ini memang bagaikan urat nadi kehidupan sejumlah desa di Ciamis. Di sinilah, setiap Rabu dan Sabtu, mereka menyalurkan berbagai hasil bumi. Sejumlah hasil industri rumah tangga pun diperjualbelikan. Dari hasil jual beli itulah mereka berharap memperoleh sejumlah uang demi kebutuhan keluarga masing-masing.

Tak terkecuali bagi orang Kuta. Para pedagang asal Kampung Kuta memang terkenal dengan produksi gula aren. Komoditi inilah yang menjadi andalan perekonomian mereka sejak bertahun-tahun silam.


Bagi orang Kuta, menyadap aren telah menjadi satu di antara pekerjaan turun-temurun yang masih dipertahankan hingga kini. Bahkan, untuk menjaga kelangsungan profesi ini, mereka memberlakukan larangan menebang pohon aren yang tumbuh di atas tanah kampungnya.

Alhasil, jumlah pohon aren terus berlipat ganda. Bukan sulap bukanlah sihir, seribu pohon yang tumbuh beberapa tahun silam, kini bertambah tiga kali lipat. Bisa dikatakan, ini bukan pekerjaan yang mudah di zaman sekarang. Kendati demikian, penduduk kampung tetap mengatur penyadapan pohon aren dengan tertib. Buktinya, seribu pohon yang kini telah berproduksi atau menghasilkan cairan nira pun dibagi merata kepada sekitar 400 orang.

Rincinya, masing-masing kepala keluarga memperoleh bagian rata-rata sebanyak tujuh tangkal pohon aren. Sementara sebagian tajuk aren, dibiarkan di tempatnya untuk kelak dijadikan kolang-kaling. Sedangkan tajuk yang ditebang untuk menghasilkan cairan nira dipasangi tabung-tabung bambu. Bersamaan saat penyadap mengambil nira, tabung-tabung itu pun sekaligus diganti selang dua kali sehari.

Setiap kepala keluarga di Kampung Kuta, minimal memperoleh 2,5 kilogram gula aren per hari. Kemudian sang istri memasak aren tersebut. Setelah itu, suami dan istri biasanya bahu-membahu membungkusnya dengan daun aren kering menjadi bonjor-bonjor yang dilepas seharga Rp 6.000 per satuan.

Bonjor-bonjor ini juga kerap dijual kepada sesama warga. Ini dilakukan bila si pembuat gula aren tak mampu menyalurkannya sendiri ke pasar. Tapi, dengan cara inilah mereka menunjukkan ikatan yang kuat satu sama lain dalam upaya mempertahankan hidup dan menjaga tradisi.

Selain produksi gula aren, Kampung Kuta juga terkenal dengan keteguhan penduduknya dalam mempertahankan nilai-nilai yang mereka warisi dari para leluhur. Berdasarkan kisah yang hidup di masyarakat setempat, di Kuta dulu sempat akan didirikan pusat Kerajaan Galuh. Buktinya, terdapat deposit sejumlah material yang memungkinkan untuk kegiatan pembangunan. Antara lain, adanya semen merah dari tanah di Gunung Semen. Serta hamparan kapur seluas 0,25 hektare dan batu soko di Gunung Gede atau Leuweung Ageung.

Konon, Raja Galuh yang mempunyai gagasan membangun pusat kerajaan di Kuta diyakini warga adalah Prabu Ajar Sukaresi. Setelah sang raja berkeliling Kuta, ternyata ia membatalkan rencana tersebut. Alasannya, daerah itu ternyata dikelilingi tebing-tebing. Raja pun berpendapat, pusat pemerintahan tak mungkin akan berkembang bila dikelilingi tebing.

Itulah sebabnya, daerah berlembah yang dikelilingi bukit ini sekarang dinamakan Kuta, sesuai bahasa keseharian di Tatar Sunda. Akhirnya, Prabu Ajar Sukaresi memutuskan Karangkamulyan sebagai gantinya. Buktinya, di sana ditemukan situs yang kini menjadi objek wisata sekaligus daerah singgah.

Setelah rencana pembangunan Kuta batal, datang utusan Kerajaan Cirebon, bernama Raksabumi. Versi lain menyebutkan, kehadiran Raksabumi di sana diutus Raja Galuh untuk memelihara atau menjaga barang peninggalan Sang Raja. Tak lama kemudian, datang lagi utusan bernama Batasela, yang kabarnya keturunan dari Solo, Jawa Tengah.

Sedangkan Raksabumi atau Aki Bumi setiba di daerah Kuta, membangun permukiman di sekitar rawa. Lantaran jiwa kepemimpinannya yang tinggi, Aki Bumi akhirnya ditetapkan sebagai pemimpin atau penjaga Kuta hingga akhir hayatnya. Warga menyebutnya sebagai kuncen Kuta pertama. Kuncen berikutnya, Aki Danu, Aki Maena, Aki Surabangsa, Aki Rasipan dan Aki Maryno, kuncen saat ini.

Sebelum meninggal dan dimakamkan di Cibodas, Aki Bumi telah membangun Kuta. Makanya, hingga kini, warga Kuta sebagai keturunan Aki Bumi yang meninggal tak ada yang dimakamkan di Kuta. Kesemuanya dimakamkan di Cibodas.

Seperti telah diceritakan, tugas Aki Bumi ke Kuta untuk menjaga bekas peninggalan Prabu Ajar Sukaresi. Peninggalan itu, kabarnya berupa sejumlah punduk domas atau tempat pandai besi membuat senjata dan peralatan pembangunan. Juga tempat menyepuh peralatan perang agar memiliki kesaktian.

Tempat-tempat itu bernama Gunung Apu, Gunung Semen, dan Gunung Barang. Sejumlah lokasi tersebut diyakini sebagai persiapan pembangunan kerajaan. Dan semua peninggalan tadi, hingga saat ini, juga diyakini warga Kuta berada di dalam hutan tersebut. Karena itu, mereka hingga sekarang tetap mempertahankan hutan. Tak ada yang berani menebang pohon, bahkan mengambil ranting sekalipun.

Kisah tersebut dibenarkan Ketua Adat Warga Kuta Karman. Menurut Karman, leluhurnya memberi sebuah wasiat. Bunyinya, jika hutan itu dirusak, warga akan mengalami kesulitan air. Selain itu, bencana alam berupa tanah longsor akan menimpa perkampungan Kuta.

Karman menuturkan, Aki Bumi juga menciptakan aturan-aturan yang kini diwarisi penduduk Kampung Kuta. Satu di antaranya adalah aturan bentuk rumah tinggal yang dihuni para warga. Wasiat itu mengharuskan orang Kuta harus tinggal dalam sebuah rumah panggung persegi yang terbuat dari kayu dan beratapkan sirap.

Selain itu, Karman menambahkan, orang Kuta juga diwajibkan memasak dengan menggunakan tungku. Sedangkan rumah warga Kuta umumnya hanya memiliki dua kamar. Sebab, mereka biasanya adalah sebuah keluarga batih atau kecil. Namun, kekeluargaan yang erat di antara sesama penduduk kampung menyebabkan warga cenderung membuat ukuran ruang tamu agak besar. Ini untuk menampung para tetangga yang acapkali datang berkunjung.

Meski pesan-pesan leluhur berusaha dijaga teguh, penduduk Kampung Kuta tetap terbuka pada perubahan dunia. Buktinya, bentuk pintu geser pada rumah asli kini telah berganti. Demikian pula dengan jendela rumah yang diganti kaca. Bahkan, peralatan elektronik bukan lagi sesuatu yang tabu.

Bagi orang Kuta, perubahan adalah hal biasa, asalkan aturan utama tak dilanggar. Seperti mengubah pola dasar rumah atau cara memasak dengan tungku. Soalnya, mereka percaya bila aturan utama dilanggar, Aki Bumi tak segan-segan langsung menegur. Caranya, dengan membidikkan bala bagi si pendosa.

Sedangkan pantangan utama dari Aki Bumi adalah mengusik kawasan Leuweung Gede, hutan keramat tempat ia bersemedi. Makanya tak heran, jika sejak dahulu kawasan seluas 40 hektare ini tak pernah berubah. Di hutan larangan inilah, Karman sebagai Ketua Adat Kampung Kuta yang dipilih warga datang berziarah.

Seperti halnya warga lain, Karman selalu datang memohon restu dari sang leluhur bilamana bermaksud melangsungkan sesuatu. Dan ziarah ini hanya bisa dilakukan setiap Senin dan Jumat. Tentunya dengan diawasi Sang Kuncen, keturunan langsung dari Aki Bumi yang hingga kini tetap menjaga kawasan Leuweung Gede.

Sang Kuncen-lah yang menjadi perantara dialog antara peziarah dan arwah leluhur. Biasanya, dia membakar dupa berupa kemenyan bercampur minyak wangi. Di tengah kepulan dupa tersebut, Sang Kuncen akan turut memintakan restu bagi Karman. Sebab, Ketua Adat Kampung Kuta ini bermaksud membongkar rumah lama dan membangun kembali sebuah rumah baru dengan pola dasar yang sama.

Sebagai syarat memperoleh restu, Karman harus pula membasuh wajahnya di kawah. Ini adalah sebuah mata air di tengah hutan yang dipercaya mampu membuat awet muda. Dia pun harus mencampur air kawah dengan air Sungai Ciasih yang dahulu tempat Aki Bumi mandi saat bersemedi. Kelak, campuran ini harus diberikan kepada seluruh anggota keluarganya.

Karman sendiri sangat bersyukur atas aturan-aturan yang diwariskan Sang Leluhur yang dirasakan sangat mempermudah hidupnya. Contohnya, aturan untuk menjaga kekeluargaan antarpenduduk dan gotong royong. Berkat aturan inilah, Karman tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membangun rumah barunya.

Semangat kekeluargaan orang Kuta memang menjadi modal utama mereka. Terutama saling menutupi kesenjangan antarwarga. Bahkan, mereka secara teratur menyumbangkan sebagian padi hasil panen. Dan dibagikan secara bergiliran setiap bulan. Dengan semangat ini pula, pasangan pengantin baru, Yoyoh dan Rustomo, merasakan berkah yang sama dengan Karman.

Buktinya, para penduduk dengan sukarela membantu membangun blandongan atau panggung kayu tempat acara tabuhan yang memeriahkan hajat mereka. Tabuhan adalah acara musik dari tumbukan lesung dan alu yang diselenggarakan sebagai tanda syukur atas pernikahan mereka.

Dan saat fajar belum menyinari bumi, penduduk Kampung Kuta telah memenuhi rumah pasangan Yoyoh dan Rustomo dengan semangat untuk membantu. Ini adalah sesuatu hal yang kini sudah semakin jarang ditemui di tempat lain.

Para pemain tabuhan pun begitu bersemangat menghentakkan alunya di dalam lesung meski kantuk masih dirasakan. Sesuatu semangat kemanusiaan yang begitu murni layaknya sinar mentari yang mulai menghangati bumi. Sehangat semangat orang Kuta memegang teguh adat warisan leluhur untuk melestarikan alam.(ANS/TIm Potret)

(by CiamisManis.com/ref: Liputan6.com/pic credits: plantamor.com )

Siang itu, pengunjung kawasan objek wisata Situs Karangkamulyan, Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, lebih banyak daripada hari biasanya. Rupanya, selain ramai dikunjungi warga yang hendak munggahan (makan bersama menjelang masuknya bulan puasa), situs Karangkamulyan juga didatangi warga yang tengah menggelar tradisi tahunan Ngikis.

"Ngikis ini merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang yang sudah berlangsung sejak abad ke-17, yang dilaksanakan setiap Senin atau Kamis terakhir menjelang masuknya bulan puasa," ujar Endan Sumarsana (60), kuncen Situs Karangkamulyan, Senin (16/7).

Secara harfiah, kata Endan, tradisi ngikis ini merupakan upacara ritual mengganti pagar yang mengelilingi pangcalikan, batu petilasan yang dipercaya sebagai singgasana raja-raja Kerajaan Galuh Purba.

"Dulu, warga dari setiap dusun yang ada di Desa Karangkamulyan membawa pagar bambu untuk mengganti pagar pangcalikan yang sudah lapuk atau sudah rusak. Bambu tersebut dipasang secara bergotong royong," ujar Endan, yang sudah 34 tahun menjadi kuncen Situs Karangkamulyan.

Warga dari berbagai dusun di Desa Karangkamulyan tersebut tak hanya membawa bambu yang siap dipasang jadi pagar, tetapi juga disertai dengan ibu-ibu yang membawa nasi lengkap dengan lauk- pauknya. Jadi, setelah memasang pagar, digelar makan bersama di pelataran pangcalikan.

Meski sekarang pagar pangcalikan tidak lagi berupa bambu, tapi sudah diganti dengan pagar besi dan cor beton, tradisi Ngikis tetap berlangsung. Tradisi mengganti pagar itu diganti dengan mengganti cat pagar.

Setelah lantuan ayat suci Alquran dan doa bersama, pengecatan pertama sebagai tanda dimulainya ritual Ngikis tersebut dilakukan oleh Wabup Ciamis Drs H Iing Syam Arifin MM, Kepala Keraton Pajajaran Rd Roza R Mintareja, kemudian dilanjutkan oleh Camat dan Muspika Cijeungjing, Kades Karangkamulyan, dan tokoh masyarakat setempat.

Seusai pengecatan pagar pintu masuk secara simbolis tersebut, warga pun saling bersalam-salaman. Kemudian ratusan warga yang sejak semula mengikuti upacara tradisi Ngikis tersebut menutup ritual dengan makan bersama. Menyantap nasi tumpeng atau nasi serta lauk-pauk yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing.

"Setiap tahun saya ikut tradisi ini. Dulu waktu masih kecil ikut orang tua. Tetapi sekarang setelah punya anak, ya ke sininya dengan anak-anak. Ikut ngikis sekalian munggahan," ujar Aisah (30) sembari merangkul kedua anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD sebelum menyantap nasi dan lauk- pauk yang dibawa dari rumah.

"Tradisi ini secara turun-temurun dari orang tua ke anak-anaknya begitu terus berlangsung setiap menjelang masuknya bulan puasa. Ke mana pun warga Karangkamulyan merantau, takkan pernah lupa dengan Ngikis," tutur Endan.

Nilai filosofi yang hendak diwariskan para leluhur Galuh Karangkamulyan lewat tradisi Ngikis ini, kata Endan, adalah mengingatkan anak-cucu agar selalu memagari hati, menjauhkan perbuatan-perbuatan yang bakal membatalkan puasa. Kemudian juga menjaga hati agar selalu jauh dari sifat iri dan dengki serta dari keserakahan. Ketika akan memasuki bulan suci Ramadan, sesama warga saling memaafkan, mengikis dosa-dosa yang pernah diperbuat.

Nama Kerajaan Galuh, kata Endan, berasal dari kata galeuh, yakni hati, sesuatu yang berada di tengah-tengah. Itulah nama kerajaan besar di Tatar Pasundan yang berkuasa pada abad ketujuh, yakni Kerajaan Galuh Purba, yang berpusat di Karangkamulyan, yang berarti tempat yang mulia.

Peninggalan sejarah Kerajaan Galuh tersebut sampai sekarang masih terjaga baik, berupa hutan cagar budaya seluas 25 hektare yang berada di sisi jalan raya Ciamis-Banjar diapit pertemuan Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy.

Tak hanya Pangcalikan, tetapi ada juga Panyandaan, Pamangkonan, Sang Hiyang Bedil, makam Adipati Panaekan, Cikahuripan, Patimuhan, dan sebagainya.

Wakil Bupati Ciamis Drs H Iing Syam Arifin pada sambutannya berharap, tradisi Ngikis yang sudah berlangsung berabad-abad ini selalu terjaga dan jangan sampai terkikis oleh kemajuan zaman.

"Ciamis boleh jadi merupakan daerah di Jabar yang paling banyak memiliki situs dengan tradisi-tradisinya. Maklum Ciamis merupakan daerah peninggalan Kerajaan Galuh mulai dari Galuh Purba, Galuh zaman Hindu-Buddha, sampai Kerajaan Galuh setelah masuknya agama Islam," ujar Iing.

Beberapa tradisi warisan nenek moyang yang terperlihara sampai sekarang, kata Iing, antara lain Ngikis di Karangkamulyan, Nyangku di Panjalu, Nyipuh di Ciomas, Nyuguh di Kampung Adat Kuta, Misalin di situs Salawe Cikawung, Bojongmengger, Merlawu di Situs Susuru Kertabumi, hingga hajat laut di pesisir pakidulan Ciamis. Semua tradisi tersebut berkaitan dengan bulan Maulud atau menjelang puasa.

sumber: tribunjabar

Alhamdulillah, aya ku bagja, kenging oleh-oleh ti Ki Dulur. Ngalangkungan milis urangciamis, anjeuna ngintun artikel anu diserat ku Kang Mustafid ngeunaan Kampung Kuta, salah sawios lembur anu masih nyepeng adat ti karuhun kalawan pengkuh. Sumangga diaos nyalira nya.


Kampung Kuta

Kampung Kuta adalah dusun adat yang masih bertahan di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis. Kampung adat ini dihuni masyarakat yang dilandasi kearifan lokal, dengan memegang budaya pamali (tabu), untuk menjaga keseimbangan alam dan terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat. Salah satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan, sekaligus mempertahankan kelestarian mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka.

Karena penghormatan yang tinggi terhadap hutan, warga Kampung Kuta yang hendak masuk ke kawasan hutan tidak pernah mengenakan alas kaki. Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik.


Secara administratif, Kampung Kuta berada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kecamatan Tambaksari, tepatnya di dalam Desa Karangpaningal. Kampung Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil angkutan umum ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok, dan tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan umum atau ojeg, dengan kondisi jalan serupa.


Upacara Adat Nyuguh

Sesuai warisan leluhur, acara nyuguh itu harus dilakukan di pinggir Sungai Cijolang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jateng. Pernah satu kali acara nyuguh tak dilaksanakan, tiba-tiba seluruh kampung mendapat musibah. Padi yang siap panen rusak parah, sedangkan sejumlah hewan ternak ditemui mati menggelepar. Warga menyakini kerusakan itu terjadi karena "utusan" Padjadjaran itu tidak disuguhi makanan. Alhasil mereka pun mencari makanan sendiri dengan cara merusak kampung. Adapun perjalanan ke Sungai Cijolang sekitar lima kilometer.

Kini, Pak Kuncen pun kembali memulai ritual. Doa kembali dipanjatkan sebelum warga menyantap makanan yang tersedia. Setelah berdoa, seluruh warga kemudian menyantap makanan yang dibawa dari kampung. Makanan khas yang harus ada setiap upacara.

Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu upacara ritual tradisional Adat Kampung Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya.


Link sumber: Blog Kang Mustafid.
Salah sahiji katuangan khas ti Ciamis, boh kanggo tuangeun jalmi atanapi tuangeun lauk (kumargi dijantenkeun eupan), nyaeta THE GALENDO. Di handap ieu artikel anu dicutat ti TribunJabar. Wilujeng tuang Galendo...

BELAJAR dari pengalaman tahun lalu, pengrajin galendo, makanan khas Ciamis terbuat dari kelapa, Mang Endut Rohedi kini menyediakan stok galendo dua kali lipat menghadapi libur panjang Lebaran 2008.

"Tahun lalu kami kami hanya menyediakan stok galendo 1,5 ton. Tetapi pada H+3 sudah habis, sementara pemudik terus berdatangan dan banyak kecele karena tak kebagian. Makanya tahun ini kami menyiagakan stok tiga ton," kata Mang Endut Rohedi kepada Tribun, Senin (29/9).


Selasa, 19 Agustus 2008 | 21:53 WIB

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 saat rombongan masyarakat Panjalu, Kabupaten Ciamis, berjalan kaki menuju Situ Lengkong yang berjarak sekitar 1 kilometer dari Alun-alun Kecamatan Panjalu.

Dipimpin sesepuh warga Panjalu, Atong Tjakradinata, rombongan itu membawa serta ribuan benda pusaka peninggalan leluhur masyarakat Panjalu, Prabu Sanghiang Borosngora. Borosngora dipercaya sebagai penyebar agama Islam pertama di wilayah Panjalu.

Pusaka dibungkus kain dan digendong bak menggendong seorang bayi. Seni gembyung yang dimainkan sejumlah warga mengiringi perjalanan rombongan. Salah satu pusaka ialah pedang pemberian Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW. Pedang itu diberikan saat Borosngora ke Mekkah. Rombongan pembawa pusaka yang berziarah ke makam Hariang Kencana, putra Prabu Sanghiang Borosngora, di Pulau Nusa Gede yang berada di tengah Situ Lengkong.

Kegiatan itu dilakukan setahun sekali pada Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud, dan dinamai upacara adat nyangku. Upacara nyangku di Ciamis mirip dengan upacara panjang jimat di Cirebon.

Pada upacara ini pusaka dibawa serta dalam ziarah ke makam leluhur Panjalu di Nusa Gede atau Nusalarang, sebuah pulau di tengah situ yang masih ditumbuhi vegetasi hutan primer yang dibiarkan berkembang alami.

Seusai ziarah, pusaka dibawa menuju alun-alun untuk dibersihkan di depan masyarakat. Setelah itu, pusaka dibawa kembali ke Bumi Alit, sebuah bangunan tempat menyimpan pusaka leluhur Panjalu dan ribuan pusaka milik warga Panjalu.

Tahun ini nyangku dilakukan pada Senin (31/3). Saat itu warga Panjalu dari berbagai daerah datang melihat pusaka leluhurnya yang disimpan di Bumi Alit diperlihatkan dan dicuci. Ini merupakan kesempatan langka.

Perekat persaudaraan

Untuk menuju Nusa Gede rombongan menaiki perahu yang diiringi gembyung, sejenis kesenian rebana. Yang diperbolehkan sebagai pembawa pusaka hanyalah kaum pria keturunan Prabu Borosngora. Mereka pula yang berhak masuk ke bangunan makam.

Usai berziarah rombongan kemudian berkumpul di alun-alun kecamatan. Ribuan pasang mata sejak pagi sudah menanti kedatangan iring-iringan pusaka di alun-alun. Mereka dengan sabar menunggu prosesi pencucian pusaka berlangsung.

Di alun-alun itulah sejumlah pusaka peninggalan leluhur Panjalu dan pusaka milik masyarakat yang dititipkan diperlihatkan dan dicuci di depan masyarakat. Selain dicuci, pembungkus pusaka pun diganti. Pencucian pusaka tersebut harus selesai pada tengah hari. Selepas itu, pusaka dibawa lagi ke Bumi Alit untuk disimpan. Pencucian dilakukan sesuai pesan Borosngora kepada keturunannya. Katanya, jika mereka ingin melihat dirinya, tidak perlu mencari di mana di berada, tetapi hanya dengan melihat benda pusaka peninggalannya.

Sesepuh Panjalu, Atong Tjakradinata, yang juga Ketua Yayasan Borosngora, mengatakan, "Nyangku berasal dari bahasa Arab yaitu yanko, berarti membersihkan. Yang dibersihkan pada upacara itu ialah pusaka Prabu Borosngora pemberian Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW. Alangkah baiknya jika orang Panjalu membersihkan pula jiwanya."

Edi Hernawan, putra Atong, mengatakan, nyangku telah menjadi momentum menyambung kembali tali kekeluargaan masyarakat Panjalu. Pada saat nyangku masyarakat Panjalu yang telah tersebar di mana pun pasti datang. Bahkan, kegiatan tersebut telah menjadi momentum silaturahim sesama warga Panjalu selain saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Selama ini nyangku dilakukan sehari. Namun, mulai tahun 2009, kegiatan itu akan dilakukan lima hari berturut-turut sehingga akan mendongkrak tingkat kunjungan wisata ke Situ Lengkong Panjalu. Dengan demikian, pendapatan asli daerah dari retribusi wisata diharapkan akan naik.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Ijudin Budhyana, nyangku akan dimasukkan dalam kalender peristiwa kebudayaan. "Kekayaan tradisi ini bisa menjadi daya tarik wisata," ujarnya.

Adhitya Ramadhan - Kompas.com
link artikel : http://www.kompas.com.