Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Ayam Sentul adalah ayam lokal khas Ciamis yang memiliki berbagai keunggulan, meskipun sayangnya sempat disebut kurang diperhatikan oleh pemerintah kabupaten Ciamis, sehingga diberitakan tvberita.com.

Kini, proses sertifikasi yang difasilitasi pemprov Jabar telah memberi angin segar bagi upaya pelestarian dan pengembangannya. Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Kabupaten Ciamis Nur Muttaqin mengemukakan bahwa Pemprov Jabar sudah memberi sokongan dana untuk sertifikasi ayam sentul.

"Tadinya sertifikasi akan keluar 6 November 2012. Akan tetapi, beberapa syarat yang kurang. Dengan adanya sertifikasi, ayam sentul menjadi ayam khas Ciamis, daerah lain tidak lagi bisa mengklaimnya," katanya kepada bisnis.com. Contoh ayam khas yang sudah disertifikasi adalah Ayam Pelung dari Cianjur.

Ayam Sentul pada mulanya dipelihara sebagai ayam aduan, bahkan konon merupakan keturunan dari Si Jelug, ayam jago aduan milik Ciung Wanara (kisahnya dapat dibaca pada Kisah Asal Muasal Ayam Sentul). Sekarang ayam tersebut banyak dipelihara sebagai ayam pedaging dan petelur.

Literatur peternakan yang dikutip oleh duwiszone menyebut ayam sentul terdiri dari lima varietas berdasarkan warna bulunya. Kelima varietas tersebut yakni Sentul Kelabu (berwarna abu-abu), Sentul Geni (berwarna abu-abu kemerahan), Sentul Jambe (berwarna merah jingga), Sentul Batu (berwarna abu-abu keputihan), Sentul Debu (berwarna debu), dan Sentul Emas (berwarna abu-abu kekuningan). Warna ayam sentul cukup menarik, polanya mirip sisik naga.

Sepintas Ayam Sentul tidak berbeda dengan ayam kampung biasa, tetapi ia memiliki beberapa kelebihan. Edi Yana, seorang peternak, menyebut keunggulan Ayam Sentul diantaranya:
  1. Pemeliharaan lebih mudah
  2. Warna bulu menyerupai ayam hias
  3. Lebih tahan penyakit
  4. Rasa daging dipercaya lebih gurih dan kenyal
  5. Bertelur lebih banyak (18-19 butir) daripada ayam kampung biasa (13-14 butir)
  6. Cepat diserap pasar, baik untuk para peternak rakyat
Salah satu contoh peternak yang sukses mengembangakan Ayam Sentul adalah pusat pembibitan UNGGUL, yang justru berlokasi di Caringin Bogor. Pengelolanya, Ade M Zulkarnain, Ketua Umum Himpunan Peternak Ayam Lokal Indonesia, mengklaim sudah mampu memproduksi anak (DOC) Ayam Sentul hingga 30.000 ekor per bulan. Padahal katanya, "Di asalnya, Ciamis, populasi Sentul tidak lebih 5000 ekor."


Ia melalui akun twitternya (@ade_mz) menyatakan sudah berhasil mengirim bibit Ayam Sentul ke Merauke, Minahasa, Kutai Kartanegara, dan Sulsel. Pertumbuhan rata-rata untuk bobot 1 kilogram dicapai dalam waktu 70-75 hari. Harga DOC-nya Rp. 5.800/ekor. Harga jualnya di tingkat peternak Rp. 28.000/kg.

Nah, apakah para pemangku kebijakan yang berkepentingan, dan warga Ciamis tentunya, akan semakin tertarik dan berkomitmen untuk mengembangakan potensi unggas lokal unggul asli Tatar Galuh ini? Semoga demikian.
Sedang mencari bedog atau golok khas buatan Ciamis? Jika ya, baik untuk kebutuhan harian atau sekadar cenderamata, maka saatnya Anda merencanakan sebuah perjalanan ke sentra pembuatan golok tradisional di dusun Kertajaya, Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Ciamis.


Konon, pembuatan golok di Kertajaya Cisontrol dimulai oleh seorang empu bernama Buyut Lasih dan terus berlangsung hingga sekarang secara turun temurun di tempat tersebut. Pembuatan golok sebagai industri rumahan kini dikerjakan para keturunan Buyut Lasih. Jika dulu bedog atau golok diproduksi sebagai perkakas perang, sekarang senjata tajam tersebut menjadi alat rumah tangga sehari-hari.


Pembuatan golok di Kertajaya Cisontrol menggunakan bahan-bahan logam, kayu dan tanduk terpilih dan dikerjakan secara manual. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk menghasilkan golok yang baik dan 'berkarakter'. Keindahan gagang dan sarangka (wadah) golok juga memerlukan sentuhan rasa seni yang terasah.


Bisnis golok warisan leluhur di Dusun Kertajaya Cisontrol kini dikelola oleh unit usaha bernama 'Lentera Remaja'. Lewat situs blognya, usaha ini menawarkan penjualan bedog atau golok dalam kisaran Rp. 220.000 hingga Rp. 250.000 per buahnya.


Berminat memesan golok Cisontrol? Jika tak sempat mengunjungi langsung sentra pembuatan golok (bedog) di lokasinya langsung, Anda dapat mengunjungi websitenya dan menemukan keterangan pemesanan disana.
Profesi Iswanto Tirtawijaya terbilang unik. Warga Salawe Desa Cimaragas Ciamis, yang letaknya berdekatan dengan Sungai Citanduy, menjalani pekerjaannya sebagai pengepul ikan bebeong yang dipancing penduduk setempat dari sungai tersebut.

Aktivitas penduduk setempat untuk menangkap ikan di Sungai Citanduy selama bulan puasa sudah merupakan tradisi puluhan tahun. Iswanto pada bulan puasa tahun lalu dapat mengumpulkan 5 kuintal ikan bebeong, tatapi sayang di tahun ini baru dapat meraih hitungan beberapa kilogram saja.

Edod (36) warga Cimaragas mengaku mengisi waktu ngabuburit dengan 'ngecrik balar' atau menjala ikan balar, sejenis ikan khas sungai Citanduy. Penduduk lain ada yang memilih menyetrum ikan, marak memasang badodon atau memancing. Ateng (30) mengaku lebih menikmati tantangan memancing, dan kadang ia mendapatkan ikan bebeong yang beratnya rata-rata mencapai 1,5 kg.

Iswanto menuturkan kepada kabar-priangan.com bahwa ikan bebeong semakin sulit didapat, padahal peminat dari dalam dan luar Ciamis pasti menyerap habis ikan tersebut. Ikan yang dibelinya seharga Rp. 25.000 per kg dapat dijualnya kembali dengan harga Rp. 60.000 per kg untuk penampung dari Jakarta. Dirinya yakin bahwa terdapat peluang besar jika ikan bebeong dapat dibudidayakan.


Ikan bebeong (hemibragus nemurus) menurut laman blog Soni Magelang, seorang praktisi memancing, biasa disebut juga sebagai ikan beong atau baung. Masyarakat sekitar Kali Serayu memanggil ikan ini sebagai iwak baceman. Ikan bebeong dapat mencapai berat hingga 10 kg.

Ikan yang rasa dagingnya dikenal sangat enak ini, melebihi rasa daging lele, menyukai umpan pancing yang berbau tajam dan amis. Pemancing di Kalimantan konon bahkan menggunakan sabun sebagai umpan.

Potensi nilai ekonomis ikan bebeong dari sungai Citanduy Ciamis sepatutnya menjadi tantangan bagi praktisi perikanan untuk merintis pembudidayaan ikan langka tersebut di masa depan.

Kegiatan menyulam busana muslimah menjadi ajang usaha sambilan kalangan ibu rumah tangga dan remaja di Dusun Kubangsari Desa Tanjungsari Kecamatan Rajadesa, sambil mengisi waktu di bulan suci Ramadhan.

Eti (30), penyulam asal Dusun Kubangsari, Minggu (22/7), mengatakan, Bulan Suci Ramadhan sering mendatangkan berkah bagi para penyulam busana muslim atau perlengkapan shalat muslimah.

Sebab, kata Eti, pada umumnya ibu-ibu rumah tangga disana banyak yang mempunyai keahlian menyulam pakaian. Meski dia akui, kebanyakan ibu-ibu tersebut mendapat order dari pengusaha bordir asal Desa Bayasari Kec. Rajadesa .

Namun begitu, lanjut Eti, bagi warga di Tanjungsari kegiatan menyulam busana/ pakaian muslimah menjadi usaha yang bisa diandalkan untuk menyambung kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

Di tempat yang sama, Yoyoh (25), mengatakan, pada waktu bulan puasa, order sulaman busana/ pakaian muslimah menjadi lebih banyak, ketimbang dengan order sulaman saat hari-hari biasa.

Menurut Yoyoh, permintaan juga omset busana muslim dengan hiasan bordir atau sulam di bulan suci Ramadhan meingkat tajam. Kadangkala, karena saking banyaknya permintaan, dia sering harus menolak order menyulam.

“Paling juga dilempar kepada orang lain. Soalnya kapasitas produksi saya dalam sehari terbatas,” ungkapnya.

Yoyoh menambahkan, dalam sehari paling banter dia haya bisa menyelesaikan sulaman dua potong busana muslim. Itupun, kata dia, seandainya pengerjaannya tidak terganggu dengan kegiatan yang lain.

“Sulaman busana yang sudah jadi, bisanya diambil oleh pengusaha empat hari sekali,” katanya.

Menurut informasi warga, kegiatan menyulam atau membordir pakaian/ busana muslim di Dusun Kubangsari tidak hanya dilakukan kalangan ibu-ibu pada bulan suci Ramadhan saja, melainkan dilakukan juga pada saat hari-hari biasa.

Bahkan, tidak hanya kaum ibu, sebagian kalangan bapak (laki-laki), juga mengandalkan pendapatan dari usaha tersebut. Selain busana muslim, produk desain bordir dan sulam warga di Kubangsari, meliputi kebaya, selendang, seprai pengantin, alas meja, dan lainnya.

sumber: harapanrakyat.com

Santri di Pondok Pesantren Banyulana, di Kampung Nangewer, Desa Jelat, Kecamatan Baregbeg mengembangkan usaha budi daya jamur merang yang mereka sebut jamur kardus. Sejak enam bulan lalu beberapa santri terus mengembangkan usaha budi daya jamur kardus tersebut.

Lahan yang dipakai pun tidak begitu luas, namun hanya memanfaatkan ruang kosong di lingkungan pesantren. Bahkan budi daya dilakukan diatas pelapon kobong.

"Satu kali panen kita bisa menghasilkan jamur sebanyak 15 kilo gram, panen setiap tiga hari," kata Asep Suyudi santri yang mengelola budi daya jamur kardus kemarin.

Jamur hasil budi daya, Ia jual sendiri ke masyarakat sekitar pesantren dengan harga Rp 18.000/kg, juga di jual ke Pasar Ciamis dengan harga yang sama.

Pimpinan Pondok Pesantren Banyulana, Darif Haidarifan mengatakan pengembangan budi daya jamur tersebut berawal dari banyaknya kardus bekas "adrahi" santri kiriman dari orang tuanya di kampung.

Otaknya berputar bagaimana caranya memanfaatkan dus-dus bekas bagi pengembangan usaha di Pesantren.

Ide pun muncul saat Bapak dua anak itu melintas tempat pengelolaan sampah dan menemukan mesin pengolahan kompos.

"Dari situ muncul ide untuk mengembangan budi daya jamur dengan media kardus bekas. Saat dicoba Alhamdullilah berhasil dan terus kita kembangkan sampai sekarang," katanya.

Selain karudus dan sisa-sisa makanan dari adrahi, media lain yang dipakai kangkung, buncis, bonggol pisang dan arang yang diaduk menjadi satu. kemudian bibit jamur ditaburkan ke media tersebut.

Tiga hari kemudian jamur bisa dipanen, dan terus menerus selama beberapa minggu sampai jamur tidak tumbuh lagi.

"Masa istirahatnya setelah tanam satu minggu," kata Darif.

Usaha budi daya jamur sengaja dikembangkan di pesantren sebagai bekal santri setelah tidak mondok lagi di Pesantren. Selain Jamur budi daya lain juga dikembangkan di pesantren tersebut.

"Ilmu mah teu berurat mamawa, kami sadar setelah keluar pesantren tidak semua santri akan menjadi kiai, hanya 30 persen saja yang memiliki pondok pesantren selebihnya tidak," katanya.

sumber: kabar-priangan.com

Sadar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan, para petani yang tergabung di kelompok Tani Makmur, Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu tetap konsisten menjaga kelestarian hutan rakyat.

Masyarakat saat ini sudah tidak lagi berani menebang pohon tegakan untuk kepentingan perluasan areal pertanian. Mereka lebih memilih untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi tanaman tegakan.

"Menanam cabe pun kita lakukan dibawah pohon tegakan, petani lain banyak yang mencibir karena cabe nutuh di lahan terbuka, tapi nyatanya kami berhasil, meskipun menanam di bawah tegakan pohon," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Makmur di Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu, Emod Suganda Kamis (24/5).

Emod sudah beberapa kali menanam cabe merah di lokasi hutan yang rimbun dengan pohon kayu tegak, namun hasilnya sangat memusakan.

"Kami lebih memilih melakukan uji coba, apa yang orang lain tidak dilakukan kami coba lakukan," tegasnya.

Masyarakat kata Emod merasa perlu untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan kaki gunung Sawal. Pasalnya jika kawasan tersebut dibiarkan gundul dan hanya dijadikan lahan pertanian dikhawatirkan akan menimbulkan bencana di daerah Panjalu.

Maman Sulaeman sekertaris Gapoktan Tani Makmur mengakui apa yang dilakukan kelompoknya dalam melestarikan hutan rakyat banyak mendapat sambutan dari pihak lain.

Bahkan belakangan ini Gapoktan Tani Makmur dijadikan pelopor dibidang pelestarian kawasan hutan rakyat di Jawa Barat. Ada sekitar 99 hektar kawasan hutan yang pada tahun 2000 lalu rusak kini sudah kembali lestari. Manfaatnya sudah mulai dirasakan masyarakat Panjalu.

"Kemarau sembilan bulan pun masyarakat di Panjalu tidak akan mengalami kesulitan air, karena hutanya lestari," katanya.

Upaya menyadarkan masyarakat untuk ikut melestarikan kawasan kaki gunung sawal yang sudah menjadi tanah milik masyarakat tidak mudah. Butuh kerja keras agar semua masyarakat peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Hasilnya kini masyarakat tidak ada lagi ada yang berani menebang pohon kayu tegakan di areal kebunnya. Mereka memilih menanami tanaman produktif holtikultura dengan cara menyesuaikan dengan tanaman tegakan.

Atas kepedulianya terhadap pelestarian kawasan hutan rakyat, Kelompok tersebut diganjar penghargaan oleh pemerintah Kabupaten Ciamis pada tahun 2010 sebagai kelompok tani hutan terbaik.

sumber: kabar-priangan.com

Apa yang dilakukan Udung (43) warga Panyingkiran, Ciamis bukan tanpa resiko. Namun demi kelangsungan hidup dan keselamatan masyarakat banyak pekerjaan berat itu dilakoninya.

Pekerja harian lepas itu bertanggungjawab terhadap kondisi jembatan Cirahong yang menghubungkan Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Tiap tahun ia diwajibkan untuk memeriksa kondisi jembatan. Ia pun rela bergelantungan baik di bantalan rel kereta api atau di bawah jalur jalan kendaraan, untuk memeriksa kondisi baja antar pangkal jembatan.

Kebutuhan untuk tetap melangsungkan hidup menjadi modal utama untuk tetap melakoni pekerjaan berat tersebut. Pekerjaan yang beresiko tinggi itu Udung geluti sejak tahun 1991 silam. Bukan hanya jembatan Cirahong yang menjadi tanggungjawabnya, tetapi semua jembatan kereta api dari Kota Banjar hingga Bandung.

Dengan berbekal seutas tali pengaman, yang diikatkan di pinggang, Udung bergelantungan untuk memeriksa kondisi baja antar pangkal di dua tiang jembatan.

Seperti yang terlihat pada Selasa (15/5), Udung bergelantungan untuk mengecat bantalan tiang jembatan bagian atas. Hal itu dilakukan setelah sebelumnya memeriksa kondisi baja penyangga jembatan.

Untuk kemanan saat bekerja ia memilih menggunakan celana pendek, karena kalau memakai celana panjang tidak leluasa bergerak. Pengecatan sendiri dilakukan dengan cara 'ngadapang' di bahu bantalan atau bergelantungan.

"Untuk kondisi jembatan masih stabil belum ada yang rubah, kalau ada yang mencurigakan sedikit saja saya langsung laporkan ke Perusahaan Kereta Api," katanya.

Untuk pemeliharaan rutin tahunan ia dibantu rekan kerjanya Usman (45) warga Cihaur Manonjaya. Hanya saja tugas Usman tidak dibagian atas melainkan dibagian bawah saja.

"Ingis lalewang teu sanggem kedah di luhur mah," kata Usman yang mengaku baru pertama kali ikut bekerja bersama Udung. Ia mengaku sudah terbiasa bergelantungan diatas jembatan Cirahong, Bukan hanya mengecat bagian bahu jembatannya saja, tetapi juga mengecat baja jembatan.

Selama bergelantungan Udung mengaku tidak pernah merasa 'palaur' tetapi biasa saja, termasuk ia pernah berada di atas jembatan saat kereta api melintas. Memilih tetap di atas karena tanggung sedang bekerja. Mereka rela dibayar sebesar Rp 50 ribu untuk satu hari kerja.

sumber: kabar-priangan.com

"Kumaha carana ngakal asal ngakeul, teu usaha mah dosa dan boga bojo," kalimat itu diucapkan Oyo Yahya (80) bengkel payung kahot warga Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Di usianya yang sudah senja, Oyo masih kuat berjalan mengelilingi perkampungan di wilayah Ciamis. Daerah mana di wilayah Ciamis yang belum terinjak kakinya.

Barat, Utara, Timur dan selatan sudaah menjadi "jalan ka kebon" baginya. Daerah Ciamis menjadi ladang penghidupan dirinya hingga kuat bertahan sampai sekarang.

Sejak tahun 1982 silam, Oyo sudah bergelut di bidang bengkel payung. Profesi yang tidak banyak digeluti banyak orang itu diliriknya. Hasilnya lumayan, bisa mendulang rupiah meskipun dalam jumlah kecil.

"Alhamdullilah aya wae rejeki mah, asal kita mapahna," ujarnya optimis.

Saat ini dua hari sekali Oyo mendatangi daerah-daerah yang sudah menjadi langganannya di Ciamis. Tidak butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan uang agar dapur tetap ngebul. Rp 50 ribu dalam sehari bisa dikantonginya.

Satu kali melangkah, ibu-ibu yang memiliki payung rusak langsung mengerubutinya. "Moal ka gawean asal daek leumpangna," tuturnya.

Mulai Sindangkasih, Cikoneng bahkan Ke Parigi di wilayah Selatan Ciamis "ka aprak" olehnya. Upah "ngomean" payung rusak tidak besar, antara Rp 2000 hingga paling banter Rp 10.000, namun ketika digeluti dengan tekun, Oyo tidak pernah mengalami kekurangan makan. Bahkan dirinya bisa membeli tanah dan menyekolahkan anaknya hingga sekolah menengah.

Semangat kuat untuk member nafkah keluarga menjadi landasan utama bapak enam anak dalam mengarungi hidup. Bahkan diusinya yang sudah uzur Oyo masih tetap kuat menyusuri perkampungan di Ciamis.

Usaha sebagai ahli perbaikan payung sengaja di pilih karena usaha tersebut cukup menjanjikan. Sekarang ini semua warga pasti memiliki payung, tidak mungkin payung akan kuat selamanya lambat laun pasti rusak. Peluang itu ditangkapnya, apalagi orang yang mau melirik profesi tersebut nyaris tidak ada.

Di wilayah Ciamis, kemungkinan besar hanya dirinya, karena setiap hari selalu banyak payung yang harus diperbaiki. "Moal kagawean ngomean payung mah, asal daekna," tegasnya.

Kenapa daerah Ciamis dijadikan ladang usaha, diakui kakek lima cucu tersebut, karakter orang Ciamis berbeda jauh dengan orang Tasik. "Di Ciamis mah balageur, tara nawar, beda jeung Tasik loba nawis," tuturnya.

Bukan hanya mencari uang semata, menjadi bengkel payung itu bisa memanjangkan silaturahmi. Banyak saudara itulah yang dirasakan Oyo saat ini. Ada uang tidak ada uang ketika ada payung warga yang harus diperbaiki, ia tetap perbaiki. Silaturahmi lebih dari segalanya bagi Oyo, karena dengan silaturahmi rejeki datang.

sumber: kabar-priangan.com
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Sudah menjadi tradisi, banyak Muslimin yang melakukan mudik ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran. Biasanya, mudik lebaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena banyak hal yang harus dipenuhi dari mulai transportasi sampai pada hal kecil sekali pun. Itu kadang kala membuat anggaran mudik menjadi tidak terkontrol dan uang di rekening nyaris hampir habis.
CIAMIS, TRIBUN - Sesepuh Jawa Barat yang juga Ketua Pembina Unigal Ciamis, H Solihin GP, mengingatkan para wisudawan jangan bercita-cita menjadi pejabat ingin cepat kaya.

"Apalagi menjadi kaya dengan cara-cara yang tidak halal. Dengan sikap yang tidak peduli kepada rakyat yang semakin miskin dan senggsara," ujar Solihin GP saat menyampaikan sambutannya di hadapan 934 wisudawan Unigal di Gedung Dakwah Islamic Center, Kompleks Perkantoran Kertasari, Ciamis, Sabtu (9/4).
Sanes mung gurame wae, ayeuna mah potensi perlaukan di Ciamis tiasa dihangkeutkeun ku budidaya lauk patin geuningan. Mangga aos beritana, sok sanaos tos kakantun saminggon kapengker, tapi manawi wae atuh janten inspirasi para urang Ciamis anu aya di pangumbaraan kangge melak lauk di lemburna sewang-sewangan :)

Ciamis Bisa Kembangkan Ikan Patin

CIAMIS, (PRLM).- Sepuluh kelompok tani budidaya ikan di Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis mendapatkan bantuan benih ikan patin (Pangasius hypothalmus). Pengembangan ikan patin mulai digalakkan di wilayah tatar Galuh Ciamis, karena selain mudah dalam pemeliharaan juga memiliki nilai ekeonomis tinggi.
CIAMIS, (PRLM).- Meletusnya Gunung Merapi Yogyakarta yang menghancurkan lahan pertanian, ternyata membawa berkah tersendiri bagi petani cabai di tatar Galuh Ciamis. Belakangan ini sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Cina, termasuk Jerman mulai melirik komoditi hasil pertanian tersebut dari Ciamis.

Hanya saja akibat terbatasnya produksi, Ciamis tidak mampu memenuhi seluruh pesanan. Saat ini maksimal produksi cabai yang dihasilkan dari Ciamis hanya sebanyak lima ton per minggu. Hasil tersebut tidak seluruhnya diekspor, akan tetapi juga untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan regional Jawa Barat.

Bari jeung leumpangna cingked, Amin Hidayat (30 taunan), warga Desa Sadewata, Kacamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat, ngadagangkeun sapu jeung kamoceng ngaliwatan Jalan Tamansari, Kota Bandung, Salasa (6/1).

Suku Amin cacad sanggeus ngalaman katabrak motor sataun katukang. Kusabab kudu nanggung-jawab nganapkahan kulawarga, bari jeung hanjakalna kurang modal tur minim kabisa, akhirna manehna kapaksa terus ngurilingan kota Bandung balantik sapu jeung kamoceng.

Unggal poe Amin mapay-mapay jalan di Kota Bandung, malipir sisi jalan supaya teu katabrak deui. Lolobana para supir -anu mobilna harade- teu malire kana nasibna, sok komo anu numpak motor mah kalahka weh sering nyarekan manehna.

Amin satia ngaliwatan gang-gang di sabudeureun kota Bandung anu heurin ku tangtung, pikeun natawarkeun daganganana. Tapi teu loba anu meuli barang daganganana kusabab pasar modern anu ngawujud trade center, mal, jeung plaza geus sayaga nedunan kabutuhan warga Bandung ku cara nyiapkeun produk-produk sarupa jeung barang dagangan Amin, bari hargana leuwih murah!

Kacida beuratna perjoangan hirup Amin, tapi dalah dikumaha deui atuh. Ukur nguriling ngajual sapu jeung kamoceng anu bisa dileukeunan ku manehna...

ditarjamahkeun tur dicutat ti: KOMPAS
Taun ieu kang Admin teu tiasa wangsul dina raraga lebaran haji ka Ciamis. Bari nambaan rasa sono ka kota Ciamis, cikan urang guar salah sahiji fragmen kahirupan di alun-alun kota Ciamis.
Sadaya oge tangtos uninga perkawis deldom nya? Mangga diaos, manawi salira kalangkung teu kantos maos artikel hampang ti Tribunjabar. Linkna didieu, mangga bilih bade dibuka.

Yudi Kusir Deldom di Taman Raflesia Ciamis
Penghasilannya Melebihi Gaji PNS Golongan II

SAAT remaja seusianya asyik naik sepeda motor keliling kota, main bola, nongkrong atau sekedar berkirim SMS lewat ponsel, Yudi (14) memeras keringat memutari keliling Taman Raflesia Alun Alun Ciamis. Yudi berkeliling taman kebanggaan warga Tatar Galuh Ciamis tersebut menjalankan profesinya sebagai kusir deldom delman domba.

Yudi adalah seorang dari empat kusir deldom yang biasa mangkal di Taman Raflesia setiap sore. Dan Yudi adalah satu satunya kusir deldom anak anak, karena tiga lainnya adalah pria dewasa.