Showing posts with label sasakala. Show all posts
Showing posts with label sasakala. Show all posts
Nama Embah Gandul, Uyut Satem dan Uyut Karama mungkin belum terlalu familiar bagi sebagian masyarakat Ciamis, padahal ketiganya adalah sebagian nama legendaris yang masih membekas dalam memori penduduk Mangunjaya, Lakbok Selatan.

Beberapa penduduk Mangunjaya menuturkan kepada kabar-priangan.com, bahwa dulu di daerah mereka terdapat sejumlah warga berilmu tinggi. Salah satunya adalah Embah Gandul Manggala sebagai leluhur Dusun Gimbal, juga beberapa nama lainnya yang disegani.

Konon, jika mereka sedang menjala ikan di Sungai Citanduy atau Ciseel dan tiba-tiba jalanya tersangkut batu atau benda lainnya di dalam lubuk, maka jala itu tidak ditarik ke darat sebagaimana lazimnya, namun mereka perbaiki sambil menyelam.

Sungai Ciseel (foto: ciamiskini.com)
"Bahkan jika menyelam di malam hari, mereka membawa lentera. Tapi ketika kembali ke darat, lentera itu masih tetap menyala. Itu cerita turun-temurun di daerah kami," kata Sariman, warga setempat.

Selain Embah Gandul, terdapat pula nama Uyut Satem dan Uyut Karama. Dua nama ini disebut-sebut sebagai leluhur yang berilmu tinggi. Bahkan ada sejumlah warga yang percaya bahwa bagi anak cucu Uyut Satem dan Uyut Karama, jika akan menyeberang Su­ngai Citanduy atau Sungai Ciseel, cukup menepuk permukaan sungai sambil me­nyebut nama leluhurnya.

Selanjutnya, meski arus sungai sangat deras, seketika akan tampak benda seperti 'catang' di bawah permukaan air yang siap menyeberangkan orang tersebut. Syaratnya, selama menyeberang sungai, tidak boleh mengenakan payung atau menunduk.

Nama Satem diabadikan menjadi nama lubuk atau leuwi yang terdapat pada alur kali mati Sungai Ciseel di daerah Mangunjaya, dan disebut Kedung Satem. Kali mati di daerah tersebut adalah dampak pelurusan alur sungai oleh Proyek Citanduy (Procit) untuk menjinakkan petaka banjir melalui mega proyek yang didanai APBN dan bantuan luar negeri. Salah satu pekerjaan Procit adalah Bendung Manganti, namun masyarakat menyebutnya Bendung Balibar.

Nah, pernahkah Anda mendengar kisah orang-orang tua dulu yang memiliki kesaktian seperti Embah Gandul, Uyut Satem dan Uyut Karama?
Masyarakat Ciamis pantas berbangga karena Ayam Sentul sudah dalam proses sertifikasi agar diakui sebagai ternak lokal dan khas Ciamis, sehingga tidak dapat diklaim oleh daerah lain. Nilai penting keberadaan Ayam Sentul sepatutnya menggugah publik Ciamis untuk semakin mengenal, mencintai dan ikut serta dalam pelestarian ayam tersebut.

foto: Duwi's Zone
Bagaimana sebetulnya kisah asal muasal Ayam Sentul? Sebuah tulisan yang diterbitkan oleh Tabloid Sinar Tani mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut. Kisah yang berdasar pada dongeng saur sepuh tersebut bermula dengan keberadaan sebuah kerajaan jaman lampau yang melegenda hingga kini.

Kerajaan Galuh merupakan sebuah monarki yang pernah ada di daerah Ciamis (Jawa Barat). Syahdan diceritakan, suatu waktu ada seorang bayi yang dibuang ketika baru saja dilahirkan. Bayi tersebut -kelak dikenal dengan nama Ciung Wanara, merupakan anak dari hasil perkawinan Raja Galuh dengan Naganingrum.

Sang bayi dihanyutkan ke sungai Citanduy karena dianggap bukan putra permaisuri dari hasil hubungan dengan Bramawijaya, suaminya (Raja Galuh yang sah). Saat bayi tersebut dihanyutkan, ia dibekali 2 butir telur ayam dalam perahunya.

Selanjutnya bayi tersebut ditemukan oleh pasangan kakek dan nenek Balangantrang. Sambil mengurus sang bayi, telur ayam tadi dieramkan di daerah Nagawiru (Ciamis sekarang). Ayam tersebut kemudian menetas dan dipelihara oleh kakek-nenek tadi sampai besar.

Pasangan ayam tersebut kemudian beranak pinak sampai suatu saat muncul ayam Sentul jantan dengan warna bulu abu-abu atau 'Jalak Harupat' dalam salah satu keturunannya. Nama 'Sentul' sendiri diambil dari buah berwarna abu-abu kekuning-kuningan, yaitu buah kecapi yang di daerah Parahyangan terkenal dengan sebutan buah Sentul.

Ayam tersebut sangat disayang oleh Ciung Wanara dan diberi nama Si Jelug. Dalam kisah selanjutnya, Si Jelug disebutkan selalu memenangkan kontes ketangkasan adu ayam. Ketika Ciung Wanara mengikutkan Si Jelug dalam kontes ketangkasan, berhadapan dengan ayam para bangsawan Tatar Galuh, ayam tersebut tidak pernah kalah. Hal ini menarik perhatian Raja Galuh untuk menantang tanding dengan ayam aduan miliknya.

Kontes adu ayam bergengsi ini disepakati dengan menjadikan sebagian wilayah kerajaan Galuh sebagai taruhan. Jika ayam milik Raja Galuh dikalahkan oleh Si Jelug maka wilayah tersebut akan diberikan kepada Ciung Wanara. Ayam milik raja ternyata kalah, sehingga sebagian wilayah Galuh kemudaian menjadi berada dibawah kekuasaan Ciung Wanara.
Cerita asal-usul nama Kawali berkaitan dengan kisah Ciung Wanara dan Kerajaan Galuh yang dimuat dalam sumber naskah maupun tradisi lisan masyarakat Galuh. Sumber naskah yang memuat cerita itu, antara lain Wawacan Sajarah Galuh, seperti yang dimuat pada laman unpad.ac.id.

Dalam naskah tersebut diceritakan tentang seorang Raja Bojong Galuh (palsu) bernama Ki Bondan yang menyuruh seorang pandita sakti bernama Ajar Sukaresi, untuk menaksir bayi yang dikandung oleh istrinya, Nyai Ujung Sekarjingga. Sang Raja ingin tahu apakah anaknya laki-laki atau perempuan.

Sebenarnya, Raja tersebut hendak menipu Ajar Sukaresi, karena sebenarnya perut Nyai Ujung Sekarjingga terlihat besar disebabkan oleh kuali yang ditaruh di dalamnya, bukannya karena sedang hamil. Sang pandita yang sakti mengetahui niat buruk sang raja, dan ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar diberikan pertolongan.

Ia kemudian berkata bahwa anak yang sedang dikandung permaisuri adalah laki-laki. Raja menganggap jawaban pandita bohong sehingga orang tua tersebut harus dihukum. Pakaian Nyai Ujung Sekarjingga kemudian dibuka untuk membuktikan keyakinan Raja atas muslihatnya. Ternyata kuali yang dipasang di perutnya tidak ada dan Nyai Ujung Sekarjingg benar-benar mengandung.

foto: blogs.unpad.ac.id
Raja menjadi marah disertai malu menyaksikan kejadian itu. Pandita itu disuruh pulang, tetapi secara diam-diam raja memerintahkan Patihnya untuk membunuh sang pandita.

Kuali pada perut Nyai Ujung Sekarjingga sesungguhnya ditendang secara gaib oleh Ajar Sukaresi. Kuali itu kemudian jatuh di Kampung Selapanjang sehingga namanya diganti menjadi “Kawali” (kini terletak sekitar 11 km di sebelah utara Kota Ciamis). Adapun anak laki-laki Nyai Ujung Sekarjingga kemudian bernama Ciung Wanara.

Menurut cerita rakyat, tempat jatuhnya kuali itu menjadi mata air dan kolam yang disebut “Balong Kawali” atau “Cikawali”, yang sekarang termasuk dalam lingkungan Situs Astana Gede Kawali.

Ajar Sukaresi yang hendak dibunuh oleh utusan raja, pada awalnya tidak dapat dilukai karena kesaktiannya. Namun, ia akhirnya merelakan dirinya dibunuh. Dengan tubuh penuh luka, Ajar Sukaresi berjalan hendak kembali ke pertapaannya di Gunung Padang.

Dalam perjalanannya, luka Ajar Sukaresi mengeluarkan darah berwarna kuning di suatu tempat. Tempat itu kemudian disebut “Cikoneng”. Setelah lama berjalan, Ajar Sukaresi tergolek di atas tanah. Tempat ia tergolek itu kemudian disebut “Cikedengan”.

Ia kemudian berjalan lagi, tetapi jatuh lagi dan mengeluarkan darah yang berwarna bening. Daerah itu kemudian dikenal dengan nama “Ciherang”. Akhirnya, sampailah Ajar Sukaresi di pertapaannya.
Jaman dulu kala hiduplah seorang pengrajin batik di sebuah kampung bernama Babakan Nyangked. Sang pengrajin memiliki putri cantik yang bernama Utari. Kecantikan sang putri membuat banyak lelaki jatuh hati padanya.

Para pemuda yang jatuh hati itu lalu membuat lubang pada dinding bilik rumah Utari supaya dapat mengintip pujaan hati mereka kapan saja. Tempat ngintip (dalam bahasa Sunda disebut 'noong') itu kemudian dikenal dengan nama daerah 'Panoongan'.

Kecantikan Utari tersohor di Tatar Galuh. Kabar mengenai kejelitaan parasnya bahkan sampai kepada Sultan Mataram. Saat itu Tatar Galuh adalah sebuah kadipaten dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Raja Mataram lalu mengirim utusan untuk menjemput Utari ke kampungnya.

Utari kemudian diboyong ke ibukota kerajaan Mataram. Entah bagaimana perasaan sang putri kampung diboyong ke ibukota, senang atau sedih menghadapi kenyataan itu, tetapi bagaimanapun sebagai rakyat kecil, Utari dan keluarganya harus patuh pada titah raja. Menurut sumber cerita lain, konon Utari adalah salah satu dari tujuh gadis cantik yang dikirimkan Tatar Galuh sebagai upeti pada penguasa Mataram.

Nasib naas menimpa sang putri dari kampung Babakan Nyangked, ada anggota rombongan utusan Mataram ternyata menaruh hati padanya. Sang utusan yang dimabuk nafsu dunia akhirnya tak dapat menguasai dirinya, bahkan tak lagi menjaga titah rajanya. Ia kemudian menodai Utari dalam perjalanan menuju ibukota Mataram.

Utari sampai di Mataram dalam keadaan sudah tidak tampak cantik lagi, melainkan pucat dan tidak menarik. Boleh jadi kesedihan dan trauma telah menghapus kejelitaan dari paras mukanya. Ia kemudian mengakui bahwa dirinya sudah ternoda dan hal tersebut membuat Sultan Mataram murka.

Sang Raja memaksa Utari untuk mengakui siapa yang menodainya, tapi rupanya sebuah muslihat ancaman dari utusan Mataram yang jahat telah memaksanya membuat pengakuan bohong. Utari menyebut Adipati Imbanagara, penguasa Galuh, sebagai pelaku yang menodainya.

Raja Mataram murka dan memerintahkan pengiriman pasukan untuk menangkap dan membunuh Adipati Imbanagara. Sultan Mataram menganggap penodaan Utari bukan saja perbuatan tercela, tetapi penghinaan luar biasa pada kewibawaan tahta Mataram.

Adipati Imbanagara yang menjadi korban fitnah akhirnya ditangkap dan dibunuh. Tubuhnya secara sadis dipotong-potong dan menimbulkan kegemparan dan rasa marah rakyat Imbanagara. Perlawanan dilakukan rakyat untuk merebut kembali jenazah Adipati Imbanagara.

Jenazah sang adipati akhirnya dapat direbut kembali oleh pihak Imbanagara. Jasad sang pemimpin lalu dimandikan dan dikuburkan. Tempat pemandiannya kemudian disebut "Leuwi Biuk" sementara tempat penguburan potongan tubuhnya disebut "Gegembung". Tempat direbutnya bagian sikut sang adipati disebut "Sikuraja".

(ditulis kembali CiamisManis.com berdasar sumber tulisan Miftahul Falah yang merupakan bagian dari buku Sejarah Ciamis, diterbitkan tahun 2005 oleh Pemkab Ciamis dan LPPM Universitas Galuh, Ciamis. Link)
Dongeng Ciung Wanara merupakan salah satu cerita klasik yang populer di kalangan orang Ciamis, terutama karena pernah membaca atau mendengarnya sewaktu berada di bangku sekolah. CiamisManis.com menghadirkan versi Basa Sunda dongeng Ciung Wanara tersebut berikut ini:

Kacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita téh nya éta Prabu Barma Wijaya kusumah. Anjeunna boga permaisuri dua. Nu kahiji Déwi Naganingrum, ari nu kadua Déwi Pangrenyep. Harita duanana keur kakandungan.

Barang nepi kana waktuna, Déwi Pangrenyep ngalahirkeun. Budakna lalaki kasép jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan ti harita, Déwi Naganingrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Déwi Pangrenyep. Orokna lalaki deuih. Tapi ku Déwi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi ka saolah-olah Déwi Naganingrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saéstuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan Citanduy.

Mireungeuh kaayaan kitu, Sang Prabu kacida ambekna ka Déwi Naganingrum. Terus nitah Ki Léngsér supaya maéhan Déwi Naganingrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pédah ngalahirkeun anak anjing. Déwi Naganingrum dibawa ku Léngsér, tapi henteu dipaéhan. Ku Léngsér disélongkeun ka leuweung anu jauh ti dayeuh Galuh.

Ari kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk Aki jeung Nini Balangantrang. Barang Aki jeung Nini Balangantrang néang tataheunanana kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih-leuwih sanggeus nyaho yén di jerona aya orok alaki anu mulus tur kasép. Gancangna budak téh dirawu dipangku, dibawa ka lemburna nya éta Lembur Geger Sunten, sarta diaku anak.

Kocapkeun budak téh geus gedé. Tapi masih kénéh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki Balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana, nanyakeun ka Aki Balangantrang ngaranna éta manuk. Dijawab ku Aki éta téh ngaranna manuk ciung. Tuluy nénjo monyét. Nanyakeun deui ngaranna. Dijawab deui ku Si Aki, éta téh ngaranna wanara. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manéhna dingaranan Ciung Wanara. Aki jeung Nini Balangantrang satuju.

Ayeuna Ciung Wanara geus jadi pamuda anu kasép sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa, disileungleuman ku Nagawiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur pikalucueun.

Dina hiji poé, Ciung Wanara amitan ka Aki jeung Nini Balangantrang, sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngélék hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Purawesi katut Patih Puragading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan. Pruk baé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka raja.


Ari Ciung Wanara papanggih jeung Léngsér. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana maké tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh, tandonna nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun hayam raja nu éléh, tandonna nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun raja tur diaku anak.

Gapruk baé atuh hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadéséh, terus kapaéhan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi Cibarani, dimandian nepi ka élingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu datang Nagawiru ti Gunung Padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan Nagawiru, hayam Ciung Wanara unggul. Hayam raja éléh nepi ka paéhna.

Luyu jeung jangjina Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah. Ari nagara anu sabeulah deui, beulah wétan dibikeun ka Hariang Banga.

Ku kabinékasan Ki Léngsér, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nya éta Déwi Naganingrum.

Lila-lila réka perdaya Déwi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Déwi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara beusi.

Hariang Banga kacida ambekna basa nyahoeun yén indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Der atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila mah Hariang Banga téh kadéséh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wétaneun Cipamali. Tah, harita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wétaneunana dicangking ku Hariang Banga.

Tina Pangajaran Sastra Sunda, karya Drs. Budi Rahayu Tamsyah

(diserat deui ku CiamisManis.com/ref. ti: Rohang Kalam jeung Daluang/pic credits: Indonesia Daily Photos )
Desa Pananjung Pangandaran pada awalnya dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari Suku Sunda. Para pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil membuat mereka mudah untuk mencari ikan. Pantai Pangandaran memiliki sebuah daratan yang menjorok ke laut dan sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, dan tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai.
Kecintaan seorang pemimpin pada rakyatnya, dan kesedihan yang timbul melihat penderitaan mereka, dapat membawa jawaban dan kebahagiaan pada akhirnya. Itulah mungkin pesan moral dari kisah sasakala Curug Tujuh Cibolang Ciamis. Konon terbentuknya curug tujuh menurut keterangan berasal dari kisah jaman dahulu kala, manakala terdapat seorang penguasa atau raja di wilayah tersebut, yang pada suatu waktu merasa sangat prihatin melihat keadaan di wilayahnya yang sangat menderita akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering kerontang sehingga rakyatnya dirundung malang berkepanjangan.