Showing posts with label tokoh ciamis. Show all posts
Showing posts with label tokoh ciamis. Show all posts
Hampir tenggelam dibalik riuh-rendahnya pemberitaan tentang politik, ekonomi dan berbagai bumbunya di negeri ini, berita sedih datang dari tanah rencong Aceh. Seorang putra terbaik kelahiran Ciamis bernama Winda Yulia, yang mengemban tugas mulia sebagai guru daerah terpencil, tewas tenggelam dalam perjalanan menggunakan perahu boat di daerah Batu Katak, Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.

Sang guru muda, baru berusia 22 tahun, adalah lulusan Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan berasal dari Ciamis. Ia yang kelahiran 27 Juli 1990 dan merupakan alumnus SMAN 1 Cihaurbeuti Ciamis, angkatan 2008, dikenal berprestasi semasa menuntut ilmu di UPI Bandung.

Utari Wijayanti, seorang dosen pendidikan matematika UPI Bandung, menulis dalam blognya, bahwa Winda Yulia adalah seorang alumni dengan IPK hampir 4.0 (hanya dengan 1 nilai B) dan mempunyai berbagai prestasi di tingkat Nasional.

Winda Yulia pernah menyiapkan makalah untuk OSN Pertamina 2011 hanya dalam semalam dan berhasil menjadi peserta terbaik ketiga di Propinsi Jawa Barat, sementara peserta-peserta lainnya mempersiapkan diri selama seminggu. Winda juga pernah meraih Honoroble Mention ON MIPA 2011 dan juara 3 Magday, lomba yang diselenggarakan oleh Matematika ITB, 2011.

foto: facebook
Winda mantap menandatangani kontrak SM3T (Sarjana Mendidik Terdepan Terluar Tertinggal) dan bersedia ditugaskan di daerah pedalaman Aceh, meski ia memiliki sederet prestasi sebagai bekal berkarir di tempat lainnya. Percakapan almarhumah dengan temannya di laman facebook menyebutkan ia mendapat penempatan sementara selama setahun di SMPN 2 Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih Kabupaten Aceh Timur. Tampak dalam foto, ia begitu ceria di tempat tugas yang baru.

Takdir Ilahi berkata lain. Atjehpost.com melaporkan, pada hari Senin (26/11/2012) petang lalu, empat orang guru tersebut mengalami musibah di sungai Simpang Jernih. Saat akan kembali ke Desa Melidi, boat yang mereka tumpangi terbalik di kawasan Batu Katak. Dua orang guru, Irma Yuna dan Hanafi, selamat dari musibah tersebut, sedangkan dua lainnya, Gegeut dan Winda sempat tidak diketahui keberadaannya.

foto: Atjehpost.com
Pada foto yang dilansir Atjehpost.com, para guru luar biasa tersebut nampak sehat dan tersenyum pada waktu pengambilan gambar sesaat sebelum keberangkatan. Winda Yulia juga nampak tersenyum sembari duduk memeluk tas hitamnya diatas perahu boat.

Atjehpost.com kembali memberitakan, Winda Yulia ditemukan tiga hari kemudian, pada Kamis (29/11/2012). Informasi yang diperoleh dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Elfiandi, menyatakan jenazah korban ditemukan sekitar pukul 12.30 wib di sekitar 80 kilometer dari lokasi tenggelam.

Sosok Winda Yulia adalah inspirasi bagi generasi muda Ciamis. Ia berangkat dari tanah kelahiran untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, menjadi mahasiswi berprestasi hebat, tetapi mengambil jalan pengabdian yang tidak biasa. Ia mencerminkan sosok yang ingin menggapai kesuksesan dengan jalan yang tidak mudah atau instant.

Meski Winda Yulia sudah tiada, hari ini, esok dan lusa akan selalu hadir generasi muda Ciamis yang meneruskan cita-citanya, menjadi insan yang tidak 'biasa-biasa saja' dan ikut berbuat yang terbaik sebagai anak bangsa.
Kata Aom bagi masyarakat Jawa Barat biasa diidentikkan dengan keturunan kaum bangsawan (menak) Sunda. Demikian halnya yang melekat pada diri Raden Aom Tur'at, tokoh perintis salah satu aliran silat asli di Tatar Galuh Ciamis. Para muridnya menceritakan bahwa sang guru berasal dari Bandung dan dilahirkan pada tahun 1878.

Raden Aom Tur'at berkelana di wilayah Ciamis pada tahun 1935 untuk menyebarkan seni beladiri tradisional 'maenpo' atau yang lebih dikenal sekarang sebagi pencak silat. Ia melahirkan aliran silat Aom Tur'at yang diramu selepas berguru dan mengambil intisari ajaran dari sepuluh guru silat kawakan. Salah seorang guru Raden Aom Tur'at adalah pendekar silat termasyhur bernama Juragan Haji Ibrahim atau Raden Djajaperbata, pencipta aliran silat Cikalong.

Raden Aom Tur'at (foto: Budayaku)
Raden Aom Tur'at yang mahir berbahasa Belanda ini mulai mengembangkan ajaran beladirinya di daerah Cijantung Ciamis, karena ia memiliki istri yang berasal dari wilayah tersebut. Sayang, kebersamaannya dengan isteri tercintanya tidak bertahan lama, karena selang beberapa tahun kemudian sang isteri wafat.

Ia menikah lagi pada tahun 1946, selepas Indonesia lahir menjadi sebuah negara merdeka dan lepas dari penjajahan ratusan tahun lamanya. Sang guru mempersunting Nyi Arsitem, yang juga dikenal dengan panggilan Nyi Itong, seorang janda dari kampung Cikatomas, desa Handapherang Ciamis. Perkawinan ini, jika merunut pada sumber yang tersedia, berlangsung tiga tahun sebelum Raden Aom Tur'at berpulang ke hadirat Ilahi.

Raden Aom Tur'at menjadikan Desa Handapherang sebagai pusat pendidikan pencak silat. Aliran silatnya kemudian menyebar ke berbagai daerah, dari mulai Cidewa Dewasari, Janggala Cidolog, Cimaragas, Karangampel Baregbeg, hingga Ciparigi Sukadana.

Olahraga beladiri pencak silat pada masa hidup Raden Aom Tur'at masih dikenal dengan nama maenpo, yang berasal dari idiom sunda 'maen usik nu tara mere tempo' (permainan gerak yang tak memberi waktu). Ia mendefinisikan maenpo dengan tiga pengertian, yaitu usik (gerakan), karep (kemauan yang kuat) dan rasa (dorongan batin).

Raden Aom Tur'at dikenal sebagai pribadi yang relijius dan taat pada ajaran agama. Ia dekat dengan guru-guru madrasah dan selalu memberikan nasihat-nasihat agama. Murid-murid maenponya diperintahakan untuk selalu menjaga sholat dan silaturahmi. Maenpo atau pencak silat diajarakannya untuk mendidik manusia agar ”hormat ka saluhureun, nyaah ka sahandapeun, deudeuh ka sasama” yang artinya menghormati yang lebih tua, mengayomi yang lebih muda dan menyayangi sesama.

Raden Aom Tur'at wafat pada tahun 1949, bersamaan dengan Agresi Militer Belanda ke II di Indonesia. Konon menurut catatan silatindonesia.com, Aom Tur'at tidak meninggal seperti pada umumnya, melainkan 'lenyap' secara tiba-tiba, atau disebut 'silem' dalam bahasa Sunda. Ia mengalami sakit sebelum meninggal, tetapi masih sanggup berjalan kesana kemari sambil tidak memakai baju, sehingga menjadi bahan perbincangan orang.

Raden Aom Tur'at, sang guru maenpo, menghilang pada usia 71 tahun dan tidak diketahui keberadaan kuburannya hingga saat ini. Meski demikian, keberadaannya tetap dikenang dan ajarannya dijaga serta dilanjutkan oleh para penerusnya.

Salah satu nasihatnya yang bernilai sangat dalam adalah, bahwa silat seharusnya menenangkan jiwa, dengan konsep gerak rasa 'rasa sajeroning rasa'. Baginya, belajar dan berlatih silat harus dalam keadaan yang terkendali. Mereka yang berlatih silat dalam keadaan emosi atau dipenuhi nafsu amarah tidak akam mendapatkan apa-apa. "Beu, lapur... (tidak ada hasilnya)" demikian acapkali diucapkannya.

Eman Hermansyah Sastrapraja, seorang seniman sekaligus penjaga warisan tradisi Tatar Galuh, menganggap aliran silat Aom Tur'at sebagai seni budaya leluhur yang harus dilestarikan. "Siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan (seni budaya Tatar Galuh) kalau bukan kita para keturunannya," katanya.

Setelah berbulan-bulan mempersiapkan sidang disertasi S3 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Kepala SMA Negeri 2 Ciamis, H. Endang Rahmat, akhirnya mampu menyelesaikan pendidikannya dan dinyatakan lulus sebagai Doktor di bidang Administrasi Pendidikan.

Dengan berhasilnya H. Endang Rahmat meraih gelar Doktor, kini menjadi bertambahlah insan pendidikan di Kab. Ciamis yang memiliki gelar pendidikan tertinggi tersebut. Namun, untuk kepala sekolah ditingkatan SMA/SMK di Kabupaten Ciamis, baru H. Endang Rahmat satu-satunya kepala sekolah yang memiliki gelar Doktor.

Ketika dihubungi HR, Senin (17/9), di ruang kerjanya, Dr. H. Endang Rahmat, mengucapkan syukur atas keberhasilannya meraih gelar Doktor.

”Alhamdulilah, atas izin Allah dan dukungan semua pihak, akhirnya saya berhasil meraih gelar Doktor. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang selama ini terus memberikan support,” ujarnya.

Endang juga menambahkan, keberhasilannya meraih gelar Doktor diharapkan bisa memberikan dampak positif terhadap kemajuan SMA Negeri 2 Ciamis yang kini bersatus RSBI.

”Setidaknya, bisa memberikan motivasi, baik bagi saya pribadi maupun seluruh guru dan karyawan untuk terus berbenah dan melakukan inovasi guna kemajuan sekolah. Sementara untuk saya pribadi, semoga ilmu yang saya dapatkan selama menempuh S3 bisa bermanfaat bagi kemajuan sekolah ini,” katanya.

Jika dilihat dari judul desertasi yang diteliti dan dikaji oleh H. Endang, memang mengangkat permasalahan yang terjadi di Sekolah Menangah Atas (SMA). Sederet permasalahan di tingkatan SMA, diangkat dalam desertasinya dan dicari solusi guna memperbaiki permasalahan-permasalahan tersebut. Penelitian itu pun dilakukan random sampling (acak) di sejumlah SMA SSN (Sekolah Standar Nasional) di Jawa Barat.

Dalam desertasinya yang berjudul, ”Mutu Layanan Akademik”, dengan mengambil sub judul, ”Studi Tentang Analisis Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Pembiayaan Sekolah, dan Kinerja Mengajar Guru Terhadap Mutu Layanan Akademik pada SMA Negeri berstatus SSN di Provinsi Jaba Barat” itu, mengangkat sejumlah permasalahan yang menjadi kendala dalam kemajuan sebuah sekolah tingkatan SMA.

Dalam kesimpulan desertasinya, menjelaskan bahwa rasional dan masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini mengenai lemahnya mutu layanan akademik yang dilakukan oleh sekolah standar nasional, khususnya di Provinsi Jawa Barat. Hal itu dipengaruhi dari lemahnya kepemimpinan kepala sekolah, pembiayaan sekolah, budaya sekolah dan kinerja mengajar guru.

Dari hasil penelitiannya terhadap populasi sebanyak 249 sekolah dan sampel sebanyak 36 sekolah dengan menggunakan random sampling, dan menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif, akhirnya diketahui gambaran seberapa besar variabel tersebut berdampak signifikan terhadap mutu layanan akademik di SMA SSN di Jawa Barat.

“Temuan dan pembahasan lapangan membuktikan bahwa gambaran kepemimpinan kepala sekolah SMA Negeri di Jabar diperoleh nilai rata-rata 80,62% dengan kategori tinggi. Sementara pembiayaan sekolah mencapai rata-rata 82,12% dengan kategori tinggi pula. Hal yang sama dengan budaya sekolah dengan nilai rata-rata 81,02%. Sedangkan kinerja mengajar guru hanya mencapai rata-rata 71, 49%,”

Dengan demikian, lanjut Endang dalam kesimpulan akhir desertasinya, maka mutu layanan akademik di SMA SSN di Jawa Barat dapat dilakukan dengan baik, jika senantiasa memperhatikan lebih serius terhadap kinerja mengajar guru.

“Penulis merekomendasikan saran operasional untuk meningkatkan kinerja guru, yakni guru khendak melaksanakan penilaian akhir untuk mengetahui sejauhmana siswa setelah mengikuti pelajaran, guru hendaknya mengkaji hasil penilaian akhir, melaksanakan kegiatan tindak lanjut pembelajaran dan mengemukakan tentang topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang,“ demikian dalam kesimpulan desertasinya.

Selain saat ini meraih gelar Doktor, suami dari Dra. Yati Rosmiati, M.Pd ini pun memiliki prestasi cemerlang dalam bidang organisasi. Sebut saja dia kini dipercaya sebagai Ketua MKKS SMA Kab. Ciamis, Wakil Ketua I PGRI Kab. Ciamis dan Direktur Tabloid Pendidikan Ganesha (media milik PGRI Kab. Ciamis).

Tak hanya aktif di organisasi pendidikan saja, H. Endang pun dipercaya memimpin organasisi kemasyarakatan. Dia kini dipercaya sebagai Ketua Paguyuban Pasundan Kab. Ciamis. Dan ketika masih muda, dia pernah menjadi Ketua KNPI Kab. Tasikmalaya periode 1985-1989 dan Ketua Forum Komunikasi Karang Taruna Kab. Tasikmalaya periode 1987-1989.

Pengalaman ke luar negeri yang berhubungan dengan tugas kedinasan pun banyak dia peroleh, diantaranya studi banding ke Melbourne, Pert (Australia), Singapura, Malaysia, Thailand, Turki dan Korea Selatan. Bahkan, dalam kunjungan ke Turki, yakni untuk menandatangani MoU kerjasama antara SMA Negeri 2 Ciamis dengan salah satu sekolah menengah ternama di Turki.

Dalam sebuah kesempatan, HR pernah berbincang santai dengan H. Endang. Waktu itu dia mengungkapkan, tujuan mengikuti kuliah S3 untuk meraih gelar Doktor, tak hanya untuk memenuhi kebutuhan tambahan ilmu dalam perjalanan karier kedinasannya, tetapi juga untuk memotivasi anak-anaknya agar bersemangat dan tidak henti-hentinya dalam menuntut ilmu. Karena prinsip yang dipegang oleh pria kelahiran Tasikmalaya 14 Mei 1960 ini, bahwa menuntut ilmu harus sepanjang hayat.

“Saya selalu tanamkan kepada anak saya tentang prinsip belajar sepanjang hayat. Saya terus bersemangat menyelesaikan kuliah, salah satunya untuk memberikan contoh kepada anak saya tentang prinsip tersebut,“ ujar Bapak yang dikaruniai dua anak yang juga memiliki obsesi melakukan penelitian untuk gelar profesor ini.

H. Endang memiliki dua anak, yakni Fauzan Rahmat yang saat ini masih menempuh kuliah di jurusan Administrasi Niaga Fisip Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dan Rayna Fauziani Nur Rahmat yang saat ini masih menempuh kuliah di jurusan Kedokteran Universitas Jendral Sudirman (Unsoed) Purwokerto.

(publikasi ulang CiamisManis.com | sumber: harapanrakyat.com)

Engkus nama panggilannya, sedangkan nama lengkapnya adalah Kusmawati Yazid, dikenal sebagai pembalap cross country wanita terbaik Indonesia saat ini. Pembalap kebanggaan Ciamis tersebut berasal dari Kecamatan Pangandaran dan sudah malang melintang di event-event balap sepeda nasional dan internasional. Namanya yang sudah malang melintang pada banyak event balap sepeda, membuat keberhasilannya meraih medali emas di PON XVIII Riau sudah diprediksi pengamat.

Wanita kelahiran 19 Oktober ini meraih catatan waktu 1 jam 27 menit dan 43 detik dalam cabang balap sepeda nomor lintas alam di Sirkuit Kerinci Kanan, Siak, Pekanbaru pada 10 September 2012 lalu. Ia berhasil mempersembahkan medali emas pertama untuk kontingen Jabar.

Kabar-priangan.com melaporkan Engkus terlihat dominan sejak lap pertama bahkan ia mampu unggul tiga menit lebih di lap keenam atas atlet Riau, Nur Wahyu Apriani. Ia terus mempertahankan catatan waktunya hingga perlombaan usai.

“Terus terang kami sangat senang dengan hasil ini. Persaingan tadi cukup berat apalagi atlet Riau mampu menjaga RPM dengan baik,” kata Kusmawati, usai perlombaan. Menurutnya kemenangan yang diraihnya tersebut adalah hasil kerja keras.


Kemenangan Kusmawati langsung disambut gembira para ofisial Ciamis. Bupati Ciamis H. Engkon Komara pun mengucapkan selamat untuk atlet berusia 29 tahun tersebut.

“Kami merasa bangga dengan hasil yang diperoleh Kusmawati untuk Jabar. Semoga ini bisa lebih momotivasi atlet Ciamis dan Jabar lainnya,” kata Engkon.

Ketua Pengcab Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Ciamis, H. Iing Syam Arifin, mengatakan akan memberikan dukungan langsung untuk peraih emas pertama asal Ciamis tersebut.

Bagi Engkus, hidup adalah pilihan. Lulusan tahun 2001 dari SMAN 1 Pangandaran ini memilih sebagai pembalap sebagai totalitas karirnya. Ia bahkan menunda pernikahan karena karir balapnya.

"Setelah SEA Games 2011, saya putus dengan pacar karena dia minta saya berhenti sebagai atlet setelah menikah nanti. Saya tidak terima. Saya mau meneruskan karier sebagai atlet," katanya kepada Kompas.

"Di luar negeri, atlet berusia 35 tahun masih berprestasi," ujar penyabet medali perak pada SEA Games tersebut.

(by CiamisManis.com | ref: kabar-priangan.com & Polygon | pic credits: Kusmawati Yazid & Sportku.com)
Ciamis memerlukan 4C, yaitu Company, Competitor, Customer dan Change. Kabupaten ini, sebagaimana sebuah perusahaan, membutuhkan manajemen yang kuat, menentukan sasaran tembak berupa keinginan masyarakat, menganalisis kompetitor dan kemudian melakukan gerakan perubahan untuk kemajuan. Demikian disampaikan oleh H. Roni Arif Budiman Karno, mantan pembalap nasional yang juga pengusaha bus Gapuraning Rahayu kepada kabar-priangan.com beberapa waktu lalu.


Pengusaha yang akrab dipanggil H. Roni Karno tersebut merupakan salah satu sosok yang mulai disebut-sebut sebagai calon bakal bupati atau wakil bupati Ciamis mendatang.

"Saya mencontohkan didunia balap, suatu ketika saat start kondisi track dalam kondisi kering. Tiba-tiba setelah balapan, hujan turun. Maka, strategi yang harus diterapkan tidak boleh monoton, pemimpin sebagai pemegang kebijakan harus berani merubah strategi. Itulah, yang harus dilakukan seorang pemimpin," tegas Roni sebagaimana dikutip wartawan.

Ia sendiri mengapresiasi positif pencalonan dirinya sebagai bentuk kepercayaan masyarakat, dan masih melihat seberapa besar aspirasi tersebut. Ia secara diplomatis menyatakan tidak bisa menolak jika sudah ditakdirkan untuk memimpin. Baginya dalam menjalani kehidupan ia berusaha untuk bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak.

"Kalau menjadi Bupati bisa memberikan manfaat bagi orang banyak, kenapa tidak," kata Roni.

Lima tahun yang lalu artis cantik Zaskia Mecca dikabarkan oleh sebuah media merasa kapok mudik ke Ciamis. Ia memilih menolak ajakan mamanya untuk mengunjungi kampung halaman leluhur. Alasannya adalah perjalanan yang lama dan tidak nyaman.

"Kapok. Tahun kemarin ke Ciamis sampai 17 jam. Jalanannya masih belum oke, terus pengendara motornya juga galak-galak. Aku sama sepupu-sepupu sudah janji nggak mau mudik lagi," kata Zaskia saat itu. Media lain mengutipnya mengatakan menempuh jarak Bandung - Ciamis selama tujuh jam.

Zaskia memilih berlebaran di Jakarta. Selain karena malas dengan perjalanan mudik, menurutnya lebih enak berlebaran di Jakarta. "Kalau Lebaran, di Jakarta sepi banget. Lebih enak di sini," ujarnya lagi.

Lima tahun sudah berlalu, Zaskia sekarang adalah isteri sutradara Hanung Bramantyo dan dikaruniai anak bernama Kanna Sybilla Bramantyo. Sebagaimana kedupan Zaskia berubah, apakah kehidupan di jalan raya dalam suasana mudik lebaran tahun ini sudah jauh berubah?


Perjalanan ke Ciamis yang lebih cepat dan nyaman sudah menjadi harapan banyak orang sejak lama. Berbagai perbaikan dan peningkatan kualitas jalan dan sarana transportasi lain terus menjadi perhatian pemangku kebijakan dan pelaku usaha transportasi, tetapi bagaimanapun laju pertambahan kendaraan tetap tidak dapat diimbangi oleh perbaikan sarana jalan.

Banyak pihak masih mengeluhkan perjalan mudik lebaran, seperti yang diungkapkan Zaskia Mecca lima tahun lalu, padahal ia sekeluarga hampir dapat dipastikan menggunakan kendaraan pribadi yang sudah sangat nyaman bagi ukuran masyarakat kelas bawah.

Buktinya Zaskia Mecca sempat mengaku kapok mudik ke Ciamis. Bagaimana dengan Anda?

Teh Ninih sangat terkesan dengan pola pendidikan yang dijalankan di Pondok Pesantren Nurul 'Amal yang ada di Kampung Cikawung, Desa Bojongmengger, Kecamatan Cijeungjing.

Istri da'i Kondang, Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal dengan Aa Gym tersebut berencana mengirimkan anak-anaknya untuk mondok dan menimba ilmu di Pesantren Nurul 'Amal.

Ketertarikan Teh Ninih disampaikan pada saat bersilaturahmi ke Pesantren Nurul 'Amal Sabtu (5/5) lalu. Ia dengan sungguh-sungguh akan menyekolahkan anaknya di pesantren tersebut. "Insya Allah, anak saya nanti dipesantrenkan di pesantren ini," katanya.

Teh Ninih sangat tertarik pada konsep menghapal Al-Quran yang dilakukan para santri. Semua santri dan siswa Madrasah Ibtidaiyah di pesantren tersebut diharuskan menghafal Al-Quran. Hingga usia kelas 6 santri harus hafal enam juzz.

Ia pun terkejut saat Hilmi bocah yang mondok di pesantren tersebut bertanya kepada Teh Ninih.

"Teh Ninih sudah hafal berapa Juzz?" tanyanya.

Teh Ninih tersenyum dan menjawab. "Masih dalam taraf proses dan belajar, cikaracak ninggang batu laun-laun beuki legok," ucapnya. Isyarat tersebut menjelaskan kalau terus menerus belajar lama lama bisa menghafal juzz demi juzz Al-Quran.

Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Nurul 'Amal yang juga Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul 'Amal, Hj. Neni Heryani mengatakan konsep yang diterapkan di pesantren merupakan konsep yang juga diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw.

"Selama 23 tahun Rosul selalu membaca Al-Quran, betapa penting arti membaca Al-Quran bagi umat Islam dan konsep itu lah yang kita terapkan di pesantren ini," katanya.

sumber: kabar-priangan.com
Pembalap lokal yang sukses menjadi pembalap nasional maupun internasional tak lain adalah Wawan Hermawan (27), warga Dusun Sarimukti RT 16/04, Desa Sindangangin, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Ia sukses meraih juara 1 Asian Road Racing 2011 internasional.

Wawan memutuskan menjadi pembalap membuahkan hasil padahal sebelumnya Wawan sudah lulus seleksi Akabri,bukannya terus mengikuti latihan militer wawan malah pulang kerumahnya memboyong piala juara 1.

Setelah ditelusuri, ternyata Wawan tidak berangkat ke Magelang untuk menjalani pendidikan militer tapi malah ikut kejuaraan. “Karena sudah melihat gelagatnya begitu. Jadi saya coba mendukungnya di dunia balap, sekalipun di awal sebelum ada sponsor biayanya dirasakan cukup berat, kalau sekarang sudah ada sponsor. Saya juga sempat khawatir karena Wawan sempat patah kaki beberapa kali dalam kecelakaan beruntun saat menjalani balapan di Jakarta. Setelah patah kaki itu bukannya kapok malahan wawan semakin semangat dan dan berniat ingin menjaurai terus dalam kejuaraan-kejuaraan lainnya dan sampai sekarang terus jadi juara,” kata H. Waris Karyono ayah Wawan.

Walaupaun secara pribadi, kata Waris dirinya dulu sempat tidak merestui anaknya menjadi pembalap. “Alasan saya tidak merestui, karena saat itu Wawan sudah lulus seleksi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).

Selama karirnya dan balapan dimanapun Wawan selalu bilang tanah kelahiran dan merupakan kebanggannya dirinya selalu bilang bahwa saya orang ciamis tidak pernah lepas selalu membawa daerah kelahiranya Kabupaten Ciamis sekalipun Wawan belum pernah ada panggilan baik dari IMI Lokal.

Pengurus KONI ataupun Pemerintah setempat terkesan tidak perduli dengan prestasi yang ia dapat berbeda dengan atlit-atlit yang lainnya yang selalu berprestasi mendapatkan perhatian maupun bonus.

“Keberadaan saya di tingkat internasional memang membawa nama Indonesia,tapi untuk nasional saya selalu membawa Ciamis. Walaupun pada 2006 lalu, Ciamis tidak memakai saya dan saya dipakai oleh Kota Banjar. Selain itu, saya juga kerap dipangil Pemkab Subang, sementara Ciamis belum pernah memangil sekali pun,” aku Wawan kecewa.

Awal Februari lalu, Wawan kembali memboyong piala setelah berhasil menjuarai Asian Road Racing 2011 menyisihkan pembalap asal 11 negara yang berlangsung di Jepang. Sebelumnya, berbagai prestasi internasional sudah diraihnya sejak 2005 lalu, hingga saat ini Wawan berhasil mempertahankanya di posisi juara pertama pembalap internasional.

Menurut pria kelahiran Ciamis 4 Maret 1984 itu, berbagai prestasi yang diraihnya dimulai sejak 2004 lalu. Setelah percaya diri menjajal berbagai turnamen di tingkat lokal, awal 2004 dia memberanikan diri mengikuti Kejurnas untuk pertama kalinya. “Di luar dugaan, ternyata saya yang diklaim sebagai pemaian pemula berhasil jadi juara pertama,” katanya.

Sejak menjuarai Kejurnas, berbagai tawaran balap menghampirinya. Awal 2005, Wawan diminta team Motor Honda untuk menjajal balap internasional. (Anjar Asmara/KP)***

KH. Ahmad Hidayat pengasuh Ponpes Cijantung yang juga Ketua MUI Kab Ciamis, menuturkan awal berdirinya pesantren Cijantung pada tahun 1935. Pendiri pesantren Cijantung sendiri adalah Kh. Muhammad Siroj (Alm).

"Pendirian pesantren Cijantung yaitu setelah ayahanda KH. Muhammad Siroj pulang dari Mekah. Selama kurang lebih tujuh tahun di Mekkah, KH. M. Sirodj berguru kepada Syekh Ibrahim Gumrowi yang mengajarkan khusus Qiro'at," ujar KH. Ahmad Hidayat.

Disampaikan Oyot (panggilan akrabnya), nama pesantren Cijantung sendiri diambil dari nama Kampung tempat pertama didirikannya pesantren yaitu kampung Cijantung di wilayah Desa Dewasari. Akan tetapi setelah berkembang, pesantren Cijantung berpindah ke kampung Citutut tak jauh dari kampung Cijantung.

"Karena nama pesantren sudah menerap, maka tetap saja dinamakan pesantren Cijantung meski sudah berpindah lokasi. Kedua, mungkin karena pesantren cijantung ini dilewati oleh aliran sungai Cijantung yang berada disekitar komplek pesantren," katanya.

Pesantren Cijantung kata KH. Ahmad, pertamanya sebagai pesantren yang khusus mempelajari Al-Qu'an. Buktinya tak sedikit Pesantren Cijantung mencetak Qiro'at yang berprestasi di tingkat Nasional maupun Internasional. Sebagai contoh KH. Holil Rohman (Alm) yang juga pernah menjadi kepala sekolah MAN Cijantung dan juga ketua Dewan Hakim Nasional.

"Almarhum sudah terkenal kemana-mana sebagai Qiro'at Qur'an yang handal dengan segudang prestasi," katanya.

Awalnya kata KH. Ahmad Hidayat, pesantren Cijantung merupakan pesantren tradisional. Setelah itu pada tahun 1970, berkembang sekolah. Sekolah pertama yang berdiri adalah Madrasah Muta'alimin.

Kemudian perkembangan semakin pesat dan tahun 1977 berdiri Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Al-Islam sebab waktu itu pemerintah sangat membutuhkan tenaga guru. Tahun 1985, berdirilah MTs Al-Islam yang pada tahun 2010 kemarin berganti nama menjadi MTs Harapan Baru. Setelah ada MTs, berdiri pula Madrasah Aliyah pada tahun 1988. Kemudian Madrasah Aliyah tersebut di negerikan pada tahun 1997 dengan nama Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cijantung.

Dijelaskannya, Pesantren Cijantung tetap mempertahankan kekhususannya dibidang Tilawatil Qur'an. Agar, alumni pesantren Cijantung mempunyai perbedaan dengan yang lain dari segi penguasaan bacaan Al-Qu'an ataupun dalam berdakwah.

"Karena dari dulu pesantren Cijantung terkenal dengan pesantren Al-Qur'an yang banyak mencetak Qiro'at-qiro'at berprestasi," imbuh Kh. Ahmad Hidayat. (Feri Kartono/"KP")***

sumber: kabar-priangan.com
Muhammad Rizki Ramadhana, pelajar kelas 9 RSBI SMPN 2 Ciamis, peraih Medali OSN sekaligus medali Olimpiade Internasional pada mata pelajaran Matematika belum lama ini, mendapat beasiswa penuh dengan total Rp 150 juta, untuk melanjutkan jenjang pendidikannya di SMA Pribadi Bilingual Boarding School Bandung.

Putera Anas Mulyana, yang oleh rekan sekolahnya dijuluki 'sang profesor' ini, memang terbilang menguasai pelajaran bidang matematika.

Bahkan ibarat mesin penghitung, Rizki bisa menjawab soaal dengan cepat.

"Matematika sangat mengasyikan. Mungkin karena keasyikan, saya bisa menguasainya lebih cepat dibanding teman teman yang lain, dan bisa bebuah prestasi, " ujar Rizki, Kamis.

Penawaran beasiswa penuh dari SMA Swasta ternama di Kota Kembang tidak disia-siakan Rizki. Ia bersama orangtuanya langsung menandatangani kontrak atau surat perjanjian program beasiswa dengan Tn. Mirac Kiran general manajer yayasan sekolah internasional tersebut.

"Dari mulai uang pangkal, SPP, asrama, dan kebutuhan lainnya saya gak tau apa apa kalau saya sekolah disana. Jika ditotalkan dalam jumlah uang, beasiswa yang saya dapat sebesar Rp 150 juta," kata Rizki.

sumber: kabar-priangan.com
Satu lagi tokoh asal Ciamis yang muncul pada media berita dan layak mendapat apresiasi positif. Meski pemberitaan tertutup oleh gencarnya berita politik dan gosip, tetapi keberhasilan warga keturunan Ciamis ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Beliau adalah Bapak Owo Suyanto yang mendapat penghargaan sebagai transmigran teladan nasional pada tahun 2011 ini. Semoga prestasi ini membawa inspirasi pada masyarakat Ciamis dalam mencapai prestasi di bidang masing-masing.
foto: Aat Hidayat
KH. Irfan Hielmy lahir di Ciamis 25 Desember 1933 dan dikenal sebagai kiai moderat yang teguh memegang prinsip. Ia selalu menekankan kepada para santrinya untuk menuntut ilmu dimana saja dan dari siapa saja, agar memiliki wawasan yang luas. Sesepuh Kabupaten Ciamis yang juga pengasuh Ponpes Darussalam di Desa Dewasari Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis ini wafat 18 Mei 2010 pukul 06.15 WIB pada usia 79 tahun.

Tidak sebagaimana lazimnya pengasuh Pondok Pesantren umumnya, almarhum KH. Irfan Hielmy tidak pernah belajar di banyak pesantren, tetapi lebih banyak otodidak murni, disamping bekal dari ayahnya. Sang ayah adalah Kiai Ahmad Fadlil, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Cidewa semasa masih hidupnya.

Setiap hari KH. Irfan Hielmy selalu memacu diri dengan membaca dan paling sedikit menghabiskan 50 sampai 100 halaman. Pengagum Imam al-Ghazali ini, menaruh minat besar pada Tafsir-Hadits dan perbandingan antar mujtahid. Kiai yang mempunyai spesialisasi Ilmu Nahwu-Balaghah-Manthiq ini, mengasuh dua ribu lima ratus lebih santri yang datang dari berbagai daerah di Nusantara. Khittahnya adalah untuk menjadikan para santrinya sebagai Muslim yang moderat, Mukmin yang demokrat dan Muhsin yang diplomat.

Wafatnya almarhum menyisakan isak tangis bagi ribuan santri, alumni, dan warga Ciamis yang memadati kompleks Ponpes Darussalam. Suasana haru terlihat saat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan didampingi Bupati Ciamis Engkon Komara dan kerabat keluarga melepas jenazah untuk dikebumikan di kompleks pemakaman keluarga Darussalam.

KH Irfan Hielmy wafat karena penyakit liver, jantung, dan diabetes yang dideritanya sejak enam bulan terakhir. Almarhum meninggalkan enam anak, 17 cucu, dan 3 cicit. Selain menjabat Ketua MUI Ciamis, KH. Irfan Hielmy banyak berperan dalam pendidikan keagamaan dan moral masyarakat.

KH. Irfan Hielmy dikenal sebagai salah satu dari lima ulama kharismatik Jabar yang terakhir. Empat ulama kharismatik Jabar yang lebih dulu wafat yakni KH. Ilyas Ruhiyat (sesepuh Ponpes Cipasung Tasikmalaya), KH. Anwar Musaddad (sesepuh Ponpes Musadadiah Garut), KH. Totoh Abdul Fatah (sesepuh Ponpes Al-Jawami Cileunyi), serta KH. Abdulah Abbas (sesepuh Ponpes Buntet). KH. Irfan Hielmy merupakan sesepuh sekaligus ulama kharismatik Jabar terakhir yang terus mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

foto: facebook
Prof. Dr. Endang Soetari Adiwikarta, mantan rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang sekaligus Pupuhu Umum Wargi Galuh Puseur, dalam tulisannya pada laman www.sunangunungdjati.com membuat ulasan sebagai berikut:

Wafatnya ‘Ulama merupakan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar umat Islam melipatgandakan perhatian tentang pembangunan pendidikan dan keilmuan, sebab wafatnya ‘Ulama sebagai pertanda dicabutnya ilmu dari kalangan umat Islam. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari masing-masing dada umat manusia, namun mencabut ilmu dengan mencabut (meninggalnya) ‘Ulama".

Bapak KH. Irfan Hielmy sejak muda menuntut ilmu di berbagai Pesantren, kemudian mendirikan Pesantren bersama ayahanda beliau, yakni Pesantren Darussalam Ciamis. Sampai akhir hayatnya beliau memimpin Pesantren Darussalam, sebuah Pesantren yang menjadi pusat pendidikan, da’wah dan pembangunan. Pesantren Darussalam memiliki lembaga pendidikan formal dan non formal.

Pendidikan formal yang diselenggarakan mulai dari tingkat prasekolah, tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Institut Agama Islam Darussalam mengelola Program Diploma, Program Sarjana, dan Program Magister Strata Dua. Pendidikan menengah dipercaya oleh Departemen Agama untuk menyelenggarakan Madrasah Aliyah Program Khusus, sebagai madrasah unggulan nasional. Sejak tahun tujuhpuluhan Pesantren Darussalam mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan Pendidikan Pesantren berbasis modernitas, lingkungan, dan ketenagakerjaan.

Pesantren Darussalam memiliki berbagai keunggulan yang kreatif dan inovatif, seperti Program Remaja Qur’ani pada setiap liburan sekolah. Dari keunggulan tersebut, tidak heran Pesantren Darussalam menjadi pemasok sumber daya manusia untuk musabaqah keagamaan, dan tenaga profesional di tingkat lokal, regional, dan nasional.

Bapak KH. Irfan Hielmy memiliki tingkat keilmuan yang sangat tinggi, melebihi kapasitas keilmuan pendidikan formal, dengan pemahaman yang komprehensif, dan mencetuskan pemikiran inovatif tentang Islam dan Pembangunan. Konsep Mu’min yang Moderat, Muslim yang Demokrat, dan Muhsin yang Diplomat, yang dikumandangkan Pesantren Darussalam merupakan pemikiran KH. Irfan Hielmy dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam pada mekanisme pembangunan bangsa. Di bidang politik, saya sering mendengar ungkapan beliau tentang perlunya menegakkan politik yang berakhlak dan mengembangkan akhlak melalui politik. Hal itu menunjukkan pentingnya keterpaduan iman taqwa dan ilmu pengetahuan teknologi dalam system pendidikan nasional dans mekanisme pembangunan bangsa.

Bapak KH. Irfan Hielmy, di samping sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ciamis, merupakan Sesepuh Tatar Galuh dan Tatar Pasundan, menjadi mitra dan penasihat Pimpinan Daerah dan Pimpinan Nasional, yang sering bertandang ke Pesantren, mulai Bupati, Gubernur, dan Presiden beserta jajarannya, dari lingkungan Pemerintahan Sipil, Militer, dan Kepolisian, begitu pula politisi dan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat. Kami dari jajaran Wargi Galuh Puseur, baik rengrengan Pangaping, Pakar, dan Pangurus, sering mendapat nasihat beliau untuk turut memikirkan pengembangan Tatar Galuh, untuk menuju Mahayunan Ayuna Kadatuan.

Bapak KH. Irfan Hielmy telah berhasil membina kader penerus, baik untuk bidang keagamaan, keilmuan, kepemimpinan, kemayarakatan, dan pembangunan, sehingga estafeta kepemimpinan Pesantren Darussalam dapat berproses secara baik, dan peran Pesantren Darussalam sebagai pusat pendidikan, da’wah, dan pembangunan dapat dilanjutkan dan dikembangkan.

Almarhum KH. Irfan Hielmy memang tokoh Ciamis yang sangat berpengaruh dan produktif dalam memberi kontribusi nyata mencerdaskan bangsa. Beberapa hasil karya tulis beliau sebagaimana disebut di laman page KH. IRFAN HIELMY di facebook:
  1. Bunga Rampai menuju Khairu Ummah (1994)
  2. Dakwah bi al-Hikmah (1997)
  3. Kumpulan Materi Pokok Khutbah Jum'at (1997)
  4. Masyarakat Madani: Suatu Ikhtiar Dalam Menyongsong Era Milenium Baru (1998)
  5. Pendekatan Keagamaan Dalam Menyelesaikan Masalah Kemasyarakatan (1998)
  6. Ukhuwwah Ahlus Sunnah: Khazanah Aqidah, Moral dan Spiritual dari Pesantren (1999)
  7. Pesan Moral dari Pesantren (1999)
  8. Wacana Islam, Bahan Telaah Anak Bangsa (2000) 
  9. Sentuhan Wahyu, Penyejuk Kalbu (2003), dll.
"Kepergian almarhum menjadi tanggung jawab kita semua untuk melanjutkan menyebarkan syariat Islam di Ciamis dan Jabar,serta memacu semangat masyarakat untuk menuntut ilmu," ungkap Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada saat pelepasan jenazah, sebagaimana diliput oleh seputar-indonesia.com.

Bupati Ciamis Engkon Komara atas nama pribadi, pemerintah daerah, dan mewakili masyarakat Ciamis menyampaikan rasa kehilangan atas kepergian almarhum, karena KH. Irfan Hielmy merupakan tempat menggantungkan diri. "Dalam kondisi saat ini terbilang sulit untuk mencari figur pengganti seperti beliau, untuk itu kami sangat kehilangan. Atas nama pribadi, pemkab, dan mewakili 1,6 juta penduduk Ciamis mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya," tuturnya.

KH. Asep Saeful Milah mewakili 10.000 alumni Ponpes Darusalam dan ulama Ciamis mengucapkan bela sungkawa. "Almarhum adalah ulama besar yang tidak akan terhenti nasihat dan ilmu-ilmu yang diamalkan selama masa hidup. ”Kami sangat merasakan kehadiran beliau, yang membuat kita bersama-sama tetap semangat menimba ilmu," ucapnya.

Semoga terus lahir ulama-ulama baru yang mumpuni untuk meneruskan jejak perjuangan KH. Irfan Hielmy di Tatar Galuh Ciamis khususnya, dan Jawa Barat serta Indonesia pada umumnya...
Banyak gadis cantik di Ciamis, tak perlu diragukan lagi. Tapi siapakah gadis cantik dari Ciamis yang paling fenomenal dalam lintasan sejarah? Tak berlebihan jika akhirnya muncul satu nama yang dijadikan jawaban oleh berbagai pihak. Nama ini memang menjadi salah satu bintang Ciamis yang paling populer, tidak hanya di benak orang Ciamis, tetapi diakui juga oleh masyarakat Indonesia.

Nike Ardilla adalah artis dan penyanyi wanita berbakat yang teropuler di jamannya. Lima tahun berkiprah di industri musik, Nike berhasil mengeluarkan 13 album. Tak hanya itu, Nike pun telah membintangi 12 film layar lebar dan 9 judul sinetron.

Ia terlahir dengan nama Rd. Rara Nike Ratnadilla. Rd. Rara adalah sebuah julukan kebangsawanan untuk seorang putri keturunan ningrat di Jawa Barat, Nike sendiri masih keturunan Raja Galuh. Adapun nama Nike Ratnadilla, berasal dari Ni yang diambil dari suku kata nama depan ibunya (Ningsirat), dan Ke,diambil dari suku kata bagian depan nama ayahnya (Kusnadi, Ku dirubah jadi Ke). Rat, diambil dari Ningsirat, Nadi diambil dari Kusnadi, dan ditambahkan lla sehingga jadilah nama Nike Ratnadilla.

Di awal kariernya, Nike menggunakan nama Nike Astrina dan sempat mengeluarkan single album berjudul 'Gadis Foto Model', yang merupakan sountrack film yang berjudul sama. Tahun 1990-an, Nike atas permintaan produser, Nike merubah namanya menjadi Nike Ardilla yang diambil dari nama belakangnya dan dengan nama tersebut ia berhasil menaklukan dunia hiburan di Indonesia. Nike juga memiliki nama kecil, yaitu Keke, Neng atau Amoy. Keluarga besar Nike biasa memanggilnya dengan sebutan 'Neng' (nama kecil buat anak perempuan di daerah parahyangan)dan Nikemania biasa memanggilnya dengan sebutan 'Teteh' (panggilan hormat untuk seorang wanita, biasanya wanita yg lebih tua di daerah sunda).

Album pertamanya laku lebih dari 500.000 copies, menyusul album ke-2 nya yang mensejajarkan Nike ke dalam musisi papan atas terjual 2 juta copies dan mendapatkan BASF Award 1990 best selling album. Album terakhirnya laku lebih dari 3 juta copies di indonesia saja, total dengan di penjualan ASEAN 5 juta copies. Karir Nike di dunia musik mungkin singkat hanya 6 tahun, tapi telah menghasilkan 10 album yang sukses dengan rata-rata penjualan album lebih dari 1 juta copies. Jika dihitung dari 10 major album dan album the best yang di release sampai sekarang mungkin Nike sudah merelease lebih dari 40 buah album musik.

Sampai belasan tahun setelah kematian Nike Ardilla orang-orang masih mengenang Nike Ardilla dan namanya pun masih melegenda. Tabloid Nova tahun 2007 dalam edisi yang ke-1000 eksemplar mengklaim bahwa Tabloid Nova edisi Nike Ardilla bulan maret 1995 sebagai Tabloid Nova terlaris sepanjang Nova beredar. Tahun 1986-2007 terjual lebih dari 850.000 eksemplar. Infotainment silet di edisi ke-100 menempatkan edisi Nike Ardilla sebagai rating tertinggi ke-2 silet setelah edisi perseteruan Rhoma Irama dan Inul Daratista.

Dominasi Nike Ardilla di tahun 1990-an tak terkalahkan. Film laris alias box office banyak di bintangi olehnya, sinetron dengan rating tinggi banyak menampilkannya di stasiun TV swasta waktu itu, dan dunia model pun di gelutinya. Nike menjadi gadis sampul 1990 adalah bukti nyata prestasinya. Festival tarik suara pun dijajal hingga meraih juara 1 lomba menyanyi se-asia pasific di shanghai china tahun 1991. Ia juga menjadi bintang iklan untuk berbagai produk. Tak pelak, jika di tanya siapa penyanyi dan artis yang paling popular di tahun 90-an, jawabannya Nike Ardilla.

Catatan media menunjukkan bahwa popularitas Nike tetap menjadi sorotan. Seorang kandidat gubernur, Agum Gumelar, sempat menjadikan rumah Nike Ardilla sebagai markas pemenangannya. Okezone.com melaporkan Jumat (8/2/2008), Agum bersama sejumlah tim suksesnya mendatangi rumah Nike Ardilla di Jalan Imbanagara 389, Ciamis, Jawa Barat. Saat tiba di tempat itu, Agum disambut ibu almarhumah, Nining Sihratu. Nampaknya Agum Gumelar yakin almarhumah penyanyi Nike Ardilla masih memiliki kharisma bagi penggemarnya. Karenanya, dia memakai rumah mendiang sebagai posko relawan Ciamis untuk pencalonan dirinya dalam Pilgub Jabar.

Nama mendiang Nike memang sedemikian fenomenal. Ia menjadi gadis cantik berdarah Ciamis yang paling terkenal. Sudahkah ada penggantinya kini? Bunga-bunga baru Tatar Galuh pasti sudah, sedang dan akan terus bermunculan dengan prestasi masing-masing. Semoga...

Artikel dirangkum CiamisManis.com dari referensi:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Nike_Ardilla
2. http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=5949.0
3. http://museumnikeardilla.blogspot.com
Ciamis selama tiga tahun berturut-turut (tahun 2008-2010) secara membanggakan berhasil meraih Piala Adipura. Kota manis pada tahun 2010 bahkan meraih Piala Adipura dan sekaligus menerima penghargaan Kalpataru atas nama Ujang Solikhin dalam kategori Perintis Lingkungan. Siapakah tokoh yang telah berjasa bagi lingkungan dan mengharumkan nama Ciamis tersebut?

Serda Ujang Solikhin menerima penghargaan dari Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/6)

Ujang Solikhin (42) beralamat di Desa Kertasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota TNI-AD, memanfaatkan sampah mejadi energi alternatif berupa briket arang organik sebagai sumber energi biomassa pengganti bahan bakar minyak tanah.

Hasil dari keluletan dan kreativitasnya ia dapat memproduksi arang briket sampah organik sebanyak 2 ton/hari, sehingga dapat memenuhi pesanan produk dari perusahaan teh di Cianjur. Kebutuhan sampah 12 ton/minggu sebagai bahan baku arang briket diperoleh dengan pola kemitraan berasal dari produksi kelompok masyarakat di Kecamatan Cijeungjing dan Padaherang yang dikirim secara berkala ke lokasi pengolahan utama di kawasan PT. Albasi Parahyangan. Kegiatan ekonomi kreatif yang gelutinya berhasil menanggulangi permasalahan sampah di Ciamis.

Menurut siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup tertanggal 8 Juni 2010, penghargaan Kalpataru tersebut diberikan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2010 bertemakan "Many Species. One Planet. One Future" yang kemudian di Indonesia diterjemahkan menjadi "Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Bumi Kita".

Dewan Pertimbangan Kalpataru dipimpin oleh Prof. Dr. Didin Sastrapadja menyatakan penghargaan Kalpataru diberikan kepada individu maupun kelompok masyarakat yang telah berjuang demi pelestarian lingkungan hidup.

"Saya bersyukur atas penghargaan ini, semoga ini bisa memacu semua pihak untuk terus melestarikan alam dan lingkungan sekitarnya," kata Ujang seusai menerima penghargaan dari Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/6).

Semoga apa yang telah di capai oleh 'Jendral Sampah Ciamis' dapat menjadi kebanggaan warga Kabupaten Ciamis dan memotiwasi warga Kabupaten Ciamis untuk lebih inovatif dalam memanfaatkan dan memelihara Lingkungan Hidup.

referensi:
1. http://www.menlh.go.id
2. tribunjabar
3. deniigo.wordpress.com
Laman CiamisManis.com nujuu ngupayakeun ngempelkeun artikel-artikel ngeunaan para inohong atanapi tokoh anu bibit buitna atanapi asalna ti wewengkon Ciamis. Mugia aya guna mangpaatna, aya pulunganeunana kangge urang sadaya.

Iwa Koesoema Soemantri, Tokoh Hukum Penggagas 'Proklamasi'

Bagi Anda yang pernah menimba ilmu di Universitas Padjadjaran (Unpad) atau melintas di depan kampus Universitas Padjadjaran, Bandung barang kali tak asing dengan nama Iwa Koesoema Soemantri. Setidaknya Anda mengetahui nama Iwa sebagai nama kampus Unpad yang terletak di Jalan Dipati Ukur, Bandung itu. Maklum Unpad memang memiliki beberapa kampus. Selain tersebar di beberapa lokasi di kota Bandung, Unpad juga memiliki kampus di Jatinangor, Sumedang.

Kembali ke cerita Iwa Koesoema Soemantri. Meski namanya diabadikan sebagai nama kampus, namun warga Unpad banyak yang tak mengenal lebih jauh siapa Iwa. Yang mereka tahu, Iwa adalah Presiden (kini biasa disebut sebagai Rektor) Unpad yang pertama.

Boleh jadi tak banyak yang mengetahui siapa dan apa yang telah Iwa berikan bagi negeri ini? Bisa jadi tak banyak pula yang tahu bahwa Iwa memiliki kontribusi dalam proses kemerdekaan negeri ini. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mencatat Iwa lah yang mengusulkan pemakaian nama ‘Proklamasi’ dalam naskah yang dibacakan Soekarno-Hatta mengatasnamakan rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya Soekarno hendak menamai teks itu dengan kata ‘Maklumat’.

Iwa adalah menak sunda asal Ciamis yang dilahirkan pada 30 Mei 1899. Ayah Iwa, Raden Wiramantri adalah Kepala Sekolah Rendah yang kemudian menjadi pemilik sekolah (school opziener) di Ciamis. Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan itu, Iwa beruntung bisa mengecap pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk anak-anak kalangan menak pribumi yang menggunakan pengantar bahasa Belanda.

Pernah setahun belajar di sekolah calon ambtenaar (pegawai pemerintah) di Bandung, Iwa memutuskan keluar dan pindah ke sekolah menengah hukum di Batavia. Setelah tamat, Iwa bekerja pada kantor Pengadilan Negeri di Bandung sebelum pindah ke Surabaya dan berakhir di Jakarta. Pada tahun 1922, Iwa melanjutkan studi hukumnya ke Universitas Leiden Belanda.

Pada saat kuliah di Belanda, Iwa aktif terlibat di Indische Vereeniging yang berubah menjadi Indonesische Vereeniging dan terakhir berubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Iwa bahkan tercatat menjadi ketua organisasi itu pada 1923-1924. Pada masa kepemimpinannya, Iwa meletakkan prinsip nonkooperasi sebagai asas organisasi.

Usai menamatkan kuliah, Iwa dan Semaun diutus oleh PI pergi ke Moscow untuk mempelajari Front Persatuan (Eenheidsfront) yang didengungkan oleh Komintern, semacam organisasi komunis internasional. Di satu sisi Iwa memang tertarik mempelajari sosialisme, tapi tidak untuk komunisme.

Kembali ke tanah air pada 1927, Iwa sempat bekerja di Bandung. Tak lama kemudia ia diminta pamannya membuka kantor pengacara di Medan. Di sana, Iwa tetap aktif dalam pergerakan dengan membuat surat kabar Matahari Indonesia serta mendekati kaum buruh dan tani yang tertindas. Iwa juga disebutkan pernah mendirikan SKBI (Sarekat Kaoem Boeroeh Indonesia) cabang Medan. Lantaran memiliki afiliasi dengan Moscow dan Komintern, para pemimpin SKBI ditangkap dan diasingkan. Termasuk juga Iwa yang pada Juni 1930 dibuang ke Bandanaira dan Makassar selama 10 tahun.

Ketika Jepang menaklukan Belanda, Iwa akhirnya dibebaskan. Jepang sempat mengangkat Iwa sebagai hakim Keizei Hooin (Pengadilan Kepolisian) Makassar. Tak lama setelah itu, Iwa akhirnya kembali membuka praktek sebagai pengacara di Jakarta.

Perjalanan hidup Iwa selanjutnya adalah saat dirinya diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia bersama tokoh lain seperti Latuharhary dan Soepomo. Dalam sidang PPKI, Iwa adalah salah seorang yang berpandangan rancangan UUD 1945 adalah konstitusi yang lahir dalam keadaan darurat dan sangat mungkin untuk diperbaiki. Makanya Iwa mengusulkan agar dimasukkan satu pasal yang mengatur tentang perubahan UUD 1945. Usul Iwa itu disambut oleh Soepomo. Setelah adanya pembahasan dan perdebatan, maka munculah Pasal 37 UUD 1945 yang mengatur tentang bagaimana cara untuk mengubah konstitusi.

Setelah merdeka, Iwa didaulat menjadi Menteri Sosial pada kabinet pertama. Tak lama kemudian ia bersama Mohammad Yamin, Soebardjo dan Tan Malaka sempat ditahan karena dianggap terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946.

Meski sempat ditahan atas tuduhan ‘kudeta’ Iwa masih dipercaya Soekarno untuk menduduki jabatan Menteri Pertahanan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo (1953-1955). Saat itu Fraksi Masyumi pernah mengajukan mosi kepada Iwa lantaran dituduh sebagai seorang komunis dan adanya upaya kudeta oleh Angkatan Perang Republik Indonesia. Boleh jadi karena dua tuduhan itu Iwa memutuskan mengundurkan diri dari kursi Menteri Pertahanan.

Pada 1957, Iwa diangkat menjadi Presiden Unpad. Lalu pada tahun 1961 diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Di pemerintahan, karir terakhirnya adalah sebagai Menteri Negara pada Kabinet Kerja IV (1963-1964) dan Kabinet Dwikora I (1964-1966). Iwa meninggal pada 27 September 1971 karena penyakit jantung.

Meski jasa-jasa Iwa terhadap negeri ini tak sedikit, pemerintah orde baru tak langsung menyematkan gelar pahlawan kepadanya. Baru kemudian pada masa pemerintahan Megawati, Iwa ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Sumber: Seratan FelerosXjunk di Kaskus (kantun aya rekamanana di tembolok Google)
www.CiamisManis.com memerlukan penelusuran beberapa saat sebelum menemukan catatan online mengenai bupati Ciamis yang baru saja memenangkan perebutan kursi Ciamis Satu. Siapa sebenarnya bupati Ciamis sekarang?