Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts
Nama Pulau Kooders disematkan sebagai penghormatan dan penghargaan kepada sosok Dr. S.H. Kooders. Ia adalah pendiri dan ketua pertama dari Nederlandsch Indische Vereeniging Tot Natuurbescherming, sebuah perkumpulan yang bergerak dalam perlindungan alam di Hindia Belanda.

Dr. S.H. Kooders yang hidup pada tahun 1863 sampai 1919 memiliki andil besar dalam memperjuangkan penetapan secara resmi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda terhadap 55 lokasi cagar alam (natuurmonument), termasuk didalamnya kawasan Situ Lengkong Panjalu.

Penetapan tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouvarnuer-Generaal van Nederlandsch Indie) pada tanggal 21 Februari 1919, Nomor 6 (Staatsblad No. 90), sebagaimana ditulis dalam situs ditjen PHKA Kemhut RI.


Pulau Kooders lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Pulau Nusa Gede atau Nusa Larang. Nama 'Pulau Kooders' ditetapkan menjadi nama resmi pulau di tengah Situ Lengkong tersebut pada tanggal 16 Nopember 1921. Tanggal tersebut adalah tepat dua tahun setelah Dr. Kooders meninggal dan dimakamkan di Batavia (Jakarta) pada tanggal 16 Nopember 1919. Tidak hanya nama pulaunya yang disebut Pulau Kooders, cagar alamnya pun -seluas 16 hektar- ditetapkan secara resmi bernama 'Cagar Alam Kooders'.

Pulau Kooders atau Nusa Gede menyimpan pula keunikan kisah asal-usulnya (sasakala). Tempat tersebut hingga kini tetap menyimpan potensi wisata berupa danau, hutan cagar alam dengan segala kekayaan sumber daya hayatinya, dan makam keramat bersejarah yang terus didatangi oleh para pengunjung. Pemerintah Kabupaten Ciamis sudah menetapkan Nusa Gede sebagai lokasi wisata ziarah.

Situ Lengkong dan Nusa Gede, yang dulu diresmikan sebagai Cagar Alam Kooders, kini digadang-gadang sebagai lokasi wisata andalan Ciamis di wilalyah utara. Pembenahan sarana dan prasarana untuk mendukung potensi ini masih terus disempurnakan, agar semakin menjaring wisatawan. Kemajuan sektor pariwisata di kawasat tersebut diharapkan dapat membangkitkan pula potensi ekonomi masyarakat sekitarnya.
Penelusuran mengenai informasi obyek wisata alternatif di sekitar wilayah Kabupaten Ciamis akan mengantarkan kita pada Curug Tujung Cibolang yang berada di Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu. Lokasi wisata yang memiliki kisah asal-usul (sasakala) menarik ini berada di sekitar 35 kilometer sebelah utara pusat kota Ciamis. Sayangnya, obyek wisata yang sudah dibuka sejak sekitar dua puluhan tahun yang lalu tersebut dinilai memiliki sarana dan prasarana yang masih serba 'alakadarnya'.

Pengembangan obyek wisata Curug Tujuh Cibolang boleh dikatakan minim polesan, dan masih sangat orisinil. Pembangunan fasilitas pendukung, meski sudah ada, tetapi jauh tertinggal jika dibanding perhatian terhadap maskot pariwisata Pantai Pangandaran yang kini melepaskan diri menjadi bagian dari kabupaten baru.

foto: http://morincirebon.blogspot.com
Pemisahan diri Pangandaran rupanya mau tidak mau membuka mata berbagai pihak pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan secara sungguh-sungguh pengembangan potensi pariwisata lain. Curug Tujuh Cibolang, Situ Lengkong, Karang Kamulyan dan Astana Gede Kawali merupakan beberapa obyek wisata yang berpotensi untuk lebih dikembangkan di masa depan.

Curug Tujuh Cibolang sendiri sebenarnya sudah mampu menyedot pengunjung dalam jumlah banyak, terutama berasal dari kaum muda. Pendapatan di hari libur sekolah atau hari raya Lebaran, sebagaimana dilaporkan oleh Poskota, dapat meningkat hingga tiga kali lipat dan mencatatkan pembukuan hingga 10 juta rupiah perharinya dari penjualan tiket masuk.

Hal tersebut menjadi ironi yang dipertanyakan oleh warga setempat, karena meskipun dapat menarik pengunjung hingga ribuan orang di musim liburan, tetapi penambahan sarana dan prasarana terkesan lamban.

Penambahan fasilitas yang memadai, diyakini dapat meningkatkan rasa nyaman pengunjung sewaktu melihat keindahan alam di kaki Gunung Sawal ini. Peningkatan kualitas obyek wisata Curug Tujuh tersebut bukan hanya dapat mendongkrak arus kunjungaan, tetapi juga pasti berdampak pada peningkatan pendapatan pemerintah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Situs Batu Tulis Astana Gede jadi peninggalan Kerajaan Galuh di Ciamis, Jawa Barat. Di situs ini wisatawan bisa melihat cetakan telapak tangan, tapak kaki, dan tulisan dengan huruf Palawa yang tercetak di atas prasasti.

Lebaran kemarin, saya bersama keluarga mudik ke rumah nenek yang berada di Kawali, Ciamis, Jawa Barat. Nah, saat itu saya berkesempatan untuk mengunjungi Situs Batu Tulis Astana Gede.

Astana gede merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Galuh yang berkuasa di Jawa Barat. Konon, kerajaan ini sempat mengalami peperangan dengan Kerajaan Majapahit.


Destinasi wisata yang satu ini punya beberapa keunikan, seperti 6 buah prasasti yang bertuliskan huruf Palawa di atas batu, kalender kuno yang berupa garis-garis dan titik, serta cetalak telapak tangan dan tapak kaki yang tercetak di atas batu.

Cetakan telapak tangan dan tapak kaki ini disebut sakti oleh masyarakat sekitar. Soalnya, mereka percaya kalau orang yang hidup di masa lampau adalah sakti dan punya kekuatan. Sampai-sampai mereka bisa menulis, mencetak bentuk tapak kaki dan telapak tangan mereka di atas batu.


Di sini juga terdapat makam-makam generasi kerajaan. Salah satu di antaranya ada sebuah makam dengan bentuk yang tak biasa, dengan panjang kira-kira 5 sampai 7 meter!

Selain itu di musim tertentu, hutan yang mengelilingi lokasi situs ini akan dipenuhi kelelawar dengan ukuran super besar. Kelelawar-kelelawar tersebut akan menggantung di atas pucuk-pucuk pohon. Tidak cuma kelelawar, di daerah ini juga hidup kera liar. Di tempat ini juga terdapat sungai yang dipercaya menjadi cikal bakal nama Desa Kawali.


Tidak hanya punya 6 prasati yang menarik, harga tiket masuk destinasi ini juga cukup murah. Hanya membutuhkan Rp 3.000 saja, pelancong sudah bisa menikmati situs yang menjadi salah satu peninggalan kerajaan terbesar di Pulau Jawa ini.

Kalau mau lebih banyak mengetahui sejarah situs ini, ada pedagang yang menjual buku mengenai situs sejarah ini. Buku sejarah itu pun hanya dibandrol dengan harga Rp 10.000.

Untuk datang ke desa ini, membutuhkan waktu sekitar 30 sampai 40 menit. Dari Alun-alun Kawali, wisatawan hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit perjalan.

Cukup membayar Rp 7.000 dari Stasiun Kota Ciamis untuk sampai di Alun-alun Kawali. Kemudian, traveler bisa melanjutkan perjalanan dengan ojek yang ditarif Rp 5.000 hingga tiba di situs ini.

(publikasi ulang CiamisManis.com | sumber: tulisan Ilyas Nurrahman di detikTravel)

Masjid Agung Ciamis, Jawa Barat, terletak di jantung kota Kabupaten Ciamis. Posisinya sangat strategis di antara alun-alun kota (Taman Raflesia) Ciamis, Gedung DPRD, dan Kantor Bupati Ciamis. Masjid termegah, terbesar, dan bersejarah di Ciamis ini memegang peranan penting dalam membawa nilai-nilai dakwah dan syiar Islam bagi masyarakat setempat selama ratusan tahun.

Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1882, saat Ciamis dipimpin oleh Bupati Galuh Rd. A. A. Koesoemahdiningrat. Namun, baru dapat diselesaikan pada tahun 1902 kala tongkat estafet kepemimpinan Ciamis dipegang oleh Bupati Galuh Rd. A. A. Koesoemah Soebrata yang tak lain adalah putra bupati sebelumnya.

Bentuk masjid yang mengacu pada bentuk khas joglo, yakni atap berbentuk kerucut dengan tiga undakan bertingkat, tersebut digawangi oleh Pangeran Radjab selaku arsitek dengan dibantu oleh ahli bangunan Alhari Joedanagara. Bentuknya menjadi ciri khas bangunan masjid pada periode ini.

Bentuk masjid yang sekarang adalah hasil lima kali perubahan yang cukup signifikan. Pada renovasi pertama yang dilakukan tahun 1902, bentuk masjid dipertahankan. Perubahan hanya dilakukan pada serambi dengan memperluas halaman.

Renovasi kedua dilaksanakan pada 1958 di masa pemerintahan Bupati Rd. Yoesoef Suriasaputra, dengan pelaksana (pemborong) H. Juwinta. Beberapa perubahan yang mencolok dilakukan pada masa ini. Atap berbentuk kerucut yang awalnya menggunakan kayu diubah menjadi berbentuk bulat berbahan seng. Di bagian depan kanan dan kiri masjid dibuat menara berbentuk bulat yang juga terbuat dari seng.

Kemudian, renovasi ketiga dilakukan tahun 1982 pada masa kepemimpinan Bupati Drs. H. Soejoed. Renovasi ini selesai pada masa pemerintahan Bupati H. Momon Gandhasasmita, S.H sekaligus sebagai renovasi keempat.

Pada masa renovasi ketiga dan keempat ini, beberapa hal berubah secara drastis. Kubah yang semula berbahan seng diganti beton dan dibuat lebih tinggi, lantai yang sebelumnya dari tembok diganti dengan keramik, di sebelah utara masjid pada bagian depannya dibangun lagi satu menara, dan ruangan depan serambi masjid yang tadinya tertutup dibuat terbuka.


Pada renovasi terakhir tahun 2002 yang diprakarsai oleh Bupati H. Oma Samita, S.H., M.Si, masjid mengalami beberapa perubahan besar lagi. Yang paling mencolok adalah pada bentuk dan bahan kubah. Kubah yang semula hanya ada satu dan berbahan beton kini mendapat tambahan empat kubah dari fiberglass dan lebih tinggi daripada sebelumnya.

Selain itu, lantai yang semula berbahan keramik telah diganti dengan granit. Untuk pelapis dinding digunakan material marmer, perubahan ini membuat suasana dalam masjid lebih sejuk.

Di sebelah timur serambi masjid dibangun dua buah menara. Di bagian bawah menara dibangun basement yang berfungsi sebagai kantor, ruang rapat, perpustakaan, toilet, serta lorong bawah tanah yang menghubungkan ruang basement dengan serambi masjid.

(CiamisManis.com/sumber: duniamasjid.com)
Orang Indonesia tahu bahwa negerinya memiliki banyak tempat yang indah, dan layak dijadikan tujuan wisata. Masalahnya, keindahan tempat-tempat tersebut baru sekadar didengar dari cerita-cerita. Banyak juga yang menuliskannya dalam blog, namun sedikit sekali yang memberikan informasi secara tuntas. Akibatnya, saat ingin liburan, tujuan kita kembali lagi ke seputaran Bandung, Anyer, Bali, atau Lombok. Duh, bosan ya?

Untuk Anda yang menginginkan tempat wisata lokal yang tak begitu jauh, namun memberikan hiburan yang lengkap, silakan mencoba berkunjung ke kawasan Ciamis Selatan. Di kawasan pesisir ini Anda mungkin mengenal lokasi wisata bernama Pangandaran atau Green Canyon. Tetapi apa saja sih yang sebenarnya bisa dilihat di sana?

Batu Hiu

Melalui bukunya, Wisata Pesisir Ciamis Selatan, Edi Dimyati berusaha memberikan gambaran secara detail, kegiatan wisata seperti apa yang bisa kita dapatkan dengan berkunjung ke Pantai Pangandaran dan sekitarnya. Ternyata, saat liburan ke kawasan ini kita tidak hanya bisa bermain air di pantai, memancing, berendam, atau menikmati keindahan alam, tetapi juga berwisata budaya, petualangan, kuliner, bahkan ilmiah. Anda juga bisa berkuda, bersampan, dan terlibat dalam aktivitas masyarakat setempat.

"Saya memang memilih kawasan Ciamis Selatan karena penasaran ingin mengeksplorasi surga tersembunyi, sekaligus membantu mempromosikan wisata Indonesia. Ternyata Indonesia punya tempat wisata yang tak ada habisnya untuk dijelajahi," tutur Edi pada Kompas Female.

Dalam buku ini, Edi menguraikan 22 lokasi wisata alam, sejarah, dan petualangan, belum termasuk bab yang berisi tujuan wisata kuliner, industri rumah tangga, tempat mencari suvenir, juga terminal dan bandar udara. Informasi mengenai sebagian tempat tujuan wisata ini sudah diperolehnya melalui riset, sebagian besar lainnya ditemukannya secara langsung, dan melalui rekomendasi dari penduduk setempat atau dari dinas pariwisata.

Kelebihan Edi adalah dalam kepekaannya mengeksplorasi suatu kawasan. Dari sebuah kawasan yang membuat kita semula bertanya dengan penuh keraguan, "Memangnya ada apa sih, di sana?", Edi bisa memaparkan begitu banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ia juga banyak berinteraksi dengan penduduk setempat, sehingga bisa mendapat "bocoran" tentang tempat-tempat atau aktivitas yang tak banyak diketahui orang.

Di kawasan seluas 277.479 hektar ini, misalnya, terdapat Pantai Batu Karas yang ombaknya asyik untuk berselancar. Anda akan terkejut bahwa di sana pun ada tempat persewaan surfboard, lengkap dengan instruktur selancar yang akan memberikan kursus singkat cara berselancar bagi pemula.

Kemudian ada Karang Nini, dimana Anda bisa menikmati sunrise sekaligus sunset. Dari tempat yang sama, Anda bisa melihat Teluk Pananjung dan Pulau Nusa Kambangan. Ya, inilah pulau yang menjadi lembaga pemasyarakatan dengan "maximum security" di Indonesia. Selain itu Anda juga bisa melakukan wisata ziarah ke Gua Masigit Sela, Gua Maria, dan Gua Ronggeng.

Untuk wisata petualangan, Anda bisa mengeksplorasi gua di Gua Jepang, Gua Lanang, Gua Sumur Mudal, dan lain sebagainya. Ada arung sungai di Citumang, dengan rute yang bisa menaikkan adrenalin. Bila bosan bermain air dalam suasana alam, Anda bisa berpindah ke Pangandaran Waterpark.

Bagaimana bila bosan dengan semua wisata air tersebut? Edi akan mengajak Anda ke tempat penangkaran penyu, sanggar wayang, menonton aksi joki burung, sampai mengunjungi Museum Nyamuk!

"Supaya bisa mendapat wisata intinya minimal kita butuh waktu sembilan hari dalam satu garis jelajah di Ciamis Selatan. Tapi kalau wisatawan hanya punya waktu satu kali weekend atau tiga hari, sebaiknya diprioritaskan ke tempat pilihan saja, seperti Pangandaran, Taman Wisata Alam Pananjung, Green Canyon, Citumang, Batu Hiu, Penangkaran Penyu, dan Batu Karas," jelas pria yang juga mengelola blog PanduanSangPetualang.com ini.

Asyiknya, buku setebal 208 halaman ini banyak memberikan foto mengenai tempat-tempat wisata atau aktivitas yang bisa Anda kunjungi. Teksnya memberi gambaran singkat mengenai apa yang Anda dapatkan di sana, termasuk cara mencapai lokasi, harga tanda masuk di beberapa lokasi wisata, dan jadwal pertunjukan.

Hampir di setiap lokasi wisata Anda bisa menemukan pemandu wisata, atau penduduk lokal yang dengan senang hati akan menjadi penunjuk jalan atau menjelaskan sejarah suatu tempat. Namun dalam pengamatan Edi, pariwisata Ciamis masih menyimpan sedikit kekurangan. Pemerintah tampaknya masih mengandalkan Pangandaran dan Green Canyon, sedangkan infrastruktur jalan menuju lokasi wisata nomer dua yang sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan, belum tertata. Contohnya, jalan menuju Citumang belum bagus.


"Kekurangan lainnya, kebesihan pantai mesti jadi prioritas lagi. Kalau menjelang liburan, sampah di pantai biasanya banyak. Pemerintah mesti mengedukasi lebih lagi kepada setiap wisatawan domestik," tambah Edi. "Tetapi kendala seperti ini biasanya saya jadikan pengalaman seru saja dalam bertualang."

Terakhir, menurutnya wisata budaya dan industri rumah tangga juga perlu digembargemborkan lagi melalui promosi di media cetak. Buku ini, seharusnya bisa membantu promosi wisata pesisir di kawasan Ciamis Selatan.

(posted by CiamisManis.com/source: female.kompas.com/pic credits: flickr.com )
Suasana yang sepi cukup menunjang situ Haurgeulis, di Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga dimanfaatkan untuk bobogohan. Pasangan muda-mudi sengaja datang untuk menikmati suasana sepi situ yang sempat ramai dikunjungi pengunjung. Setiap harinya tidak kurang dari 10 pasang muda mudi menyempatkan diri untuk berkunjung ke lokasi Situ yang luasnya lebih dari 5 hektar.

Dede (60) warga setempat mengakui pada hari Sabtu dan Minggu banyak pasangan muda mudi yang berkunjung ke Situ Haurgeulis. "Rame diten saptu sareng mingu mah seueur nu bobogohan," katanya belum lama ini.

Menurut Dede pada awal pembangunan situ tahun 2004 lalu, sempat ramai banyak dikunjungi warga. Bahkan di situ sengaja disimpan dua buah perahu dan saung-saung persinggahan. Namun jumlah pengunjung menurun setelah terjadi tragedi ada yang meninggal saat berenang.

"Aya kana 6 sasih mah rame na teh, tos eta mah ngalelep," katanya.

Penataan situ saat ini kembali dilakukan pihak Desa. hanya saja masih belum sempurna dan belum bisa menarik wisatawan untuk berkunjung. Baru jalan disekeliling situ yang di perbaiki. Selebihnya belum ada penataan.

Masih butuh sentuhan dari pemerintah agar lokasi Situ Haurgeulis menjadi lokasi wisata yang menarik.

"Harus didukung dengan infrastruktur yang memadai agar lebih menarik pengunjung. Namun pemerintah anggaranya terbatas," kata Kepala Desa Sukahurip, Aan Rosad.

Saat ini pemerintah desa mengembangkan situ haurgeulis untuk lokasi pemancingan. Rencananya pada bulan April mendatang ikan yang sudah ditanam bebera bulan lalu siap dipancing. (Latif/Antik/KP)***

sumber: kabar-priangan.com


CIAMIS,(PRLM).-Memasuki penggantian tahun dan libur sekolah, beberapa objek wisata di Jawa Barat dipadati pengunjung salah satunya wisata air Green Canyon, Kab. Ciamis, Sabtu (31/12).

Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Dedi Mulyadi mengatakan tahun ini saja jumlah trip (perjalanan dengan perahu maksimal lima orang) sudah mencapai 30 ribu trip.

"Tahun 2010 saja sudah mencapai 25 ribu trip. Dengan kata lain, tahun ini sudah melebihi jumlah pengunjung 2010 hingga 5 ribu trip," katanya saat ditemui "PRLM", di lokasi wisata air Green Canyon, Sabtu (31/12).(A-194/kur)***

Sumber: PR Online
PANJALU (KP),- Pengunjung Situ Lengkong Panjalau, pada libur lebaran kali ini maupun pada bulan Maulid dan Isra mi,raj didominasi wisatawan dari Jawa Timur.

Demikian, tutur salah seorang penarik perahu, Yaya (35). “Setiap kali kami tanya penumpang yang naik ke perahu, rata-rata mengkaku dari daerah Jawa Timur. Mereka menyewa perahu untuk diantarkan ke tempat makam yang berada di tengah Situ dengan harga Rp 120 ribu per perahu, dan itu untuk sekali antar jemput lalu berkeliling ke wilayah situ Lengkong,” paparnya.

Ditambahkan Yaya, ketika musim libur lebaran atau pada bulan Maulid dan Isro mi'raj dari pagi hingga sore mendapatkan uang dari hasil sewa perahu Rp 1 hingga 1,5 juta per hari,” katanya. Namum pada hari-hari biasa kami hanya mendapatakan Rp 50 ribu, terkadang tidak sama sekali.

Sementara itu, menurut Sugiono (53), salah seorang pengunjung jiarah asal Jawa Timur, kedatangan mereka ke Situ Lengkong, menggunakan tiga bis bersama rombongan.

“Kunjungan ke Situ Lengkong itu bukan merupakan yang pertama kalinya, tetapi sudah ketiga kalinya,” katanya. K-17***

sumber: kabar-priangan.com
Desa Pananjung Pangandaran pada awalnya dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari Suku Sunda. Para pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil membuat mereka mudah untuk mencari ikan. Pantai Pangandaran memiliki sebuah daratan yang menjorok ke laut dan sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, dan tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai.

Museum Galuh Pakuan adalah salah satu tempat yang sayang untuk dilewatkan jika Anda berkunjung ke Ciamis. Kita dapat melihat lebih dekat benda-benda peninggalan masa kejayaan Galuh di jaman dulu dan mengambil semangatnya untuk membangun di masa kini dan mendatang.

Museum Galuh Imbanagara terletak di Jl. Mayor Ali Basyah No. 311 Imbanagara Raya Ciamis. Museum ini didirikan untuk mengamankan benda-benda pusaka dan dokumen sejarah Galuh Imbanagara Ciamis dan telah diresmikan oleh Bupati Ciamis pada tanggal 12 Mei 2004.

Situs Kawali merupakan peninggalan budaya dari masa prasejarah, klasik, dan Islam, serta dianggap penting bagi masyarakat Sunda. Dalam tradisi masyarakat setempat, Situs Astana Gede Kawali dikenal sebagai peninggalan sejarah masa kerjaan Galuh dari abad ke-13 Masehi.

Anda akan melihat situs yang terbagi dalam beberapa halaman teras; pada halaman paling atas terdapat makam kuno dari masa Islam, yaitu Kiai Dalem Adipati Singacala dan Ki Cakrakusuma, yang menerima ajaran agama Islam dan kemudian menyiarkannya. Di halaman bawah terdapat beberapa tinggalan arkeologis, seperti beberapa Prasasti Kawali dan Batu Pangentengan.

Selain itu juga terdapat prasasti berisi ajaran moral dari Prabu Raja Wastu, yang masih relevan hingga sekarang.

Situs ini berlokasi di Kampung Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, atau 15 km arah utara Ciamis. Kawali pada zaman dahulu kala merupakan pusat kerajaan Sunda Galuh. Seperti kita ketahui, Kerajaan Pajajaran pernah berpindah-pindah pusat pemerintahannya. Selain di Pakuan Pajajaran (Bogor) juga pernah di Galuh, yang lebih populer disebut Kawali.


Kerajaan Sunda Galuh dipimpin oleh raja yang turun-temurun melahirkan seorang raja besar bernama Niskala Wastukencana yang bergelar Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi. Dari raja Pajajaran ini, kelak lahir para penyebar agama Islam di tatar sunda (Jawa Barat), seperti Pangeran Walangsungsang yang mendirikan Kesultanan Cirebon, Nyai Larasantang yang melahirkan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati), dan Kian Santang yang lebih dikenal dengan kisah heroiknya.

referensi:
1. situs disbudpar jabar
2. blog mataharitimoer


Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata juga memiliki Green Canyon sendiri yang tak kalah cantiknya. Sebenarnya tempat ini punya nama asli yaitu Cukang Taneuh. Nama Green Canyon sendiri dipopulerkan oleh seorang warga Perancis pada tahun 1993. Sedangkan Cukang Taneuh punya arti yaitu jembatan tanah. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka.

Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru.

Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Semuanya itu membentuk seperti suatu lukisan alam yang begitu unik dan begitu menantang untuk dijelajahi.

Untuk mencapai lokasi ini wisatawan harus berangkat dari dermaga Ciseureuh. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu tempel atau kayuh yang banyak tersedia di sana. Jarak antara dermaga dengan lokasi Green Canyon sekitar 3km, yang bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Sepanjang perjalanan kita akan melewati sungai dengan air berwarna hijau tosca. Mungkin dari sinilah nama Green Canyon berasal.

Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.

Perjalanan akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.

Alur aliran sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.

Bagi Anda yang benar-benar ingin menikmati keindahan objek wisata Green Canyon harus paham dengan musim-musimnya. Karena saat terbaik untuk bisa menikmati keindahaan objek wisata ini adalah beberapa saat setelah masuk musim kemarau. Karena jika pada musim hujan, dikhawatirkan deras sungai dan warna airnya pun akan menjadi coklat.

Sebelum Anda memutuskan untuk ke Green Canyon, sebaiknya terlebih dahulu menyiapkan uang tunai yang cukup. Pasalnya, disana tidakada bank atau ATM. Untuk ATM, tempat penginapan dan fasilitas akomodasi yang lengkap bisa Anda dapatkan di Pangandaran.

Untuk akses berperahu, disana tersedia armada perahu yang cukup banyak. Ada sekitar 100 unit perahu yang dapat mengantarkan Anda untuk menelusuri objek wisata ini. Pada setiap perahu akan dilengkapi seorang juru dan tugas batu untuk memandu Anda dalam perjalanan.

Rute perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Green Canyon yaitu :

Dari JAKARTA dan BANDUNG,

Anda bisa mengikuti Rute Arah ke Jawa Tengah dengan melalui Kota Tasik-Ciamis Kota-Kota Banjar- Pangandaran.

Dari JAWA TIMUR dan JAWA TENGAH,

Untuk JAWA TIMUR anda dapat menuju Arah JAWA TENGAH terlebih dahulu, lalu dilanjutkan untuk mengambil jalur ke Jawa Barat dengan mengikuti jalur Arah (Purworejo-Kebumen-Wangon-Banjar- Pangandaran-Ciamis).

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum, tentunya tidak usah repot memikirkan rute. Karena sopir akan membawa Anda Langsung ke Pangandaran(Green Canyon). Tapi yang perlu diperhatikan yaitu tempat Anda Menginap disana, anda bisa memilih penginapan yang terdapat di hotel-hotel yang tersedia banyak di Pangandaran atau bisa juga menginap di objek wisata Batukaras yang sangat berdekatan dengan Green Canyon. (untuk data informasi hotel anda bisa lihat pada list hotel yang tesedia di situs ini).

Selamat Menikmati Liburan Panjang dengan Keluarga Anda, Kunjungi dan Nikmati Potensi Objek Wisata Kabupaten Ciamis yang lain, yang tidak kalah menariknya dengan Green Canyon.

TIKET MASUK OBJEK WISATA CUKANG TANEUH (GREEN CANYON)
a. Tiket Perahu/Parkir Rp. 57.500,-
b. Tiket Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 12.500,-

sumber artikel: mypangandaran.com
[sumber foto: www.niceworldtour.com, foto lainnya ada disini]


Kecintaan seorang pemimpin pada rakyatnya, dan kesedihan yang timbul melihat penderitaan mereka, dapat membawa jawaban dan kebahagiaan pada akhirnya. Itulah mungkin pesan moral dari kisah sasakala Curug Tujuh Cibolang Ciamis. Konon terbentuknya curug tujuh menurut keterangan berasal dari kisah jaman dahulu kala, manakala terdapat seorang penguasa atau raja di wilayah tersebut, yang pada suatu waktu merasa sangat prihatin melihat keadaan di wilayahnya yang sangat menderita akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering kerontang sehingga rakyatnya dirundung malang berkepanjangan.

photo credit to: druidabruxux

We're searching photos of Ciamis tourism destinations, and have found these pictures on flickr. Have you visited Green Canyon at Ciamis? It would be nice to put this place as a tourism destination on your next vacancy.
Page CIAMIS di facebook kenging kintunan foto ti Kang Elan Rakhlan, salah sawios anggota halaman komunitas kasebat. Ieu foto jembatan Cirahong teh dijepret waktos sasih siam kapengker (2010), kalayan diimplik-implikan patarosan taun iraha jembatan ieu diwangun. Mangga nyanggakeun waleranana, mugia janten panambih wawasan kangge urang.

Jembatan Cirahong dibangun pada tahun 1893 untuk menghubungkan kota Bandung dengan kota Yogyakarta. Jembatan Cirahong juga diperkuat kembali pada tahun 1934. Hingga sekarang, jembatan tersebut masih kokoh berdiri. Bahan konstruksinya berasal dari baja dengan rusuk pelat, dinding rangka atas dengan rusuk kontinue.

CIAMIS, (PRLM).- Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada liburan akhir dan awal tahun baru 2011 sekarang, Pangandaran kembali diserbu puluhan ribu wisatawan. Wisatawan yang datang bukan hanya dari kawasan Jawa Barat, melainkan juga dari luar Pulau Jawa dan mancanegara.

Berdasarkan pantauan "PRLM", membeludaknya wisatawan ke objek wisata primadona ini terlihat sejak sehari sebelum malam pergantian tahun. Hal itu terlihat dari meningkatnya volume kendaraan yang masuk ke kawasan Pangandaran, baik roda dua maupun roda empat.

Sejak Jumat sore (31/12) , jumlah kendaraan yang masuk ke kawasan Pangandaran semakin banyak saja. Antrian panjang kendaraan pun tidak terhindarkan lagi, apalagi menjelang tibanya Magrib. Akhirnya, lepas Isya, Pangandaran sudah penuh sesak.

Menurut keterangan Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Drs. Muklis, kendaraan yang masuk ke kawasan Pangandaran sehari sebelum pergantian tahun baru dan pada hari H, diperkirakan sebanyak 15 ribu kendaraan. "Sedangkan jumlah wisatawannya diperkirakan mencapai 30 ribu orang," kata dia.

Sayangnya, pesta pergantian tahun di Pangandaran tersebut diwarnai aksi perkelahian. Aksi perkelahian terjadi saat Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Karang Taruna setempat mengadakan pagelaran musik hiburan Pangandaran Beach Party di kawasan pantai.

Perkelahian pertama terjadi saat grup band lokal membawakan lagu keduanya. Saat itu penonton yang sedang berjoget tiba-tiba ricuh. Mereka saling dorong dan saling pukul. Untungnya, panitia bisa meredam perkelahian.

Perkelahian berikutnya terjadi saat acara berjalan lebih dari dua jam. Perkelahian antar penonton yang berjumlah banyak itu sempat menghentikan pagelaran musik tersebut.

Tepat pada jam 12 malam, Pangandaran begitu meriah. Langit Pangandaran indah dengan ledakan kembang api. Suara terompet terdengar di mana-mana, memekakkan telinga. (A-112/kur)***

sumber berita: pikiran-rakyat.com (Sabtu, 01/01/2011 - 16:57)
sumber foto: http://wisatabagus.blogspot.com
Nama Karangkamulyan tentu tidak asing lagi bagi warga Ciamis. Tetapi apakah semua dari kita sudah mengetahui seluk beluk mengenai situs destinasi wisata lokal ini? Kutipan artikel berikut ini mudah-mudahan bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan bagi kita.

Situs Karangkamulyan

Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Curug Tujuh (Seven Waterfalls) ecotourism can be achieved from Sub Panjalu (5 km), and from District Ciamis (31 km) and Bandung (112 km). Road conditions are generally paved and passable four-wheeled vehicles.


Public transport facilities are motorcycle taxis only. This tourism object has 7 (seven) fruit waterfall (curug) found on a hill at the foot of Mount Sawal. This location had always been considered a region still haunted and supernatural beings places by residents around. Seven Curug to the location, quite attractive with Cibolang landscapes include: forest and mountain scenery, waterfalls and natural scenery.


Seven Curug used for daily tours and camping tours. Daily tourism activities that can be done is to bathe in the waterfall, pikinik, stroll, hike and saw a pig race, while the camp is available for 1 camp complex area approximately 2 ha.

Source: www.infotempat.com

Alhamdulillah, aya ku bagja, kenging oleh-oleh ti Ki Dulur. Ngalangkungan milis urangciamis, anjeuna ngintun artikel anu diserat ku Kang Mustafid ngeunaan Kampung Kuta, salah sawios lembur anu masih nyepeng adat ti karuhun kalawan pengkuh. Sumangga diaos nyalira nya.


Kampung Kuta

Kampung Kuta adalah dusun adat yang masih bertahan di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis. Kampung adat ini dihuni masyarakat yang dilandasi kearifan lokal, dengan memegang budaya pamali (tabu), untuk menjaga keseimbangan alam dan terpeliharanya tatanan hidup bermasyarakat. Salah satu yang menonjol adalah dalam hal pelestarian hutan, sekaligus mempertahankan kelestarian mata air dan pohon aren untuk sumber kehidupan mereka.

Karena penghormatan yang tinggi terhadap hutan, warga Kampung Kuta yang hendak masuk ke kawasan hutan tidak pernah mengenakan alas kaki. Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik.


Secara administratif, Kampung Kuta berada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kecamatan Tambaksari, tepatnya di dalam Desa Karangpaningal. Kampung Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil angkutan umum ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok, dan tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan umum atau ojeg, dengan kondisi jalan serupa.


Upacara Adat Nyuguh

Sesuai warisan leluhur, acara nyuguh itu harus dilakukan di pinggir Sungai Cijolang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap, Jateng. Pernah satu kali acara nyuguh tak dilaksanakan, tiba-tiba seluruh kampung mendapat musibah. Padi yang siap panen rusak parah, sedangkan sejumlah hewan ternak ditemui mati menggelepar. Warga menyakini kerusakan itu terjadi karena "utusan" Padjadjaran itu tidak disuguhi makanan. Alhasil mereka pun mencari makanan sendiri dengan cara merusak kampung. Adapun perjalanan ke Sungai Cijolang sekitar lima kilometer.

Kini, Pak Kuncen pun kembali memulai ritual. Doa kembali dipanjatkan sebelum warga menyantap makanan yang tersedia. Setelah berdoa, seluruh warga kemudian menyantap makanan yang dibawa dari kampung. Makanan khas yang harus ada setiap upacara.

Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu upacara ritual tradisional Adat Kampung Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya.


Link sumber: Blog Kang Mustafid.