Showing posts with label sejarah ciamis. Show all posts
Showing posts with label sejarah ciamis. Show all posts
Mangga urang lajengkeun maos pedaran sajarah Galuh ti mangsa ka mangsa, anu ditalungtik ku ahli sejarah. Mugia nambih wawasan oge rasa reueus ngagaduhan lemah cai urang. Sumber artikel: http://usumhujan.wordpress.com

Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942)

Oleh: A. Sobana Hardjasaputra
(Putera Galuh, sejarawan dan pustakawan pada Fakultas Sastra Unpad)

3. Galuh di bawah kekuasaan Mataram

Di bawah kekuasaan Mataram, daerah-daerah di Priangan yang semula berstatus kerajaan berubah menjadi kabupaten. Galuh berada di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705.

Galuh pertama kali jatuh ke dalam kekuasaan Mataram, ketika Mataram diperintah oleh Sutawijaya alias Panembahan Senopati (1586-1601). Oleh penguasa Mataram, Galuh dimasukkan ke dalam wilayah administratif Cirebon. Setelah Prabu Cipta Sanghiang di Galuh meninggal, ia digantikan oleh puteranya bernama Ujang Ngekel bergelar Prabu Galuh Cipta Permana (1610-1618), berkedudukan di Garatengah (daerah sekitar Cineam, sekarang masuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya).

Prabu Galuh Cipta Permana yang telah masuk Islam (semula beragama Hindu) menikah dengan puteri Maharaja Kawali bernama Tanduran di Anjung. Selain Garatengah, di wilayah Galuh terdapat pusat-pusat kekuasaan, dikepalai oleh seseorang yang berkedudukan sebagai bupati dalam arti raja kecil. Pusat-pusat kekuasaan itu antara lain Cibatu, Utama (Ciancang), Kertabumi (Bojong Lopang), dan Imbanagara.

Mataram menguasai Galuh kemudian Sumedang Larang (1620) dalam usaha menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanan di bagian barat dalam menghadapi kemungkinan serangan pasukan Banten dan Kompeni yang berkedudukan di Batavia. Kekuasaan Mataram di Galuh lebih tampak ketika Mataram diperintah oleh Sultan Agung (1613-1645) dan Galuh diperintah oleh Adipati Panaekan (1618-1625), putera Prabu Galuh Cipta Permana, selaku Bupati Wedana.

Penguasaan Mataram terhadap Galuh dan Sumedang Larang sifatnya berbeda. Galuh dikuasai oleh Mataram melalui cara kekerasan, karena pihak Galuh melakukan perlawanan. Sebaliknya, Sumedang Larang jatuh ke bawah kekuasaan Mataram karena berserah diri, antara lain karena adanya hubungan keluarga antara Raden Aria Suriadiwangsa penguasa Sumdang Larang dengan penguasa Mataram.

Tahun 1628 Mataram merencanakan penyerangan terhadap Kompeni di Batavia dan meminta bantuan para kepala daerah di Priangan. Ternyata rencana itu menimbulkan perbedaan pendapat yang berujung menjadi perselisihan di antara para kepada daerah di Priangan. Dalam hal ini, Adipati Panaekan berselisih dengan adik iparnya, yaitu Dipati Kertabumi, Bupati Bojonglopang, putera Prabu Dimuntur.

Dalam perselisihan itu Adipati Panaekan terbunuh (1625). Ia digantikan oleh puteranya bernama Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (Cineam). Pada masa pemerintahan Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (Cineam) ke Calincing. Tidak lama kemudian pindah lagi ke Bendanegara (Panyingkiran).

Makam Adipati Panaekan terdapat di situs Karangkamulyan. (foto: midsummer/kaskus)
Ketika pasukan Mataram menyerang Batavia (1628), kepala daerah di Priangan memberikan bantuan. Pasukan Galuh dipimpin oleh Bagus Sutapura, pasukan Priangan dipimpin oleh Dipati Ukur, Bupati Wedana Priangan. Dipati Ukur memang mendapat tugas khusus dari Sultan Agung untuk mengusir Kompeni dari Batavia. Ternyata Dipati Ukur gagal melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, ia memberontak terhadap Mataram.

Pemberontakan Dipati Ukur yang berlangsung lebih-kurang empat tahun (1628-1632) merupakan faktor penting yang mendorong Sultan Agung tahun 1630-an memecah wilayah Priangan di luar Sumedang menjadi beberapa kabupaten, termasuk Galuh. Wilayah Galuh dipecah menjadi beberapa pusat kekuasaan kecil, yaitu Utama diperintah oleh Sutamanggala, Imbanagara diperintah oleh Adipati Jayanagara, Bojong-lopang diperintah oleh Dipati Kertabumi, dan Kawasen diperintah oleh Bagus Sutapura. Khusus kepala-kepala daerah yang berjasa membantu menumpas pemberontakan Dipati Ukur diangkat oleh Sultan Agung menjadi bupati di daerah masing-masing.

Tahun 1634 Bagus Sutapura dikukuhkan menjadi Bupati Kawasen—Kepala daerah lain yang diangkat menjadi bupati antara lain Ki Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti) menjadi bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta) menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha, dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih) menjadi bupati Parakanmuncang dengan gelar Tumenggung Tanubaya.) (daerah antara Banjarsari – Padaherang). Ia memerintah Kawasen sampai dengan 1653, kemudian digantikan oleh puteranya bernama Tumenggung Sutanangga (1653-1676).

Sementara itu, Dipati Imbanagara yang dicurigai oleh pihak Mataram berpihak kepada Dipati Ukur, dijatuhi hukuman mati (1636). Namun puteranya, yaitu Adipati Jayanagara (Mas Bongsar) diangkat menjadi Bupati Garatengah. Imbanagara dijadikan nama kabupaten dan Kawasen digabungkan dengan Imbanagara.

Pertengahan tahun 1642 Adipati Jayanagara memindahkan lagi ibukota Kabupaten Galuh ke Barunay (daerah Imbanagara sekarang). Pemindahan ibukota kabupaten yang terjadi tanggal 14 Mulud tahun He (12 Juni 1642—Sejak tahun 1970-an, Pemda Kabupaten Ciamis menganggap tanggal 12 Juni 1642 sebagai Hari Jadi Kabupaten Ciamis.

Mengenai Hari Jadi Ciamis, dibicarakan pada akhir tulisan ini, itu dilandasi oleh dua alasan. Pertama, Garatengah dan Bendanegara memberi kenangan buruk dengan terbunuhnya Adipati Panaekan dan Dipati Imbanagara. Kedua, Barunay dianggap lebih cocok menjadi pusat pemerintahan dan akan membawa perkembangan bagi kabupaten tersebut. Hal itu antara lain ditunjukkan oleh masa pemerintahan Adipati Jayanagara yang berlangsung selama 42 tahun. Selama waktu itu, daerah-daerah kekuasaan lain, yaitu Kawasen, Kertabumi, Utama, Kawali, dan Panjalu dihapuskan. Semua daerah itu menjadi wilayah Kabupaten Galuh. Dengan demikian, Kabupaten Galuh memiliki wilayah yang sangat luas, yaitu dari Cijolang sampai ke pantai selatan dan dari Citanduy sampai perbatasan Sukapura.

Setelah Adipati Jayanagara meninggal, kedudukannya sebagai bupati digantikan oleh Anggapraja. Akan tetapi tidak lama kemudian jabatan itu diserahkan kepada adiknya bernama Angganaya. Sementara itu, daerah Utama digabungkan dengan Bojonglopang, dikepalai oleh Wirabaya. Dipati Kertabumi yang semula memerintah Bojonglopang, dipindahkan ke Karawang dan menjadi cikal-bakal bupati Karawang.

Tahun 1645 setelah Sultan Agung meninggal, Amangkurat I putera Sultan Agung kembali melakukan reorganisasi wilayah Priangan. Wilayah itu dibagi menjadi beberapa daerah ajeg (setarap kabupaten), antara lain Sumedang, Bandung, Parakan-muncang, Sukapura, Imbanagara, Kawasen, Galuh, dan Banjar.
(bersambung)

Tulisan ini merupakan penggalan kedua dari tulisan lengkap mengenai sejarah Snouck Hurgronje di Ciamis, sambungan dari bagian pertama yang kami terbitkan beberapa waktu kebelakang. Tulisan lengkapnya pernah dimuat dengan judul Tentang Keris Ketemu Tutup pada majalah-tempointeraktif. Semoga bermanfaat untuk penambah wawasan sejarah kita.

TEMPO kemudian menemui Tayo Jayakusuma, cucu Bupati Raden Kusumasubrata, yang kini menjadi anggota Komisi B DPRD Kabupaten Ciamis. Informasi seputar Snouck, menurut Tayo, agak sukar dilacak karena memang ada upaya Snouck menutup-nutupi perkawinannya dengan menak Sunda. "Saya hanya pernah diberi tahu oleh ibu saya bahwa ada cucu Snouck di Ciamis," kata Tayo.

Ihwal tutup-menutup ini juga dibenarkan oleh sejarawan Nina Herlina Lubis. Menurut Nina, Snouck pernah mengeluarkan surat wasiat yang tidak boleh dibuka selama 100 tahun sesudah kematiannya (dia meninggal 1936). Surat wasiat itu sampai kini masih tersimpan di KITLT, institut kerajaan tentang ilmu bumi, bahasa, dan antropologi, di Belanda. Kelak, tahun 2036, wasiat Snouck mungkin akan menyingkap banyak rahasia.

Berikutnya, pelacakan berganti pada keturunan Snouck dari garis Siti Sadiah, putri Kalipah Apo, yang tinggal di Jakarta. TEMPO berhasil menjumpai cucu dan buyut Snouck dari Yusuf, anak satu-satunya Siti Sadiah. Yusuf, yang telah wafat 10 tahun silam, diketahui memiliki 11 anak. Yang sulung adalah Edi Yusuf, pemain bulu tangkis nasional.

"Keluarga kami tidak ada yang menyandang nama Hurgronje," kata Iki, putri Edi Yusuf atau cucu buyut dari Snouck. "Bukan karena ada larangan, tetapi karena sejak dulu memang begitu," kata Iki sambil menambahkan bahwa sampai kini keluarga besar keturunan Snouck kerap menggelar pertemuan guna mempererat silaturahmi.

Selain Iki, TEMPO juga berjumpa dengan Nita Kabul, anak kedelapan dari Yusuf.

"Nenek saya sangat mengagumi Snouck," kata Nita. Buktinya, Siti Sadiah (meninggal di tahun 1985) tidak pernah lagi mau menikah dengan orang lain sejak kepergian Snouck ke Belanda. Padahal, ketika itu Siti masih perempuan yang ranum di awal usia 20-an tahun.

Nita juga menuturkan bahwa nenek dan kakeknya rajin saling berkirim surat. Setumpuk surat yang diterima dari Snouck dikumpulkan dalam boks khusus, dan baru dibakar ketika Sadiah berumur 70 tahun. "Saya melihat sendiri ketika surat-surat itu dibakar," kata Nita. Alasannya, tutur Nita, "Nenek sudah merasa tua."

Berikutnya, Nita mengisahkan kedekatannya dengan Sadiah. Di masa kecilnya, saat masih SD, Nita kerap tidur dikeloni, dipeluk sang nenek. Dari kedekatan inilah dia tahu bahwa neneknya adalah istri kedua, di Ciamis, setelah Sangkana. Nita juga mafhum bahwa kakeknya telah menikah lagi dengan perempuan Belanda. "Ayah saya, Yusuf, sering bersurat dengan Christien, saudara tirinya yang ada di Belanda," kata Nita.

Pelacakan pada berbagai dokumen menunjukkan Snouck Hurgronje bukan hanya beristri tiga. Sebelumnya, yakni di Jeddah di tahun 1880-an, Snouck ditugasi pemerintah Hindia Belanda meneliti para mukimin—orang yang tinggal—di Mekah dan Madinah untuk mencari ilmu. Termasuk para mukimin ini adalah orang-orang Aceh yang melakukan perjalanan ibadah haji. Hasil penelitian diharapkan berguna untuk membantu mengatasi perlawanan rakyat Aceh.

Persoalannya, Mekah dan Madinah adalah kota terlarang bagi kaum nonmuslim. Demi kepentingan penelitiannya, Snouck tinggal di Jeddah dan mengaku diri sebagai muslim bernama Abdul Jaffar atau Abdul Ghofar. Dia bahkan menikah dengan perempuan Jeddah. Setelah mendapat pengakuan sebagai muslim, barulah Snouck bisa berlenggang memasuki Mekah dan Madinah.

Adaby Darban, pengajar di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menegaskan bahwa Snouck Hurgronje memang dikenal sebagai ilmuwan yang berdisiplin dan ulet.

Kendati bisa dipesan sesuai dengan kepentingan kolonialisme, sebagai antropolog Snouck meneliti dengan cermat dan mendasar. Dia pun tidak segan menikah dengan gadis-gadis putri tokoh masyarakat setempat. "Cara ini membuat dia bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat yang diteliti," kata Adaby. Metode participatory observer, pada akhir abad ke-19, bisa dibilang terobosan di bidang antropologi. Jurus ini memang jitu menghasilkan penelitian yang komprehensif dan menjadikan Snouck sebagai ilmuwan yang disegani.

Dalam perbincangan dengan Nina Herlina Lubis, Romo Zoetmoeldeer, murid Snouck di Yogyakarta, secara berolok-olok menyebut perilaku "nikah demi riset" versi Snouck ini sebagai "mobok manggih gorowong". Perumpamaan Sunda itu kira-kira berarti seperti keris ketemu tutupnya. Klop. (selesai)
Kata Aom bagi masyarakat Jawa Barat biasa diidentikkan dengan keturunan kaum bangsawan (menak) Sunda. Demikian halnya yang melekat pada diri Raden Aom Tur'at, tokoh perintis salah satu aliran silat asli di Tatar Galuh Ciamis. Para muridnya menceritakan bahwa sang guru berasal dari Bandung dan dilahirkan pada tahun 1878.

Raden Aom Tur'at berkelana di wilayah Ciamis pada tahun 1935 untuk menyebarkan seni beladiri tradisional 'maenpo' atau yang lebih dikenal sekarang sebagi pencak silat. Ia melahirkan aliran silat Aom Tur'at yang diramu selepas berguru dan mengambil intisari ajaran dari sepuluh guru silat kawakan. Salah seorang guru Raden Aom Tur'at adalah pendekar silat termasyhur bernama Juragan Haji Ibrahim atau Raden Djajaperbata, pencipta aliran silat Cikalong.

Raden Aom Tur'at (foto: Budayaku)
Raden Aom Tur'at yang mahir berbahasa Belanda ini mulai mengembangkan ajaran beladirinya di daerah Cijantung Ciamis, karena ia memiliki istri yang berasal dari wilayah tersebut. Sayang, kebersamaannya dengan isteri tercintanya tidak bertahan lama, karena selang beberapa tahun kemudian sang isteri wafat.

Ia menikah lagi pada tahun 1946, selepas Indonesia lahir menjadi sebuah negara merdeka dan lepas dari penjajahan ratusan tahun lamanya. Sang guru mempersunting Nyi Arsitem, yang juga dikenal dengan panggilan Nyi Itong, seorang janda dari kampung Cikatomas, desa Handapherang Ciamis. Perkawinan ini, jika merunut pada sumber yang tersedia, berlangsung tiga tahun sebelum Raden Aom Tur'at berpulang ke hadirat Ilahi.

Raden Aom Tur'at menjadikan Desa Handapherang sebagai pusat pendidikan pencak silat. Aliran silatnya kemudian menyebar ke berbagai daerah, dari mulai Cidewa Dewasari, Janggala Cidolog, Cimaragas, Karangampel Baregbeg, hingga Ciparigi Sukadana.

Olahraga beladiri pencak silat pada masa hidup Raden Aom Tur'at masih dikenal dengan nama maenpo, yang berasal dari idiom sunda 'maen usik nu tara mere tempo' (permainan gerak yang tak memberi waktu). Ia mendefinisikan maenpo dengan tiga pengertian, yaitu usik (gerakan), karep (kemauan yang kuat) dan rasa (dorongan batin).

Raden Aom Tur'at dikenal sebagai pribadi yang relijius dan taat pada ajaran agama. Ia dekat dengan guru-guru madrasah dan selalu memberikan nasihat-nasihat agama. Murid-murid maenponya diperintahakan untuk selalu menjaga sholat dan silaturahmi. Maenpo atau pencak silat diajarakannya untuk mendidik manusia agar ”hormat ka saluhureun, nyaah ka sahandapeun, deudeuh ka sasama” yang artinya menghormati yang lebih tua, mengayomi yang lebih muda dan menyayangi sesama.

Raden Aom Tur'at wafat pada tahun 1949, bersamaan dengan Agresi Militer Belanda ke II di Indonesia. Konon menurut catatan silatindonesia.com, Aom Tur'at tidak meninggal seperti pada umumnya, melainkan 'lenyap' secara tiba-tiba, atau disebut 'silem' dalam bahasa Sunda. Ia mengalami sakit sebelum meninggal, tetapi masih sanggup berjalan kesana kemari sambil tidak memakai baju, sehingga menjadi bahan perbincangan orang.

Raden Aom Tur'at, sang guru maenpo, menghilang pada usia 71 tahun dan tidak diketahui keberadaan kuburannya hingga saat ini. Meski demikian, keberadaannya tetap dikenang dan ajarannya dijaga serta dilanjutkan oleh para penerusnya.

Salah satu nasihatnya yang bernilai sangat dalam adalah, bahwa silat seharusnya menenangkan jiwa, dengan konsep gerak rasa 'rasa sajeroning rasa'. Baginya, belajar dan berlatih silat harus dalam keadaan yang terkendali. Mereka yang berlatih silat dalam keadaan emosi atau dipenuhi nafsu amarah tidak akam mendapatkan apa-apa. "Beu, lapur... (tidak ada hasilnya)" demikian acapkali diucapkannya.

Eman Hermansyah Sastrapraja, seorang seniman sekaligus penjaga warisan tradisi Tatar Galuh, menganggap aliran silat Aom Tur'at sebagai seni budaya leluhur yang harus dilestarikan. "Siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan (seni budaya Tatar Galuh) kalau bukan kita para keturunannya," katanya.
Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memerintah di Kabupaten Galuh selama 47 tahun, dari tahun 1839 sampai dengan tahun 1886. Bupati yang termasyhur akan keluhuran budi, kebijaksanaan dan banyak jasanya terhadap kabupaten Galuh ini dikenal pula dengan sebutan Kangjeng Prebu.

Sang bupati memerintah dengan adil bijaksana. Ia sangat menyayangi rakyatnya dan menjadi sosok fenomenal dalam sejarah kabupaten yang sejak tahun 1915 berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis. Kangjeng Prebu yang mahir berbahasa Belanda dan Perancis tersebut juga memiliki jiwa religius tinggi dan kepedulian terhadap penyebaran Islam di tatar Galuh. Bidang pendidikan juga menjadi prioritas utama di masa pemerintahannya, selain pesatnya pembangunan ekonomi dan infrastruktur.

Ketika Kangjeng Prebu memerintah, sebagian masyarakat Galuh masih mewarisi tradisi paganisme (pemujaan pada berhala) meski sudah menganut agama Islam. Banyak masyarakat masih memelihara arca berhala di rumahnya, dan menjadi sesembahan 'tandingan'.

Keberadaan arca-arca di rumah penduduk sangat meresahkan perasaan Bupati Galuh. Kangjeng Prebu memiliki kepedulian tinggi untuk melakukan syi'ar Islam, sehingga ia pun kemudian melakukan langkah-langkah yang cerdik dalam menghilangkan berhala-berhala dari rumah penduduk.

Sang bupati mengadakan pengajian keliling di wilayahnya, sekaligus membangun silaturahmi dengan rakyatnya. Ia memerintahkan rakyatnya untuk berkumpul menghadiri pengajian-pengajian tersebut.

Kangjeng Prebu memberi titah pada setiap pengajian yang diselenggarakan, menyuruh rakyatnya membawa arca yang ada di rumahnya. Ia tidak menghujat kepercayaan sebagian rakyatnya yang masih memelihara arca, tidak menjelek-jelekkan atau mengancam eksistensi mereka, melainkan menyatakan, "Ayo kita satukan saja arca-arca ini dengan arca yang aku miliki..."

Cara tersebut terbukti ampuh. Rakyat merasa senang saja diperintah seperti itu, bukan takut atau terpaksa. Perintah bupati memang menunjukkan bahwa sang pemimpin adalah 'bagian dari rakyatnya'. Kedekatan inilah yang membuat dalam waktu tidak lama kemudian rumah-rumah rakyat bersih dari arca.

Sebagian contoh arca di Situs Jambansari (foto: Disparbud Jabar)
Kisah tersebut menjelaskan ditemukannya banyak arca sekitar area situs Jambansari yang terletak di Rancapetir, kelurahan Linggasari, Ciamis. Arca-arca tersebut dikumpulkan sang bupati, lalu disekelilingnya ditanami pohon waregu yang merimbuninya.

Langkah dakwah Bupati Galuh berhasil mengurangi jumlah pemuja arca secara nyata, dengan tanpa menyakiti maupun menghinakan. Aspek kebijaksanaan dan keteladanan dalam strateginya juga mengandung nilai keluhuran budi dan pendidikan yang tinggi. Pembersihan tauhid dilakukan dengan bijak sembari menyelami perasaan dan nurani masyarakat.

Masyarakat Galuh yang hormat dan taat pada pemimpin bijak, akhirnya dapat diselamatkan aqidahnya, untuk menyembah Rabb semesta alam secara totalitas. Cara pendekatan sang bupati merupakan inspirasi bagi para pemimpin dan ulama dalam melakukan pendekatan pada masyarakat.

(CiamisManis.com)
Cerita asal-usul nama Kawali berkaitan dengan kisah Ciung Wanara dan Kerajaan Galuh yang dimuat dalam sumber naskah maupun tradisi lisan masyarakat Galuh. Sumber naskah yang memuat cerita itu, antara lain Wawacan Sajarah Galuh, seperti yang dimuat pada laman unpad.ac.id.

Dalam naskah tersebut diceritakan tentang seorang Raja Bojong Galuh (palsu) bernama Ki Bondan yang menyuruh seorang pandita sakti bernama Ajar Sukaresi, untuk menaksir bayi yang dikandung oleh istrinya, Nyai Ujung Sekarjingga. Sang Raja ingin tahu apakah anaknya laki-laki atau perempuan.

Sebenarnya, Raja tersebut hendak menipu Ajar Sukaresi, karena sebenarnya perut Nyai Ujung Sekarjingga terlihat besar disebabkan oleh kuali yang ditaruh di dalamnya, bukannya karena sedang hamil. Sang pandita yang sakti mengetahui niat buruk sang raja, dan ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar diberikan pertolongan.

Ia kemudian berkata bahwa anak yang sedang dikandung permaisuri adalah laki-laki. Raja menganggap jawaban pandita bohong sehingga orang tua tersebut harus dihukum. Pakaian Nyai Ujung Sekarjingga kemudian dibuka untuk membuktikan keyakinan Raja atas muslihatnya. Ternyata kuali yang dipasang di perutnya tidak ada dan Nyai Ujung Sekarjingg benar-benar mengandung.

foto: blogs.unpad.ac.id
Raja menjadi marah disertai malu menyaksikan kejadian itu. Pandita itu disuruh pulang, tetapi secara diam-diam raja memerintahkan Patihnya untuk membunuh sang pandita.

Kuali pada perut Nyai Ujung Sekarjingga sesungguhnya ditendang secara gaib oleh Ajar Sukaresi. Kuali itu kemudian jatuh di Kampung Selapanjang sehingga namanya diganti menjadi “Kawali” (kini terletak sekitar 11 km di sebelah utara Kota Ciamis). Adapun anak laki-laki Nyai Ujung Sekarjingga kemudian bernama Ciung Wanara.

Menurut cerita rakyat, tempat jatuhnya kuali itu menjadi mata air dan kolam yang disebut “Balong Kawali” atau “Cikawali”, yang sekarang termasuk dalam lingkungan Situs Astana Gede Kawali.

Ajar Sukaresi yang hendak dibunuh oleh utusan raja, pada awalnya tidak dapat dilukai karena kesaktiannya. Namun, ia akhirnya merelakan dirinya dibunuh. Dengan tubuh penuh luka, Ajar Sukaresi berjalan hendak kembali ke pertapaannya di Gunung Padang.

Dalam perjalanannya, luka Ajar Sukaresi mengeluarkan darah berwarna kuning di suatu tempat. Tempat itu kemudian disebut “Cikoneng”. Setelah lama berjalan, Ajar Sukaresi tergolek di atas tanah. Tempat ia tergolek itu kemudian disebut “Cikedengan”.

Ia kemudian berjalan lagi, tetapi jatuh lagi dan mengeluarkan darah yang berwarna bening. Daerah itu kemudian dikenal dengan nama “Ciherang”. Akhirnya, sampailah Ajar Sukaresi di pertapaannya.
Jaman dulu kala hiduplah seorang pengrajin batik di sebuah kampung bernama Babakan Nyangked. Sang pengrajin memiliki putri cantik yang bernama Utari. Kecantikan sang putri membuat banyak lelaki jatuh hati padanya.

Para pemuda yang jatuh hati itu lalu membuat lubang pada dinding bilik rumah Utari supaya dapat mengintip pujaan hati mereka kapan saja. Tempat ngintip (dalam bahasa Sunda disebut 'noong') itu kemudian dikenal dengan nama daerah 'Panoongan'.

Kecantikan Utari tersohor di Tatar Galuh. Kabar mengenai kejelitaan parasnya bahkan sampai kepada Sultan Mataram. Saat itu Tatar Galuh adalah sebuah kadipaten dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Raja Mataram lalu mengirim utusan untuk menjemput Utari ke kampungnya.

Utari kemudian diboyong ke ibukota kerajaan Mataram. Entah bagaimana perasaan sang putri kampung diboyong ke ibukota, senang atau sedih menghadapi kenyataan itu, tetapi bagaimanapun sebagai rakyat kecil, Utari dan keluarganya harus patuh pada titah raja. Menurut sumber cerita lain, konon Utari adalah salah satu dari tujuh gadis cantik yang dikirimkan Tatar Galuh sebagai upeti pada penguasa Mataram.

Nasib naas menimpa sang putri dari kampung Babakan Nyangked, ada anggota rombongan utusan Mataram ternyata menaruh hati padanya. Sang utusan yang dimabuk nafsu dunia akhirnya tak dapat menguasai dirinya, bahkan tak lagi menjaga titah rajanya. Ia kemudian menodai Utari dalam perjalanan menuju ibukota Mataram.

Utari sampai di Mataram dalam keadaan sudah tidak tampak cantik lagi, melainkan pucat dan tidak menarik. Boleh jadi kesedihan dan trauma telah menghapus kejelitaan dari paras mukanya. Ia kemudian mengakui bahwa dirinya sudah ternoda dan hal tersebut membuat Sultan Mataram murka.

Sang Raja memaksa Utari untuk mengakui siapa yang menodainya, tapi rupanya sebuah muslihat ancaman dari utusan Mataram yang jahat telah memaksanya membuat pengakuan bohong. Utari menyebut Adipati Imbanagara, penguasa Galuh, sebagai pelaku yang menodainya.

Raja Mataram murka dan memerintahkan pengiriman pasukan untuk menangkap dan membunuh Adipati Imbanagara. Sultan Mataram menganggap penodaan Utari bukan saja perbuatan tercela, tetapi penghinaan luar biasa pada kewibawaan tahta Mataram.

Adipati Imbanagara yang menjadi korban fitnah akhirnya ditangkap dan dibunuh. Tubuhnya secara sadis dipotong-potong dan menimbulkan kegemparan dan rasa marah rakyat Imbanagara. Perlawanan dilakukan rakyat untuk merebut kembali jenazah Adipati Imbanagara.

Jenazah sang adipati akhirnya dapat direbut kembali oleh pihak Imbanagara. Jasad sang pemimpin lalu dimandikan dan dikuburkan. Tempat pemandiannya kemudian disebut "Leuwi Biuk" sementara tempat penguburan potongan tubuhnya disebut "Gegembung". Tempat direbutnya bagian sikut sang adipati disebut "Sikuraja".

(ditulis kembali CiamisManis.com berdasar sumber tulisan Miftahul Falah yang merupakan bagian dari buku Sejarah Ciamis, diterbitkan tahun 2005 oleh Pemkab Ciamis dan LPPM Universitas Galuh, Ciamis. Link)

Lumbung, (harapanrakyat.com),- Monumen Patung Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Dusun Desa, Desa Sadewata, Kecamatan Lumbung Kabupaten Ciamis saat ini dalam keadaan kurang terawat. Akibatnya kondisi di sekeliling monument bersejarah tersebut nampak semrawut, padahal didalamnya terdapat simbol-simbol perjuangan kemerdekaan yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan.

Ending (56), warga setempat, Jum`at (11/5), mengatakan monumen patung pejuang Abung Kusman merupakan bukti perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia di masa penjajahan Belanda.

Menurut Ending, beberapa tahun silam monument tersebut masih dijaga, baik dari kebersihan ataupun kondisi bangunannya. Sayangnya, akhir-akhir ini penjagaan terhadap monument sudah tidak lagi dilakukan, sehingga kondisi monumen menjadi kurang terawat.

Kepada HR, Ending menjelaskan, di dalam ruangan monumen tersimpan rantai tank baja, pelg dan sang Saka Merah Putih. Keberadaan barang-barang tersebut, kata dia, bisa menjadi bukti kecintaan rakyat Indonesia terhadap NKRI.

Di tempat terpisah, Rasim, warga Ciledug, mengutarakan sisa rantai tank baja dan bekas pelg-nya konon merupakan peninggalan tank baja milik Belanda yang terperosok ke dalam jurang, sebelum menyerang TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Rasim menjelaskan, Abung Kusman seorang pejuang kemerdekaan di masa imperialis Belanda. Pejuang tersebut bersama rekannya, rakyat dan para pelajar melakukan perang gerilya melawan penjajah.

Dia juga menyayangkan, kini monument teresebut ditumbuhi rerumputan liar yang tumbuh dengan subur, kemudian juga terdapat banyak sampah dan sisa-sisa rokok yang berserakan.

Warga lain, yang enggan disebut namanya, menduga di lokasi monumen, selain kurang terawat juga sering menjadi ajang tempat bermain judi. Alasannya, dia mendapati sejumlah sampah dan diantaranya terdapat kartu domino (gapleh).

“Kalau bisa, monumen bersejarah ini dirawat kembali. Karena ini juga merupakan aset bersejarah yang dimiliki Kabupaten Ciamis,” pungkasnya. (dji)

sumber: harapanrakyat.com
Pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai zaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan zaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).

Kegiatan perdagangan Sunda, mengutip Sumber: wikipedia, juga diberitakan sudah terjalin hingga Malaka, bahkan sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Maladewa terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka. Jumlah perniagaan merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah Karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam zaman Pajajaran.

Prasasti yang terletak di desa Batu Tulis, Sukasari Bogor dibuat pada tahun 1533 M (1455 Saka) oleh Raja Surawisesa (1521-1535 M) untuk mengenang kebesaran ayahandanya, yaitu Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi yang memerintah Kerajaan Pajajaran tahun 1482-1521 M atau 1404-1443 Saka. (variety-indonesia)
Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.
Rahayat Ciamis sarua pada ngajalankeun ibadah puasa kalawan sabar jeung ihlas. Poena geus asup ka tungtung bulan, kabeh sarua geus nungguan datangna poe lebaran. Wanci geus manjing ka isuk, panonpoe nyorot alam buana ku cahya nu gumilang.

Taya nu nyangka, wanci isuk eta beja datang ti puseur kota, yen poe lebaran geus nepi.
Jiwa perjuangan para pahlawan dapat kita gali dari makna syair lagu Sunda legendaris yang sering kita nyanyikan sewaktu berada di bangku sekolah dulu. Semoga makna mendalam dari tembang 'Karatagan Pahlawan' gubahan pahlawan seni Sunda almarhum Mang Koko dapat menyegarkan kembali semangat kita. Silakan mendengarkan iramanya dengan meng-klik player yang terdapat dibawah lirik lagu.
Pernahkan Anda singgah berkunjung ke Banjarsari Ciamis atau sekedar melewatinya? Daerah ini ternyata menyimpan banyak cerita masa lalu yang mungkin sudah dilupakan oleh sebagian besar warga Ciamis khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Selain jarang diungkap, penyebarluasan informasinya pun memang terasa masih minim dan nyaris tidak terdengar, sehingga masyarakat umumnya tidak mengetahui sejarah Banjarsari. Sebuah tulisan dari Kang Mustafid Sawunggalih yang terdapat di halaman ini akan menambah wawasan kita tentang riwayat daerah tersebut. Selamat membaca dan kembali ke masa lalu.

Museum Galuh Pakuan adalah salah satu tempat yang sayang untuk dilewatkan jika Anda berkunjung ke Ciamis. Kita dapat melihat lebih dekat benda-benda peninggalan masa kejayaan Galuh di jaman dulu dan mengambil semangatnya untuk membangun di masa kini dan mendatang.

Museum Galuh Imbanagara terletak di Jl. Mayor Ali Basyah No. 311 Imbanagara Raya Ciamis. Museum ini didirikan untuk mengamankan benda-benda pusaka dan dokumen sejarah Galuh Imbanagara Ciamis dan telah diresmikan oleh Bupati Ciamis pada tanggal 12 Mei 2004.
Kangjeng Prebu adalah Bupati Galuh yang keenambelas dan paling ternama. Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin Galuh Ciamis (1839-1886).
Agresi Militer Belanda I atau Operasi Produk adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Agresi yang merupakan pelanggaran dari Persetujuan Linggajati ini menggunakan kode "Operatie Product". Tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum agar supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini.
Laman CiamisManis.com nujuu ngupayakeun ngempelkeun artikel-artikel ngeunaan para inohong atanapi tokoh anu bibit buitna atanapi asalna ti wewengkon Ciamis. Mugia aya guna mangpaatna, aya pulunganeunana kangge urang sadaya.

Iwa Koesoema Soemantri, Tokoh Hukum Penggagas 'Proklamasi'

Bagi Anda yang pernah menimba ilmu di Universitas Padjadjaran (Unpad) atau melintas di depan kampus Universitas Padjadjaran, Bandung barang kali tak asing dengan nama Iwa Koesoema Soemantri. Setidaknya Anda mengetahui nama Iwa sebagai nama kampus Unpad yang terletak di Jalan Dipati Ukur, Bandung itu. Maklum Unpad memang memiliki beberapa kampus. Selain tersebar di beberapa lokasi di kota Bandung, Unpad juga memiliki kampus di Jatinangor, Sumedang.

Kembali ke cerita Iwa Koesoema Soemantri. Meski namanya diabadikan sebagai nama kampus, namun warga Unpad banyak yang tak mengenal lebih jauh siapa Iwa. Yang mereka tahu, Iwa adalah Presiden (kini biasa disebut sebagai Rektor) Unpad yang pertama.

Boleh jadi tak banyak yang mengetahui siapa dan apa yang telah Iwa berikan bagi negeri ini? Bisa jadi tak banyak pula yang tahu bahwa Iwa memiliki kontribusi dalam proses kemerdekaan negeri ini. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mencatat Iwa lah yang mengusulkan pemakaian nama ‘Proklamasi’ dalam naskah yang dibacakan Soekarno-Hatta mengatasnamakan rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya Soekarno hendak menamai teks itu dengan kata ‘Maklumat’.

Iwa adalah menak sunda asal Ciamis yang dilahirkan pada 30 Mei 1899. Ayah Iwa, Raden Wiramantri adalah Kepala Sekolah Rendah yang kemudian menjadi pemilik sekolah (school opziener) di Ciamis. Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan itu, Iwa beruntung bisa mengecap pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk anak-anak kalangan menak pribumi yang menggunakan pengantar bahasa Belanda.

Pernah setahun belajar di sekolah calon ambtenaar (pegawai pemerintah) di Bandung, Iwa memutuskan keluar dan pindah ke sekolah menengah hukum di Batavia. Setelah tamat, Iwa bekerja pada kantor Pengadilan Negeri di Bandung sebelum pindah ke Surabaya dan berakhir di Jakarta. Pada tahun 1922, Iwa melanjutkan studi hukumnya ke Universitas Leiden Belanda.

Pada saat kuliah di Belanda, Iwa aktif terlibat di Indische Vereeniging yang berubah menjadi Indonesische Vereeniging dan terakhir berubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Iwa bahkan tercatat menjadi ketua organisasi itu pada 1923-1924. Pada masa kepemimpinannya, Iwa meletakkan prinsip nonkooperasi sebagai asas organisasi.

Usai menamatkan kuliah, Iwa dan Semaun diutus oleh PI pergi ke Moscow untuk mempelajari Front Persatuan (Eenheidsfront) yang didengungkan oleh Komintern, semacam organisasi komunis internasional. Di satu sisi Iwa memang tertarik mempelajari sosialisme, tapi tidak untuk komunisme.

Kembali ke tanah air pada 1927, Iwa sempat bekerja di Bandung. Tak lama kemudia ia diminta pamannya membuka kantor pengacara di Medan. Di sana, Iwa tetap aktif dalam pergerakan dengan membuat surat kabar Matahari Indonesia serta mendekati kaum buruh dan tani yang tertindas. Iwa juga disebutkan pernah mendirikan SKBI (Sarekat Kaoem Boeroeh Indonesia) cabang Medan. Lantaran memiliki afiliasi dengan Moscow dan Komintern, para pemimpin SKBI ditangkap dan diasingkan. Termasuk juga Iwa yang pada Juni 1930 dibuang ke Bandanaira dan Makassar selama 10 tahun.

Ketika Jepang menaklukan Belanda, Iwa akhirnya dibebaskan. Jepang sempat mengangkat Iwa sebagai hakim Keizei Hooin (Pengadilan Kepolisian) Makassar. Tak lama setelah itu, Iwa akhirnya kembali membuka praktek sebagai pengacara di Jakarta.

Perjalanan hidup Iwa selanjutnya adalah saat dirinya diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia bersama tokoh lain seperti Latuharhary dan Soepomo. Dalam sidang PPKI, Iwa adalah salah seorang yang berpandangan rancangan UUD 1945 adalah konstitusi yang lahir dalam keadaan darurat dan sangat mungkin untuk diperbaiki. Makanya Iwa mengusulkan agar dimasukkan satu pasal yang mengatur tentang perubahan UUD 1945. Usul Iwa itu disambut oleh Soepomo. Setelah adanya pembahasan dan perdebatan, maka munculah Pasal 37 UUD 1945 yang mengatur tentang bagaimana cara untuk mengubah konstitusi.

Setelah merdeka, Iwa didaulat menjadi Menteri Sosial pada kabinet pertama. Tak lama kemudian ia bersama Mohammad Yamin, Soebardjo dan Tan Malaka sempat ditahan karena dianggap terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946.

Meski sempat ditahan atas tuduhan ‘kudeta’ Iwa masih dipercaya Soekarno untuk menduduki jabatan Menteri Pertahanan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo (1953-1955). Saat itu Fraksi Masyumi pernah mengajukan mosi kepada Iwa lantaran dituduh sebagai seorang komunis dan adanya upaya kudeta oleh Angkatan Perang Republik Indonesia. Boleh jadi karena dua tuduhan itu Iwa memutuskan mengundurkan diri dari kursi Menteri Pertahanan.

Pada 1957, Iwa diangkat menjadi Presiden Unpad. Lalu pada tahun 1961 diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Di pemerintahan, karir terakhirnya adalah sebagai Menteri Negara pada Kabinet Kerja IV (1963-1964) dan Kabinet Dwikora I (1964-1966). Iwa meninggal pada 27 September 1971 karena penyakit jantung.

Meski jasa-jasa Iwa terhadap negeri ini tak sedikit, pemerintah orde baru tak langsung menyematkan gelar pahlawan kepadanya. Baru kemudian pada masa pemerintahan Megawati, Iwa ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Sumber: Seratan FelerosXjunk di Kaskus (kantun aya rekamanana di tembolok Google)
Mangga urang lajengkeun maos pedaran sajarah Galuh ti mangsa ka mangsa, anu ditalungtik ku ahli sejarah. Mugia nambih wawasan oge rasa reueus ngagaduhan lemah cai urang...

Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942)

Oleh: A. Sobana Hardjasaputra
(Putera Galuh, sejarawan dan pustakawan pada Fakultas Sastra Unpad)

2. Galuh Masa Kerajaan

Galuh memang pernah menjadi sebuah kerajaan. Akan tetapi ceritera tentang Kerajaan Galuh, terutama pada bagian awal, penuh dengan mitos. Hal itu disebabkan ceritera itu berasal dari sumber sekunder berupa naskah yang ditulis jauh setelah Kerajaan Galuh lenyap. Misalnya, Wawacan Sajarah Galuh antara lain menceriterakan bahwa Kerajaan Galuh berlokasi di Lakbok dan pertama kali diperintah oleh Ratu Galuh.
Artikel dihandap ieu sok sanaos parantos lawas namung kacida mangpaatna kangge urang Ciamis anu hoyong uninga sajarah wewengkon tempat gubragna ka alam dunya, lembur matuh banjar karang pamidangan. Mangga nyanggakeun, artikel sajarah anu dipedar ku ahlina, kenging nyutat ti website Dhipa Galuh Purba, sapertos anu dipublikasikeun di blog http://usumhujan.wordpress.com.

Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942)

Oleh: A. Sobana Hardjasaputra
(Putera Galuh, sejarawan dan pustakawan pada Fakultas Sastra Unpad)

Pengantar

Daerah Galuh yang sekarang bernama Ciamis memiliki perjalanan sejarah sangat panjang. Hal itu terbukti dari periodisasi yang dilewatinya, yaitu masa pra-sejarah, masa kerajaan (abad ke-8 – abad ke-16), masa kekuasaan Mataram, kekuasaan Kompeni, dan Belanda/Hindia Belanda (akhir abad ke-16 – awal tahun 1942), masa pendudukan Jepang (awal tahun 1942 – 15 Agustus 1945), dan masa kemerdekaan (17 Agustus 1945 – sekarang).
Para wargi, aya anu nyungkeun lagu mars Ciamis di fanpage CIAMIS di facebook. Tetela geuning masih aya anu kagungan kereteg hoyong ngahaleuangkeun lagu kameumeut ieu. Mangga atuh kahatur laguna, kantun ngiring dihaleuangkeun teks syairna. Laguna aya dina player dihandapeun teks, kantun diklik player-na. Wilujeng ngahaleuang.

MARS CIAMIS
vokal: Melissa Fania

Pakena gawe rahayu
Pakeun heubeul jaya di buana
Ciamis natar udagan
Mapag mangsa datang
Nanjung tur gumilang
Mahayuna kadatuan
Kiwari ngancik bihari
Ayeuna sampeureun jaga
Geusan mahayuna ayuna kadatuan

Ciamis manjang manisna
Ciamis manjing dinamis
Pangharepan pangwangunan
Kukuh ajeg pribadi
Raharja lemah cai


Nama Karangkamulyan tentu tidak asing lagi bagi warga Ciamis. Tetapi apakah semua dari kita sudah mengetahui seluk beluk mengenai situs destinasi wisata lokal ini? Kutipan artikel berikut ini mudah-mudahan bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan bagi kita.

Situs Karangkamulyan

Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.