Showing posts with label berita ciamis. Show all posts
Showing posts with label berita ciamis. Show all posts
CIAMIS, (KP).- Dampak pemekaran Pangandaran menjadi daerah otonom baru, tiga kecamatan yakni Kecamatan Padaherang, Mangunjaya dan Kalipu­cang yang selama ini diandalkan sebagai lum­­bung padi Kabu­paten Ciamis hilang.

Mulai tahun 2014 Pemkab Ciamis menetapkan Keca­matan Lakbok, Purwadadi dan Kecamatan Banjarsari sebagai Kawasan Strategis Cepat Tum­buh (KSCT) yang difokuskan pada pengembangan kawasan lumbung padi Ciamis.

“Kawasan strategis pengembangan pangan khususnya ta­naman padi tingkat kabupaten ada di Banjarsari, Lakbok dan Purwadadi. Baik kebijakan pengembangan budidaya, peningkatan produksi hingga stra­getis pemasaran gabah,” ujar Kabid Perekonomian Bappeda Ciamis, Drs Moha­m­mad Iskan­dar , kepada KP Selasa, (26/­11/­2013).

Pertimbangan memilih Kecamatan Lakbok, Puwodadi dan Kecamatan Banjarsari sebagai KSCT Lumbung Padi Ciamis karena Kabupaten Ciamis berhasil mengembangkan konsep agropolitan di lima kecamatan di wilayah Ciamis Utara meliputi Keca­matan Sukamantri, Pan­jalu, Panumbangan, Cihaur­beuti dan Lumbung.

“Sejak 10 tahun lalu, kebijakan pertanian khususnya hortikultura di lima kecamatan ini terus digenjot. Hasilnya, Kecamatan Suka­mantri dan sekitarnya menjadi sentra sayur mayur Ciamis. Cabe dan tomat asal dipasok ke Pasar induk Caringin Bandung, Pasar Induk Cikarang Bekasi, Pasar Induk Keramat Jati dan Tanah Tinggi Jakarta. Hasil produk­sinya sebagian ditampung oleh perusahaan saus skala nasional dalam bentuk kerja sama,” ujarnya.

Kepala Bidang penelitian dan Pengembangan Bappeda Ciamis, Drs H. Tino Armyanto menambahkan, dari sepertiga luas sawah di Ciamis, potensi lahan pertanian padi ada di Banjarsari, Lakbok dan Pur­wadadi.

Namun budidaya bercocok tanam , baik tingkat produksi maupun pemasaran gabah di tiga kecamatan tersebut masih tradisional sehingga cukup lambat dalam peningkatan kesejahteraan petani.

Kelemahan lainnya, di tiga kecamatan tersebut masih ada ratusan hektare sawah tak bisa ditanami jika musim hujan, karena tergenang banjir akibat pendangkalan saluran pembuangan air Ciseel.

“Masih banyak sarana pra­sarana yang harus diperbaiki untuk mewujudkan tiga kecamatan itu sebagai lumbung padinya Ciamis,” ujarnya. E-29***

Sumber: kabar-priangan.com
CIAMIS, (KP).- Maestro sinden Ronggeng Gunung asal Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari Raspi atau lebih dikenal dengan Bi Raspi Go Internasional, tampil nyinden dalam acara Biennal Singapure 2013 di Singapure Art Musim, Kamis (24/­10/2013) mendatang.

Kepergiannya diajak oleh seniman rupa Tisna Senjaya yang berniat mengkolaborasikan seni rupa, seni tarik suara dan seni tari ke dalam seni kontemporer. Untuk seniman tari Tisna menggandeng Nanu Muda Munajat dosen STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Ban­dung.

Ketua Bidang Seni dan Buda­ya LSM BADAR (Bank Daulat Rakyat) Pandu Radea saat ditemui Minggu (20/10­/2013) me­ngatakan, ini pertama kalinya maestro sinden Ronggeng Gunung asal Ciamis manggung di tingkat internasional. Namun Pandu menya­yang­kan, karena sampai saat ini belum ada kepedulian dari pemerintah setempat.

Hari ini Senin (21/10/2013) LSM Badar yang di ketua Johan akan beraudensi dengan Bupati. “Kami akan menjelaskan tentang kepergian Bi Raspi ke Singapura dan akan me­nanya­kan bagaimana kepedulian pemerintah dalam melestarikan budaya asli Ciamis,” kata Johan.

Sementara itu Kepala Bidang Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ciamis Agus Yani saat dihubungi melalui telepon Minggu (20/10/2013) akan membantu keberangkatan Bi Raspi ke Singapura. “Jika dilihat dari anggaran tidak ada anggaran untuk hal itu, tetapi saya akan membantu keberangkatan Bi Raspi ala­kadar­nya,” ujar Agus. E-36***

sumber: kabar-priangan.com
Harga hewan kurban (Sapi) di Hari Raya Idul Adha tahun ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal itu tampaknya mengakibatkan omzet penjualan menurun hingga 10% dari tahun sebelumnya. Meski begitu, namun peternak mengaku tetap meraup untung.

Dian Kusdiana, Peternak Sapi asal Dusun Desakulon, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, membenarkan bahwa omzet penjualan sapi kurban pada tahun ini menurun hingga 10%. Menurutnya, kenaikan harga bisa mencapai Rp. 1,5 juta hingga Rp. 3 juta. Hal itu tergantung jenis dan besar kecilnya sapi.

“Sapi yang layak untuk kurban berkisar di harga Rp. 13 juta hingga 14 juta per ekor. Ada pun harga sapi tertinggi ada yang mencapai Rp 38 juta per ekornya. Sapi itu jenis Simental dengan bobot hidup 840 kg dan bisa laku terjual karena pesanan seorang pengusaha,” katanya, kepada HR, Selasa (15/10).

Menurut Dian, kenaikan harga sapi akibat dari kenaikan harga pakan dan juga dari kenaikan harga BBM yang menyebabkan inflasi. “Tahun lalu, jika jelang Idul Adha, saya bisa menjual 125 ekor sapi. Namun, pada tahun ini meski menyetok 115 ekor, tapi sapi yang terjual hanya 90 ekor,” katanya.

Dian juga mengatakan, jenis sapi yang banyak diminta oleh konsumen di saat Idul Adha, lebih banyak memilih jenis sapi lokal. Sebab, selain dagingnya lebih bagus, harganya pun relatif terjangkau. “Sedangkan jenis sapi Ras, seperti Simental atau Limosin, selain sapinya dibuat cacat (diberi anting) oleh peternak, harganya juga sangat mahal,” terangnya.

Dian juga mengaku pada moment Idul Adha tahun ini dirinya memasarkan hewan sapi kurban di wilayah Kabupaten Ciamis dan wilayah Jabotabek.

Sementara itu, dari pantauan HR di sejumlah peternak, tingginya harga hewan kurban pada Idul Adha tahun ini, tidak hanya pada ternak sapi saja, tetapi untuk harga kambing kurban pun sama ikut melambung.

sumber: harapanrakyat.com
Kapolres Ciamis, Witnu Urip Laksana, menegaskan, pihaknya saat ini tengah memburu pelaku pelemparan bom molotov yang melukai 4 siswa SMP di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, yang terjadi pada Sabtu (12/10) malam. Diduga pelemparan bom molotov itu dilakukan oleh komplotan geng motor.

“Kita tengah mengumpulkan barang bukti lainnya untuk mengetahui motif aksi kejahatan tersebut. Kita juga sudah mengantongi identitas pelaku dan saat ini tengah dilakukan pengejaran oleh anggota kami, “ ujarnya, Minggu (13/10).

Witnu juga menjelaskan, pelaku yang diduga berjumlah puluhan orang itu sebelum beraksi berpura-pura membeli premium eceran di Jalan Veteran Kawali. Tetapi, setelah itu para pelaku tiba-tiba melemparkan bom ke kerumunan anak muda yang tengah berkumpul di depan sebuah sekolah.

“Korban seluruhnya mengalami luka bakar, diantaranya terkena di bagian leher belakang, kening, telinga, wajah, tangan dan kaki,” ungkap Witnu.

Dari informasi yang dihimpuh HR, korban Rizwan dan Agus merupakan warga Dusun Sukajadi, Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Rizwan mengalami luka bakar di bagian wajahnya. Sementara Agus terkena luka di bagian punggung serta beberapa bagian kulitnya mengelupas. Keduanya saat ini tengah mendapat perawatan medis di RSUD Ciamis.

Sementara Ismi Maulana, mengalami luka bakar di bagian leher belakang dan telinga. Saat ini, dia masih dalam perawatan medis di Puskesmas Kawali. Dan Fahmi hanya mengalami luka ringan dan sudah diperbolehkan pulang dari Puskesmas Kawali.

Yeti (35), orangtua dari korban Rizwan, mengatakan, saat malam kejadian anaknya tengah berkumpul bersama teman-teman di depan SD Negeri 1 Kawali. Tiba-tiba, mereka dikagetkan oleh suara knalpot motor yang datang dari arah Cirebon.

“Ketika melintas di kerumunan anak-anak, pengendara motor itu tiba-tiba melemparkan dua bom molotov. Langsung terjadi ledakan dan percikannya melukai anak-anak yang tengah nongkrong. Dari empat korban yang mengalami luka, paling parah anak saya,” kata Yeti seraya meminta pihak kepolisian secepatnya menangkap para pelaku.

sumber: harapanrakyat.com

SENI gondang buhun di Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupatan Ciamis, merupakan satu-satunya seni gondang yang masih tersisa di Tatar Galuh. Kondisinya terancam punah karena sudah tidak ada lagi generasi muda yang berminat untuk melanjutkannya.

Untunglah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar, lewat Balai Taman Budaya Jawa Barat, melalui program revitalisasinya berhasil menyelamatkan gondang buhun Kampung Adat Kuta dari ancaman kepunahan.

"Program revitalisasi gondang buhun ini sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu dan berhasil melahirkan dua grup baru dari generasi yang lebih muda. Semuanya berasal dari Kampung Adat Kuta," ujar Kabid Kebudayaan Disbudpar Ciamis, Drs Agus Yani, kepada Tribun pada acara helaran penampilan gondang buhun hasil revitalisasi di Alun-alun Kecamatan Tambaksari, beberapa hari lalu.

Menurut Ketua Adat Kampung Kuta, Karman, seni gondang buhun di Kampung Adat Kuta tersebut merupakan seni tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun sejak ratusan tahun lalu semenjak zaman Kerajaan Galuh yang diwarisi dari leluhur Kampung Kuta.

Gondang buhun selalu menjadi penampilan wajib setiap ritual nyuguh yang digelar pada pekan terakhir bulan Safar (menjelang bulan Maulud). Tradisi nyuguh ini merupakan ritual adat Kampung Kuta setiap bulan Safar yang selalu digelar disisi Sungai Cijolang, perbatasan Jabar-Jateng.

Tradisi nyuguh lahir dari sejarah, ketika warga Kampung Adat Kuta hendak melepas prajurit balatentara Kerajaan Pajajaran yang hendak menyeberang ke Sungai Cijolang menuju Kerajaan Majapahit di tanah Jawa.

"Para parajurit Pajajaran tersebut tidak hanya disuguhi makanan berupa ketupat dan makanan lainnya. Tetapi juga disuguhi penampilan seni gondang," ujar Karman.

Sejak itu, seni gondang menjadi penampilan pembuka setiap ritual nyuguh. Paling tidak, seni gondang ini tampil sekali setahun, yakni saat setiap ritual nyuguh tersebut, yang penampilannya jauh dari kesan sebagai seni hiburan, tapi lebih sebagai seni yang berbau spritual dengan lengkingan kawih dari lirik yang berisi petuah dan nasihat bagi anak negeri.

"Penampilan seni gondang ini lebih berkaitan dengan ritual adat di Kampung Kuta yang bersifat sakral. Adanya hanya di Kampung Kuta untuk keperluan adat," kata Karman.

Mengikuti perkembangan zaman, gondang buhun ini pun ditampilkan tidak hanya pada acara ritual nyuguh, tetapi juga ketika warga Kampung Adat Kuta menggelar hajat pernikahan yang menggunakan tenda atau balandongan.

"Sebelum tenda atau balandongan digunakan, selepas subuh sekitar pukul 05.00 pagi harus didahului dengan menampilkan seni gondang. Sekarang pun seni gondang buhun dari Kampung Kuta ini mulai diundang tampil ke luar daerah seperti di Bandung, Sukabumi, Purwakarta serta tentunya di Ciami sendiri," ujar Karman.

Dengan seringnya tampil di luar Kampung Kuta, kelompok seni gondang buhun Kampung Kuta ini mulai kerepotan karena pemainnya hanya ada enam orang. Semuanya sudah tua-tua, sehari-hari berprofesi sebagai petani sekaligus ibu rumah tangga. Jadi repot bila harus tampil di luar Kampung Kuta. Keenam pemain (semua perempuan) tersebut tidak hanya berperan sebagai pemegang alu untuk dpukulkan ke lisung (gondang), tetapi juga merangkap sebagai juru kawih (sinden).

"Pemainnya semua perempuan mulai Mak Idar, Darsiti, Sariyi, Kartini, Engkan, dan Darsiwi. Semuanya sudah berusia di atas 50 tahun, sudah tua-tua. Makanya sejak tiga bulan lalu, provinsi (maksudnya Dibudpar Jabar) melatih dua kelompok lagi, semuanya masih muda-muda," kata Karman.

Kedua kelompok yang dilatih melalui program revitalisasi gondang buhun Kampung Adat Kuta tersebut mewarisi langsung seni gondang buhun dari seniornya, Idar cs, baik tata gerak panutugan gondang maupun lanjutan kawihnya. Dua grup baru gondang buhun ini adalah Isur cs dan Sati cs, masing-masing grup terdiri atas enam orang.

"Setelah tampil di Alun-lun Tambaksari, kedua grup gondang buhun hasil revitalisasi dari Kampung Adat Kuta ini juga akan ditampilkan di Balai Budaya Jabar di Bukit Dago Selatan, Sabtu (28/9) malam nanti," ujar Siti Afiatun dari Balai Taman Budaya Jabar.

sumber: Tribun Jabar
Wacana untuk merubah nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh yang selama ini banyak disuarakan oleh masyarakat Ciamis pasca Pangandaran dimekarkan, ternyata terus menggelinding. Kini, kemungkian untuk merubah nama menjadi Kabupaten Galuh yang memiliki nilai historis, tampaknya masih terbuka lebar.

Hal itu pun setelah dua dedengkot sejarawan Sunda, yakni Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, MS dan Prof. Sobarna mendukung penuh hal tersebut. Dukungan tersebut terlontar dalam acara Sarasehan Sejarah Dan Nilai Budaya Sunda Galuh Parahyangan di Auditorium Unigal, Minggu, (7/7) lalu, yang dihadiri puluhan mahasiswa dan budayawan Ciamis.

Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, MS menagatakan, untuk merubah nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh tidaklah serumit yang dibayangkan selama ini. Berdasarkan pengalamannya di beberapa daerah, perubahan nama kabupaten tersebut tergantung Good Will (keingan Baik) dari Pemerintahan Daerah sendiri.

“Hanya memerlukan enam tahapan yang ada di kabupaten yang akan di rubah tersebut,” ucapnya.

Keenam langkah tersebut, ujar Nina, yakni persiapan naskah akademik, penyelenggaraan seminar dan uji publik naskah akademik yang diikuti seluruh pemangku kepentingan, kebijakan Pemda, dengar pendapat dengan DPRD, pemungutan suara di DPRD, dan Perumusan Perda. “Itu langkah –langkah yang harus ditempuh jika ingin merubah nama suatu kabupaten atau kota,” paparnya.

Nina mengatakan, tugas dari sejarawan adalah untuk menyiapkan data, fakta dan dokumennya. “ Aspek legal tersebut tugas kami,” imbuhnya.

Sementara itu, Prof. Sobarna, mengatakan, perubahan nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh, harus disikapi oleh para pemangku kebijakan di Ciamis. “Cerita soal Orang Ciamis diperantauan lebih suka menggunakan nama Galuh di banding Ciamis, bukan isapan jempol belaka. Bukan saja nama paguyuban, tetapi nama bengkel motor kepemilikan orang Ciamis di Bandung pun banyak menggunakan kata Galuh, bukan Ciamis,” tegasnya.

Dihubungi dalam kesempatan yang sama, Direktur LSM CGM, Ir. Hery Hernawan, mengatakan, prasyarat pergantian nama Ciamis menjadi Galuh sangatlah sederhana. “Tinggal tunggu kemauan dari eksekutif dan legislatifnya, mau tidak mereka mengagendakan perubahan nama tersebut, sesuai dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat Tatar Galuh saat ini,” ujarnya.

Sebelumnya, momentum pemekaran Kabupaten Pangandaran dari Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) membuat wacana perubahan nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh semakin menggelinding.

Tidak hanya itu, sebagian kalangan budayawan menilai, momentum Hari Ulang Tahun (HUT) atau hari jadi Kab. Cia­mis ke 371, dan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) menjadi kesempatan yang tepat untuk membawa perubahan besar di Kabupaten Ciamis.

Budayawan Ciamis, Godi Suwarna, mengungkapkan, perubahan nama tersebut sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat Kabupaten Ciamis. Alasannya, perubahan tersebut selain untuk mengikat persaudaraan warga tatar galuh, juga bisa menjadi kebangkitan Kabupaten Ciamis ke arah yang lebih baik.

“Nama Galuh akan membawa spirit kebanggaan, seperti muatan ‘Nasionalisme’ lokal, atau kebanggaan lokal,” ungkapnya.

Godi mengakui, wacana perubahan nama kabupaten tersebut sudah jauh-jauh hari diperbincangkan. Menurutnya, “bola” isu tersebut kini menggelinding besar, karena erat kaitannya dengan momentum Pemisahan Kabupaten Pangandaran dan Pilkada Ciamis.

“Saat atau waktunya tepat, karena Pangandaran sudah pisah, dan Ciamis harus punya nama baru,” ujarnya.

Lebih lanjut, Godi menuturkan, selain warga yang berada di kampung halaman, warga Ciamis yang berada di sejumlah Kota Besar seperti Jakarta dan Bandung juga sangat menantikan perubahan nama tersebut.

“Saya seringkali ditanya soal itu oleh warga Ciamis yang ada di perantauan, dan mereka mendukung wacana perubahan tersebut,” ucapnya.

Godi menambahkan, nama Kabupaten Galuh akan membawa dampak atau pengaruh yang positif, yakni tumbuhnya kecintaan masyarakat di Tatar Galuh terhadap warisan budaya leluhur Galuh. “Seperti halnya tarian Ronggeng Gunung, yang bisa dijadikan alat pengikat bagi kalangan masyarakat dan pemimpin daerah,” imbuhnya. (DK/Koran-HR)

Sumber: harapanrakyat.com
Teka-teki tentang siapa yang akan pimpin Kabupaten Pangandaran, DOB (Daerah Otonomi Baru) hasil pemekaran dari Kabupaten Ciamis, terjawab sudah. Laman Kementerian Dalam Negeri (kemendagri.go.id)dan situs-situs media online melansir berita pelantikan 11 kepala daerah baru yang ditetapkan dengan penunjukan.

Kepala Biro Pemerintahan Umum Pemprov Jabar, Endjang Naffandy, ditetapkan sebagai Bupati Kabupaten Pangandaran. Ia menjadi salah seorang diantara 11 kepala daerah baru yang dilantik Mendagri di Jakarta.

Endjang Naffady ditetapkan sebagai Bupati Kabupaten Pangandaran pertama (sumber: facebook)
"Penetapan (penjabat kepala daerah) diusulkan oleh semua kepala daerah asal, dan gubernurnya," ujar Gamawan di kantornya, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (22/4).

Gamawan mengatakan, para penjabat kepala daerah ini akan bekerja selama masa bakti 1 tahun dan dapat diperpanjang dan bertugas mempersiapkan infrastruktur pemerintahan. Menurut dia, pemerintah baru akan menerapkan pilkada untuk 11 daerah otonomi baru ini pada 2015 setelah terbentuknya DPRD.

"Ini kan daerah otonomi baru ya, masih ada proses penyelesaian bersama untuk calon yang ada di sana," kata Gamawan.

Terkait dengan pegawai, Gamawan menambahkan, pemerintah daerah otonomi baru ini belum diperkenankan untuk membuka pendaftaran. Kebutuhan pegawai akan dipenuhi dari Pemda asal pemekaran.

"Saya minta jangan dulu (angkat pegawai), karena itu akan dipindahkan dari induk dan dari propinsi. Jadi, jangan menambah-nambah PNS baru dulu karena pesan saya kan harus efisien kan struktur dan jangan terlalu besar," katanya.

Anda yang berminat ingin berkenalan dengan sosok Enjdang Naffandy, bupati pertama Kabupaten Pangandaran, dapat mengikuti (follow) di twitter-nya atau add pula akun facebook-nya.

Selamat dan Sukses untuk Kabupaten Pangandaran! Ciamis dan Pangandaran sudah berpisah, tetapi tetap satu hati dan lekat dalam persaudaraan.

Persoalan skandal Karaoke yang melibatkan Bupati Ciamis, Sekda Ciamis dan 3 Anggota DPRD Ciamis ternyata melebar ke Univeristas Galuh (Unigal) Ciamis. Selasa (2/4), di halaman Kantor Rektorat Unigal, puluhan Mahasiswa Unigal (Universitas Galuh) Ciamis yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Untuk Moral melakukan aksi unjuk rasa.

Dalam aksi tersebut mereka menuntut agar Rektor bertindak tegas terhadap isu adanya tiga Mahasiswi Unigal, 1 oknum dosen dan 1 lagi pengurus Yayasan Unigal yang terlibat kasus skandal karaoke yang belakangan tengah menjadi buah bibir di masyarakat Kabupaten Ciamis.

Korlap (Koordinator Lapangan) Taufan Ikhsan Yanuar dalam aksinya, Selasa (02/04), mengatakan aksi yang dilakukannya sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada kampus agar tidak dikotori oleh kepentingan politik dan kepentingan sindikat prostitusi, khususnya tindak pidana trafficking yang mencoba meruntuhkan keagungan kampus.

Menurutnya, kampus adalah ruang bagi manusia untuk meningkatkan kapasitas moral dan Intelektual sebagai bentuk pencerdasan. Dan juga sebagai sebuah wadah pencipta aktor-aktor Agent of Change (Agen Perubahan).

“Dalam kasus ini, kita menuntut agar rektor segera memberikan sanksi yang seberat-beratnya terhadap R. Dida Yudanegara dan Azis Bashari yang diklaim oleh Bupati berada di lokasi karaoke,” tegasnya.

Taufan juga menegaskan, pihak kampus agar segera membentuk tim khusus dari pemangku kebijakan yaitu bagian kemahasiswaan, untuk melakukan investigasi karena ditakutkan adanya tindakan kejahatan traficking yang tersistematis dan melibatkan mahasiswi Unigal sebagai komoditasnya.

“Kedepan untuk mengantisipasi hal seperti ini, Kami ingin adanya peran aktif dari lembaga dalam setiap pendidikan moral mahasiswa Unigal, agar tidak terjadi kembali hal yang mencoreng muka institusi pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Univeritas Galuh (Unigal), Prof. DR. Suherli, menegaskan, pihaknya sudah mendengar adanya tiga mahasiswi yang terlibat dalam kasus skandal karaoke. Pihaknya pun, langsung membentuk Tim Investigasi untuk mencari kebenaran, apakah itu mahasiswi Unigal atau bukan.

Menurut Suherli, berdasarkan laporan Tim Investigasi Unigal yang di bentuknya, menyebutkan bahwa tidak ada praktek trafficking di kampus Unigal. “Kami sudah memanggil mahasiswi yang diduga jadi korban dan menurut pengakuan mereka itu, tidak ada hal-hal yang selama ini dituduhkan. Karena mereka berangkat ke Kamiyoku hanya untuk kepentingan acara politik,” ujarnya.

Suherli mengungkapkan, tiga mahasiswi yang ikut menghadiri acara di kamiyoku pada Februari silam, justru mengurungkan niatnya untuk mengikuti acara tersebut hingga tuntas, karena menggangap acara tersebut bukan acara politik.

“Mereka sangat mempunyai integritas, dan menjaga perilaku, buktinya mereka minta pulang pada saat itu, dan menurut mereka tidak terjadi hal-hal yang selama ini dituduhkan. Artinya para mahasiswi tersebut mempunyai kepribadian kuat. Dan akan saya lindungi sebagai Mahasiwa Unigal,” tegasnya.

Suherli juga mengatakan, pihaknya pun sudah memanggil salah seorang dosen yang bernama Azis Basyari untuk mengaklarifikasi kebenaran soal pemberitaan yang beredar luas di masyarakat soal adanya dugaan keterlibatannya dalam membawa para mahasiswi tersebut ke Kamiyoku. “Sudah kami panggil, soal sanksi tentunya kami masih mengkaji,” katanya.

Masih menurut Suherli, soal pemanggilan Ketua Yayasan Unigal, R. Dida Yudanegara SH, berkaitan dengan dugaan masalah ini, pihaknya tidak mempunyai kewenangan.

“Kalau urusan saya selaku Rektor, kewenangannya Dosen ke bawah. Kalau pengurus Yayasan urusannya dengan Pembina Yayasan,” pungkasnya. (DSW/DK)

sumber: harapanrakyat.com

Sebuah kabar memprihatinkan dilansir kabar-priangan.com (6/4/13), mengenai ditangkapnya seorang warga Ciamis karena diduga mengajarkan aliran sesat yang menyimpang dari Islam. Ironisnya, konon sang pelaku sudah berhasil mendapat pengikut 12 hingga 30 orang. Berikut berita selengkapnya:

Ded (33) warga Kam­pung Kadubengkong Desa Awi­luar Kecamatan Lum­bung Kabupaten Ciamis terpaksa digaruk petugas Polres Ciamis karena di­duga telah menistakan aga­ma Islam. Kasat Reskrim AKP Sho­het menyebutkan pe­nang­kapan Ded berawal dari kecurigaan warga terhadap aktivitas yang dilakukan Ded. Sesuai dengan laporan warga Ded diuag telah me­ngajarkan ajaran yang me­nyimpang dari ajaran aga­ma Islam sebenaranya.

Beberapa ajaran tersebut yakni tidak boleh membaca Al-quran, sholat tidak harus wudhu dan gerakan sholat hanya cukup dengan duduk sila saja, kemudian sebaik-baikanya sholat lebih baik di atas kotoran ayam dari pada di masjid, selanjutnya ajaran ini menyakini, bahwa ka’bah berada di Panjalu karena sudah dipindahkan serta makam Nabi Muhad ada di Astana Gede.

“Kami sudah meminta keterangan sampai empat saksi bahkan akan ada sak­si tambah sekitar sembilan orang lagi, kemudian kami sudah mengamankan bukti tulisan dari ajaran aliran tersebut, dan diyakin­kan bah­­wa tersangka mela­ku­kan penistaan agama,” kata Shohet.

Tersangka melakukan prakteknya di kediamanya di Kampung Kadubengkong Desa Awiluar Kec. Lumbung, dari data yang sudah dihimpun oleh pihak kepolisian tersangka sudah memiliki pengikut hingga 12 orang sampai 30 orang.

Menurut Shohet, akibat dari tindakannya tersangka dikenakan pasal 156 poin a tentang penistaan agama, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

“Namun kami akan laku­kan penyelidikan lebih lanjut, dan dipastikan kasus ini akan lanjut, karena su­dah dikuatkan dengan saksi dan bukti,” tandas Shohet.

Sementara itu ketika di­konfirmasi Dedi membantah semua tuduhan ter­sebut karena menurutnya, ajaran-ajaran yang dikatakan sesat itu dikeluarkan oleh temannya Yayat yang terpengaruh oleh mahluk halus atau kerasukan roh.

“Semua tetang ajaran itu dikelauran oleh teman saya yang kerasukan, saya dengan teman-taman saya yang tergabung dalam pengajian thariqah Alawiyah mengajarkan islam yang sebenarnya dengan mengajarka dzikir “lailahalliah”,” kata Dedi.

Menurut Dedi, ketika ada ucapan dari salah satu temannya yang dianggap menyesatkan, Dedi meng­ingatkan pada teman lainya agar tidak harus meyakini ucapan tersebut, namun dirinya mengingatkan akan ajaran Islam yang sebenarnya.

“Memang awalnya kerasukan. Dan itu bukan ha­nya satu kali tetapi beberapa kali dan saya mencoba menyembuhkannya dengan baca dzikir,” Jelas Dedi.

Dedi mengaku, bahwa di­ri­nya sering diminta war­ga untuk menyembuh­kan orang sakit atau ingin me­miliki jodoh, namun di­ri­nya bukan guru atau membuka pengobatan alternatif.

“Jika ada yang sakit dan minta jodoh saya berikan bacaan dzikir. Yang jelas saya tidak mengajar mereka dari ajaran yang di luar Islam yang benar,” tandas Dedi.

Kepala Kementrian Aga­ma Kabupaten Ciamis Yusuf menghimbau kepada masyarakat agar berkoordinasi atau melaporkan jika ada hal-hal yang memang mencurigakan meng-enai penyimpangan ajaran agama Islam.

“Kami harap kepada warga tidak terlalu mudah percaya terhadap aliran atau ajaran yang memang dianggap tidak sesuai dengan ajaran yang sebenarnya, namun sebaikanya melaporkan pada kami, dan kami bekerjasama dengan MUI akan menindak,” pungkasnya.

Bupati Ciamis Engkon Komara mengaku berbuat khilaf, karena menghadiri pertemuan di tempat yang dinilai kurang pantas, yakni sebuah kafe yang memiliki ruang pertemuan dengan fasilitas karaoke pada Kamis (7/2/2013) malam.

Pengakuan itu dilontarkan di hadapan ratusan santri, mubalig, dan aktivis LSM yang berunjuk rasa di halaman Kantor Pemkab Ciamis, Kamis (28/3/2013) siang.

"Saya mengaku telah berbuat khilaf. Itu semua terjadi karena keterbatasan saya pribadi. Saya berjanji akan memerbaikinya di sisa waktu masa jabatan saya yang tinggal setahun lagi. Saya menyampaikan maaf kepada rakyat Ciamis," tutur Engkon di hadapan para pengunjuk rasa.

Unjuk rasa yang digelar ratusan santri yang tergabung dalam Ikatan Santri (Ikas), dan mubalig yang tergabung dalam Forum Mubalig Ciamis (Formuci), berlangsung di bawah pengamanan ketat petugas Polres Ciamis yang dipimpin Kapolres Ciamis AKBP Witnu Urip Laksana, serta personel TNI dari Kodim 0613 Ciamis yang dipimpin Dandim 0613 Ciamis Letkol Inf Wawan Hermawan.

Aksi unjuk rasa sempat diwarnai penebaran BH dan celana dalam bekas. Bahkan, ada pengunjuk rasa yang mengacung-acungkan celana dalam dan BH yang diikat pada tiang potongan bambu.

Pengunjuk rasa menuntut Engkon mundur dari jabatannya, karena dinilai telah melakukan tindakan amoral, menggelar pertemuan di tempat dugem.

"Bila mekanismenya harus begitu. Saya siap mundur. Mari kita serahkan pada yang berwenang. Kalau saya harus mundur, saya akan mundur," imbuhnya.

"Tapi bila nanti dalam proses hukumnya tidak terbukti, saya minta rakyat Ciamis bersabar. Toh, dalam setahun ini masa jabatan saya juga akan habis, tepatnya pada 6 April 2014. Selanjutnya, pilihlah bupati dan wakil bupati yang lebih baik dari saya," tutur Engkon.

Engkon dengan legowo tak menampik tudingan dan tuduhan para pengunjuk rasa.

"Apa yang dituduhkan kepada saya, benar adanya. Tapi, tidak semuanya benar. Bukannya saya membela diri, ada SMS yang menuduh saya telah mengikuti pesta seks, pesta miras dari jam 21.00 sampai 03.00 dini hari. Subhanallah! Saya tidak melakukan itu. Sampai hari ini saya tidak merokok, apalagi terlibat miras, minum bir. Tidak ada pesta seks, tidak ada pesta miras," bebernya.

Engkon mengaku mengikuti pertemuan internal antara sejumlah pengurus Partai Golkar Ciamis dan beberapa anggota F-Golkar DPRD Ciamis, di ruang pertemuan rumah makan Komiyaku di Tasikmalaya, Kamis (7/2/2013) lalu.

Sementara, Ketua Badan Kehormatan DPRD Ciamis Toto Tobari, berjanji mengusut tuntas kasus karaoke yang melibatkan sejumlah anggota DPRD dan Bupati Ciamis, serta sejumlah pejabat Ciamis.

"Sampai hari ini sudah 8 orang yang kami undang untuk dimintai keterangan," jelas Toto, yang menyebutkan pada Rabu (27/3/2013) lalu, BK DPRD Ciamis baru saja mengundang Sekda dan Kabag Umum Pemkab Ciamis untuk dimintai keterangan.

sumber: tribunnews.com
liputan lain: tv.detik.com



Angka kecelakaan lalulintas di wilayah Kabupaten Ciamis terbilang cukup tinggi. Menurut Kasat Lantas Polres Ciamis AKP Andriyanto hingga bulan Maret 2013 lakalantas sudah terjadi 39 kasus. Dalam kecelakaan tersebut 17 orang meninggal dunia, 7 luka berat dan 14 luka ringan. Kerugian material lebih dari 82 juta.

Penyebab kecelakaan imbuh AKP dari beberapa faktor diantaranya akibat faktor pengendara, infrastruktur jalan, cuaca, maupun kondisi ken­daraan yang tidak layak jalan.

Guna meminimalisir terjadinya lakalantas tersebut, pihaknya akan memasang 100 poster yang berisi seruan untuk berhati-hati di daerah rawan kecelakaan. Poster berukuran sekitar 1,5 x 2 meter bergambar tengkorak dengan bertuliskan “hati-hati Daerah rawan kecelakaan” akan dipasang di sepanjang jalan Kabupaten Ciamis.

“Poster itu, akan dipasang sepanjang jalan di kabupaten Ciamis dengan jarak masing-masing 2,5 KM. Mulai jalur Ciamis kota - Cihaurbeuti, Ciamis Kota - Panawangan, Ciamis Kota - Pangandaran,” ujar Andri Kamis (7/3).

Pihaknya juga akan bekerjasama dengan pengusaha angkutan umum untuk mela-kukan sosialisasi keselamatana berkendaraan bagi pengemudi. Pengusaha angkum juga diharapkan rutin memeriksakan kelayakan kendaraan demi keselamatan penumpang.

kabar-priangan.com
Jajaran pengurus DPC PDIP Ciamis membantah informasi yang menyebutkan bahwa partainya te­lah merencanakan pa­ket pasangan H. Asep Ro­ni bersama H. Engkon Ko­mara untuk dica­lon­kan da­lam Pemi­lu­kada Kab. Cia­mis, September mendatang. Menurut mereka, mun­cul­nya dua nama itu, yaitu Asep Roni dan Engkon Komara hanya sebatas wacana saja dan belum menjadi keputusan partai. Karena untuk mengusung pasangan calon dalam pemilihan kepala daerah, harus melalui mekanisme partai.

Sekretaris DCP PDIP Ciamis, Oih Burhanudin didampingi Ketua Fraksi PDIP, Ohan Hidayat menegaskan, partainya tidak pernah menyiapkan paket H. Roni yang sekarang menjadi ketua DPRD bersama H. Engkon Komara. Karena untuk mengusung Cal­bup Cawabup, PDIP memiliki mekanisme tersendiri.

Pencalonan Calbup atau Cawabup di PDIP, kata Oih, diputuskan melalui Rapat Kerja Cabang Khusus (Rakercabsus) yang akan menjadi bahan rekomendasi Ketua DPP PDIP.

“Itu hanya sekedar wacana yang tidak jelas kebenarannya. Bukan keputusan partai. Saat ini kami fokus pada pemenangan pasangan Rieke – Teten pada Pilgub Jabar,” tegas Oih.

Ohan menambahkan, hasil Rakercab 2011 lalu, DPC PDIP memutuskan untuk mencalonkan kembali Jeje Wiradinata menjadi Wakil Bupati Ciamis pada pilkada 2013. Selain itu, PDIP melarang kadernya yang menjadi Ketua DPRD untuk mencalonkan diri menjadi Cabup atau Cawabup, kecuali mengundurkan diri dari jabatannya.

“Sampai sekarang kami tetap memegang teguh hasil keputusan Rakercab 2011. Tidak ada calon lain. Kalau H. Asep Roni ingin men­calonkan diri harus mundur dari jabatan Ketua DPRD,” ujar Ohan.

Sementara itu Ketua DPRD Ciamis, H. Asep Roni yang sedang melaksanakan umroh, saat dikonfirmasi “KP” mengaku kaget dengan munculnya wacana pemaketen dirinya dengan Engkon Komara.

“Aya aya bae, maenya bade sareng sim kuring. Teu pernah aya nu naros ka simkuring mah,” ujar Roni yang saat itu akan melaksanakan shalat Ashar di Masjid Haramain, Mekah.

Tri Astuti Komara

Di tempat terpisah, politisi PAN, Hendra S. Marcusi mengatakan, pasangan H. Asep Roni bersama Engkon Komara dinilai kurang pas. Sebaiknya Engkon Komara memberikan ruang kepada istrinya, Hj. Tri Astuti Komara, untuk maju bersama H. Asep Roni.

“Daripada Pak Engkon, lebih baik Bu Tri Astuti karena selama ini kiprahnya sudah sangat terasa di ma­syarakat,” ujarnya.

Bahkan kata Hen­dra, Tri As­tuti menjadi kunci kemenangan pasangan Hebring (H. Engkon bareng Iing Syam Arifien) pada pilkada tahun 2009 lalu.

“Saya sebagai tim Sukses Hebring merasakan betul kiprah Hj. Tri Astuti Komara yang tak kenal lelah blusukan ke pelosok daerah selama menjadi Ketua PKK. Ini menjadi kunci kemenangan Hebring pada Pilkada 2009 lalu,” ujar Hendra.

sumber: kabar-priangan.com
Hati-hati membuat janji, apalagi jika hal tersebut menyangkut kepentingan orang banyak. Sebuah janji yang terucap pada orang banyak, akan menuai tagihan yang hebat. Demikian yang terjadi ketika ratusan warga Langkaplancar menagih pembangunan jalan Langkaplancar kepada kantor Dinas Binamarga Kabupaten Ciamis, hari Kamis yang lalu.

Seperti diberitakan oleh kabar-priangan.com, ratusan warga Lang­kap­lancar yang bergabung da­lam Aliansi Masyarakat Pe­duli Langkaplancar (Am­pel) menagih janji. Pembangunan jalan Kecamatan Langkaplancar, belum tampak tanda-tandanya, padahal Pemkab Ciamis berjanji bahwa pada awal tahun 2013 pembangunan tersebut akan mulai digelindingkan.

Mereka beraudensi dengan Ke­pala Bidang Sarana Jalan dan Jembatan Dinas Bina­marga, Kepala Seksi Jalan dan Jembatan pada Dinas Binamarga dan Kepala Di­nas Keuangan Cia­mis. Intinya mempertanyakan kapan pembangunan jalan akan direalisasikan serta anggaran yang akan digunakan untuk hal tersebut.

Ketua Umum Ampel He­ri Syarif Haerul Anwar me­ngatakan, warga datang un­tuk menagih nota kesepakatan dengan 50 anggota dewan yang akan mengabulkan tuntuan warga Lang­kaplancar untuk membangun jalan yang membentang sepanjang 72 Kilometer. Nota dimaksud adalah hasil demo ribuan masyarakat Langkaplancar pada Rabu 26 September 2012 silam, sebagaimana diberitakan bisnis-jabar.com.


"Kami kesini menagih janji yang ada pada nota ke­sepakatakan yang disetujui oleh seluruh anggota dewan kabupaten Ciamis," katanya.

Menurut Heri, komitmen untuk membangun jalan yang sudah disepakati oleh anggota dewan hing­ga saat belum juga dilakukan, sementara jalan Langkaplancar ini adalah salah satu akses jalan yang paling rusak parah di Kabu­paten Ciamis.

"Dengan rusaknya jalan Langkaplancar selama beberapa tahun kebelakang sangat mengganggu sekali terhadap laju ekonomi war­ga Kecamatan Lang­kap­lancar," ujarnya.

Ruas jalan Lang­kaplancar yang harus ada dalam pembangunan jalan saat ini yaitu jalan Pama­rican-Gunungkelir, Gu­nung­kelir-Palengseran, Gunungkelir-Jurago dan Cibatu-Ciwilis. Se­mua jalan tersebut adalah jalan-jalan yang memang aktif digunakan sekitar lima puluh ribu warga Ciamis.

Heri menyatakan agar perbaikan jalan ini sese­gera mungkin direalisasikan dan pihak terkait seperti Dinas Bina­marga harus secepatnya me­ngambil keputusan. Dirinya mengaku sudah tidak percaya lagi dengan nota kesepakatan antara warga dengan pemerintah, pasalnya nota kesepatan yang sudah sebelumnya juga tidak bisa dilakukan.

"Kami sebetulnya ingin meminta kejelasan, bukan nota kesepakatan apapun, karena kami sudah tidak percaya terhadap itu. Yang pertama saja dengan pihak DPRD tidak bisa dilakukan apa tuntutan kami yang ada di nota kesepakatan, yang penting jalan menuju ke Langkaplancar bisa la­yak digunakan," katanya.

Menanggapi hal itu Ke­pa­la Bidang Sarana Jalan dan Jembatan, Supena Adi­praja, menjelaskan pemba­ngunan jalan ini bisa direalisasikan dengan ang­garan seadanya. Dana pem­ba­ngun­an jalan berasal dari APBD sekitar 13 miliyar.

"Kami akan gunakan ang­­­garan seadanya. Untuk puas atau tidak dengan ang­­garan yang ada ini, war­ga silahkan mengajukan kembali. Kemudian untuk ja­lan jika ingin dibangun seluruhnya akan mengha­biskan dana lebih dari 20 miliyar, dan itu adalah dana yang sangat besar," kata­nya.

Menurutnya, pembangunan akan segera dilakukan namun dengan cara bertahap dan tidak bisa langsung dikerjakan sekaligus karena luas jalan cukup panjang.

"Ini tidak bisa di lakukan secara langsung namun ada beberapa tahapan. Namun kami juga berusaha untuk melakukan pembangunan secepatnya," ucapanya.

Sementara itu Kepala Di­nas Binamarga Ciamis, saat ditemui terpisah, mengung­kapkan warga Lang­kap­lan­car tinggal menunggu wak­tu, sebab lelang pro­yek un­tuk pembangunan jalan Lang­­kaplancar akan di la­ku­­kan di akhir bulan Ja­nua­ri ini.

"Tinggal menuggu waktu saja, karena kami disini ju­ga butuh perencanaan, dan sekitar belasan miliyar un­tuk jalan Langkaplancar ini dan akan dilakukan secara bertahap dan ang­gar­an bersumber dari APBD dan bantuan provinsi," ujarnya.

Mengenai anggaran yang akan di gunakan dalam pembangunan jalan Langkaplancar ini, Kepala Dinas Keuangan Ci­amis Toto Marwoto menga­takan tidak ada ruang un­tuk pemnambahan ang­gar­an karena jumlah yang dibutuhkan sangat besar, terkecuali jika ada bantuan yang bersumber lansung dari kementerian atau dana CSR (Cor­­porate Social Responsibilty).

"Kami juga sudah beru­saha untuk pembangunan jalan Langkaplancar ini, sebab apa yang diingankan oleh warga Langkaplancar juga sama diinginkan oleh pemerintah," katanya sebagaimana dikutip kabar-priangan.com.

Bagaimana dengan keadaan jalan-jalan lain di seluruh pelosok Kabupaten Ciamis? Semoga aksi demo semacam ini tidak menjadi trend untuk menekan kinerja pemerintah daerah dalam melayani rakyat, dan pembangunan fasilitas pelayanan publik -sudah dengan sendirinya- menjadi prioritas utama para pemangku kebijakan.
Konon sakit gigi adalah salah satu penyakit yang paling menyakitkan. Bukan hanya rasa sakitnya yang tak tertahankan, tetapi juga lebih malangnya lagi, hampir tidak pernah ada orang menengok penderita sakit gigi. Kalau sakit gigi sudah datang atau kambuh, maka segala cara harus ditempuh untuk menghentikannya.

Itu pula yang dilakukan seorang perempuan yang mendatangi Puskesmas Padaherang beberapa waktu lalu. Berbekal informasi bahwa Puskesmas memiliki program layanan 24 jam, ia berharap kehadirannya pada sekitar pukul 22.00 WIB akan disambut pelayanan yang layak.

ilustrasi (foto: defeatdiabetes.org)
Malangnya, jangankan pengobatan yang ia dapatkan, pintu pendaftaran pun dinyatakan sudah tutup sejak pukul 21.00 WIB. Ia harus menelan kekecewaan, karena pelayanan yang dijanjikan tidak terbukti.

Jika saja ia hanya warga kebanyakan, mungkin ia hanya akan menerima dengan pasrah. Tak ada yang dapat dilakukan masyarakat kecil menghadapi kebijakan -yang entah ditentukan di tingkat apa- pengelola pelayanan publik. Meski apa yang disajikan berbeda dengan yang dijanjikan, rakyat hanya dapat menerima saja.

Tapi sang perempuan ternyata bukan orang sembarangan. Ia adalah isteri dari Iwan Moch. Ridwan, SPd. MPd., seorang anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Ciamis. Sang suami dengan segera langsung mengakses Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, drg. Dendy Rahayu, untuk melaporkan kejadian. Ia juga meminta klarifikasi kepada Dinkes.

"Katanya puskemas siap melayani pasien 24 Jam. Kok pada saat istri saya datang pukul 22.00 WIB, petugas di Puskesmas bilangnya pendaftaran dan pelayanan pasien sudah ditutup, ini kan aneh," tandasnya seperti dilansir harapan-rakyat.com.

Sang anggota dewan meminta Dinkes membuat evaluasi terhadap pelayanan pada pasien berobat di seluruh Puskesmas di Kabupaten Ciamis. Ia bahkan meminta ada sanksi tegas kepada Puskesmas yang memberi layanan kurang baik.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Ciamis, dr. Rizali, dikutip media yang sama, membenarkan peristiwa tersebut. Bahkan, pihaknya sudah memanggil Kepala dan Dokter Gigi yang bertugas di Puskemas Padaherang.

"Dengan kejadian itu, pihak Puskesmas memohon maaf atas buruknya pelayanan petugas. Dan hal tersebut menjadi bahan evaluasi bagi petugas di Puskesmas," ungkapnya.

Permohonan maaf diimbuhi anjuran agar sang anggota dewan yang berdomisili di Kec. Mangunjaya, mendatangi terlebih dahulu Puskesmas di wilayah setempat, sebelum ke Puskesmas Padaherang.

Apakah dengan kejadian ini pelayanan puskesmas di seluruh puskesmas Ciamis akan meningkat? Tidak semua keluhan memperoleh perhatian media massa, publik dan pemangku kebijakan, seperti pada kasus sang isteri anggota dewan.

Berkaca pada fenomena ibukota, pemimpin yang rajin turun kebawah akan membawa banyak perubahan. Mungkin pelayanan puskesmas akan lebih meningkat lagi jika Pak Bupati sesekali (pura-pura) mengeluh sakit gigi di depan loket pendaftaran pada tengah malam. Kehadiran sang pemimpin niscaya membawa dampak yang luar biasa, apalagi jika ia menyuruh rakyat melapor langsung jika tidak dilayani dengan baik.
Lahirnya kabupaten Pangandaran menjadi pembicaraan hangat masyarakat Ciamis di suasana Idul Adha 1433 H di tahun 2012 ini. Pemekaran telah mereduksi luas cakupan wilayah pemerintahan kabupaten Ciamis, dari asalnya 39 kecamatan menjadi tinggal 29 kecamatan. Hal ini membawa konsekuensi lepasnya ikon pariwisata kebanggaan masyarakat Ciamis, yaitu pantai Pangandaran.

Berpisahnya 10 kecamatan menjadi kabupaten baru secara otomatis juga menghilangkan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari wilayah tersebut, meski pejabat terkait cenderung menyatakan berkurangnya PAD tersebut sebagai 'tidak terlalu berpengaruh'. PAD Pangandaran konon diproyeksikan menyumbang Rp 17 milyar dari target PAD Ciamis sebesar Rp 95 milyar. Kabupaten Ciamis kini 'dipaksa' untuk mengubah fokus pembangunan dengan lebih mengedepankan potensi lain yang sudah ada.

Pengamat kebijakan publik yang kini menjadi walikota Banjar, Dr. Herman Sutrisno, menyatakan melalui media bahwa Ciamis harus mengubah orientasi pembangungan dan rencana strategisnya, dengan lebih fokus pada pengembangan wilayah utara. Daerah-daerah sentra agro, termasuk diantaranya peternakan, harus mendapat perhatian lebih banyak, karena Ciamis memiliki kekuatan di bidang tersebut.

Banyak pihak berharap dengan berkurangnya cakupan wilayah, ditambah dengan pengembangan potensi yang sungguh-sungguh oleh pemerintahan yang kuat dan bersih, dan peran serta masyarakat yang lebih aktif, akan melahirkan kembali Ciamis yang jauh lebih baik.

foto:bisnis-jabar.com
Potensi Ciamis di bidang pertanian dan peternakan sudah diakui kekuatannya sejak lama. Beberapa sentra produksi ternak bahkan sudah mendapat pengakuan secara nasional, misalnya peternakan ayam. Perkembangan sentra-sentra tersebut sebagiannya berjalan secara mandiri, bertumpu pada kehandalan jiwa entrepreneurship para pengelolanya, tanpa perhatian atau turut campur pihak pemerintah secara intensif.

Pengembangan pertanian dan peternakan diharapkan akan jauh lebih pesat jika pemkab Ciamis 'terpaksa' memberi perhatian lebih besar dan intensif dalam mengawal perkembangan sentra-sentra produktif tersebut. Sudah saatnya pemkab lebih mengambil posisi sebagai bidan yang membantu melahirkan usaha-usaha kreatif dan produktif baru. Bergeraknya ekonomi produktif adalah sumber peningkatan PAD.

Pengembangan pertanian dan peternakan akan menjadi komponen utama disamping sektor-sektor lain yang masih mungkin dikembangkan di wilayah Ciamis.(***yzk/CiamisManis.com)
Hujan mulai turun, bumi yang kering mulai mendapat kesegarannya kembali. Kehadiran curah hujan menjadi obat rindu bagi mereka yang mengalami berbagai kesulitan akibat kemarau dan sulitnya mendapat air.

Tetapi masalah tidak hilang begitu saja dengan kehadiran hujan. Setidaknya itulah yang coba disuarakan oleh seorang petani lakbok di laman fp CIAMIS. Sang petani mengeluhkan perhatian pihak terkait yang kurang, sehingga permasalahan para petani di sebagian wilayah Lakbok seolah terabaikan.


Ia mengutarakan ironi posisi Lakbk yang konon lumbung penyangga pangan Ciamis, tetapi pada saat kemarau sawahnya harus mengalami kekeringan sehingga terpaksa membeli air. Biaya membeli air tidaklah murah, seharga 80 kg padi untuk sawah 100 ubin. Malangnya, setelah hujan turun ternyata bahaya banjir mengancam lahan sawah mereka.

Saat ditanya mengenai harapannya pada pemerintah, ia mengharapkan pihak terkait untuk turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi pengairan sawah di wilayah Lakbok. Ia berharap pemerintah lebih tanggap atas permasalahan yang dialami para petani.


Kehadiran pemimpin yang rajin turun langsung ke lapangan rupanya menjadi semacam kerinduan massal yang menyebar cepat akhir-akhir ini, terutama sejak kemunculan gubernur baru DKI Jakarta. Kehadiran para pejabat dan pemimpin yang rajin berkunjung ke lapangan dan menjalin komunikasi intensif dengan warga merupakan sarana efektif dalam membangun saling pengertian dan kerjasama untuk membangun wilayah.

Apa komentar Anda?

(CiamisManis.com)
Seorang pemudik pernah bercerita tentang pengalamannya menjajal kehadiran Ci Mall di ex bioskop Pusaka, seberang Taman Rafflesia Ciamis. Singkat cerita ia dan keluarganya merasa perlu membeli beberapa oleh-oleh di pusat perbelanjaan modern di kota manis tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman yang lokasinya masih beberapa menit dari pusat kota.

"Bingung juga," katanya pada CiamisManis.com, "Gak jelas pintu masuk untuk parkir mobil. Kami bahkan akhirnya memutar lagi untuk kembali ke muka Ci Mall. Tetap saja tidak ada tempat parkir. Parkirnya dimana nih? Akhirnya parkir di halaman bangunan sebelahnya."

Keheranan, ia dan istrinya akhirnya hanya senyam senyum. "Kok bisa ya? Memang ada petugas parkirnya, tapi koq di halaman bangunan lain?" tanyanya keheranan.

Mungkin pengalaman sang pemudik bukanlah yang pertama dialami oleh pengunjung Ci Mall yang kebetulan membawa kendaraan beroda empat. Para pengunjung akhirnya 'dipaksa' untuk memarkir mobilnya di Taman Rafflessia atau lokasi lainnya. Halaman pusat belanja yang mulai beroperasi sejak 20 Juli 2012 tersebut praktis hanya dipakai untuk parkir motor saja, dan minim 'space' untuk mobil. Lahan parkir mobil tidak (cukup) tersedia, silakan mencari tempat lain, itu kesimpulannya.

foto: ciamiszone.com
Urusan parkir memarkir ini ternyata tidak sesederhana itu. Masyarakat awam mungkin tidak menyadari bahwa ada peraturan berupa Keppres No. 112 Tahun 2007 yang mengatur Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Peraturan tersebut diantaranya mewajibkan setiap pusat perbelanjaan atau toko modern untuk memiliki lahan parkir paling sedikit seluas kebutuhan 1 unit kendaraan roda empat (mobil) untuk setiap 60 meter persegi luas lantai pusat perbelanjaan tersebut.

Kehadiran pusat belanja atau toko modern selayaknya tidak membebani kepadatan lalu lintas, dengan membiarkan pengunjung memakai lahan umum. Pengelola pusat perbelanjaan wajib memenuhi kebutuhan lahan parkirnya secara mandiri dan layak.

Pemakaian trotoar untuk menjadi bagian 'wilayah' Ci Mall juga bertentangan dengan peruntukkannya sebagai area publik tempat pejalan kaki dan dibawah pengelolaan Dinas Ciptakarya Kabupaten Ciamis.

Apakah dalam pengajuan IMB, desain Ci Mall belum menyertakan lahan parkir yang cukup dan sesuai dengan aturan pemerintah? Harusnya tidak, karena tanpa desain yang sesuai maka IMB tidak selayaknya turun. Bahkan Ci Mall juga dapat ditunda pengoperasiannya jika pembangunannya tidak sesuai rekomendasi para pihak pemangku kepentingan, yang pastinya mengikuti aturan-aturan baku yang sudah ada.

Pada saat awal sosialisasi pembangunan Ci Mall, pihak pengembang mengklaim menurut kajiannya dapat merombak ex bangunan bioskop pusaka tersebut menjadi plaza dengan daya serap 300 orang tenaga kerja, potensi pajak mall, retribusi air, parkir dan akan sinergi dengan PAD. Khusus tentang parkir, tentu yang dimaksud pemasukan dari parkir logikanya bukan berasal dari pemanfaatan lahan parkir yang sudah ada selama ini dan berada di lahan publik.

Bagaimanapun, Ci Mall sudah beroperasi. Kehadirannya merupakan tambahan fasilitas bagi masyarakat Ciamis yang harus membawa manfaat bagi semua pihak. Ci Mall juga sepatutnya dapat ikut berperan memajukan industri kreatif lokal masyarakat Ciamis. Berbagai permasalahan yang muncul sekarang seyogyanya mendapat tanggapan yang positif dan solutif dari pemangku kebijakan dan pengelola usaha.

Semoga urusan parkir Ci Mall segera selesai, tidak banyak lagi yang mobil pengunjung yang berputar-putar mencari pintu masuk lahan parkir mall. Juga permasalahan lain Ci Mall yang bergesekan dengan kepentingan publik Ciamis segera terpecahkan.

Jangan sampai kekuatiran Pemuda Mandiri Peduli Rakyat (PMPR) Ciamis, sebagaimana disampaikan Agus Kurnia dan dilansir ciamiszone.com, menjadi kenyataan, yakni "jika tidak menggubris maka massa yang akan turun ke jalan melakukan aksi."

(yzk/CiamisManis.com)

Santri di Pondok Pesantren Banyulana, di Kampung Nangewer, Desa Jelat, Kecamatan Baregbeg mengembangkan usaha budi daya jamur merang yang mereka sebut jamur kardus. Sejak enam bulan lalu beberapa santri terus mengembangkan usaha budi daya jamur kardus tersebut.

Lahan yang dipakai pun tidak begitu luas, namun hanya memanfaatkan ruang kosong di lingkungan pesantren. Bahkan budi daya dilakukan diatas pelapon kobong.

"Satu kali panen kita bisa menghasilkan jamur sebanyak 15 kilo gram, panen setiap tiga hari," kata Asep Suyudi santri yang mengelola budi daya jamur kardus kemarin.

Jamur hasil budi daya, Ia jual sendiri ke masyarakat sekitar pesantren dengan harga Rp 18.000/kg, juga di jual ke Pasar Ciamis dengan harga yang sama.

Pimpinan Pondok Pesantren Banyulana, Darif Haidarifan mengatakan pengembangan budi daya jamur tersebut berawal dari banyaknya kardus bekas "adrahi" santri kiriman dari orang tuanya di kampung.

Otaknya berputar bagaimana caranya memanfaatkan dus-dus bekas bagi pengembangan usaha di Pesantren.

Ide pun muncul saat Bapak dua anak itu melintas tempat pengelolaan sampah dan menemukan mesin pengolahan kompos.

"Dari situ muncul ide untuk mengembangan budi daya jamur dengan media kardus bekas. Saat dicoba Alhamdullilah berhasil dan terus kita kembangkan sampai sekarang," katanya.

Selain karudus dan sisa-sisa makanan dari adrahi, media lain yang dipakai kangkung, buncis, bonggol pisang dan arang yang diaduk menjadi satu. kemudian bibit jamur ditaburkan ke media tersebut.

Tiga hari kemudian jamur bisa dipanen, dan terus menerus selama beberapa minggu sampai jamur tidak tumbuh lagi.

"Masa istirahatnya setelah tanam satu minggu," kata Darif.

Usaha budi daya jamur sengaja dikembangkan di pesantren sebagai bekal santri setelah tidak mondok lagi di Pesantren. Selain Jamur budi daya lain juga dikembangkan di pesantren tersebut.

"Ilmu mah teu berurat mamawa, kami sadar setelah keluar pesantren tidak semua santri akan menjadi kiai, hanya 30 persen saja yang memiliki pondok pesantren selebihnya tidak," katanya.

sumber: kabar-priangan.com

Lima tahun yang lalu artis cantik Zaskia Mecca dikabarkan oleh sebuah media merasa kapok mudik ke Ciamis. Ia memilih menolak ajakan mamanya untuk mengunjungi kampung halaman leluhur. Alasannya adalah perjalanan yang lama dan tidak nyaman.

"Kapok. Tahun kemarin ke Ciamis sampai 17 jam. Jalanannya masih belum oke, terus pengendara motornya juga galak-galak. Aku sama sepupu-sepupu sudah janji nggak mau mudik lagi," kata Zaskia saat itu. Media lain mengutipnya mengatakan menempuh jarak Bandung - Ciamis selama tujuh jam.

Zaskia memilih berlebaran di Jakarta. Selain karena malas dengan perjalanan mudik, menurutnya lebih enak berlebaran di Jakarta. "Kalau Lebaran, di Jakarta sepi banget. Lebih enak di sini," ujarnya lagi.

Lima tahun sudah berlalu, Zaskia sekarang adalah isteri sutradara Hanung Bramantyo dan dikaruniai anak bernama Kanna Sybilla Bramantyo. Sebagaimana kedupan Zaskia berubah, apakah kehidupan di jalan raya dalam suasana mudik lebaran tahun ini sudah jauh berubah?


Perjalanan ke Ciamis yang lebih cepat dan nyaman sudah menjadi harapan banyak orang sejak lama. Berbagai perbaikan dan peningkatan kualitas jalan dan sarana transportasi lain terus menjadi perhatian pemangku kebijakan dan pelaku usaha transportasi, tetapi bagaimanapun laju pertambahan kendaraan tetap tidak dapat diimbangi oleh perbaikan sarana jalan.

Banyak pihak masih mengeluhkan perjalan mudik lebaran, seperti yang diungkapkan Zaskia Mecca lima tahun lalu, padahal ia sekeluarga hampir dapat dipastikan menggunakan kendaraan pribadi yang sudah sangat nyaman bagi ukuran masyarakat kelas bawah.

Buktinya Zaskia Mecca sempat mengaku kapok mudik ke Ciamis. Bagaimana dengan Anda?

Sadar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan, para petani yang tergabung di kelompok Tani Makmur, Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu tetap konsisten menjaga kelestarian hutan rakyat.

Masyarakat saat ini sudah tidak lagi berani menebang pohon tegakan untuk kepentingan perluasan areal pertanian. Mereka lebih memilih untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi tanaman tegakan.

"Menanam cabe pun kita lakukan dibawah pohon tegakan, petani lain banyak yang mencibir karena cabe nutuh di lahan terbuka, tapi nyatanya kami berhasil, meskipun menanam di bawah tegakan pohon," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Makmur di Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu, Emod Suganda Kamis (24/5).

Emod sudah beberapa kali menanam cabe merah di lokasi hutan yang rimbun dengan pohon kayu tegak, namun hasilnya sangat memusakan.

"Kami lebih memilih melakukan uji coba, apa yang orang lain tidak dilakukan kami coba lakukan," tegasnya.

Masyarakat kata Emod merasa perlu untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan kaki gunung Sawal. Pasalnya jika kawasan tersebut dibiarkan gundul dan hanya dijadikan lahan pertanian dikhawatirkan akan menimbulkan bencana di daerah Panjalu.

Maman Sulaeman sekertaris Gapoktan Tani Makmur mengakui apa yang dilakukan kelompoknya dalam melestarikan hutan rakyat banyak mendapat sambutan dari pihak lain.

Bahkan belakangan ini Gapoktan Tani Makmur dijadikan pelopor dibidang pelestarian kawasan hutan rakyat di Jawa Barat. Ada sekitar 99 hektar kawasan hutan yang pada tahun 2000 lalu rusak kini sudah kembali lestari. Manfaatnya sudah mulai dirasakan masyarakat Panjalu.

"Kemarau sembilan bulan pun masyarakat di Panjalu tidak akan mengalami kesulitan air, karena hutanya lestari," katanya.

Upaya menyadarkan masyarakat untuk ikut melestarikan kawasan kaki gunung sawal yang sudah menjadi tanah milik masyarakat tidak mudah. Butuh kerja keras agar semua masyarakat peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Hasilnya kini masyarakat tidak ada lagi ada yang berani menebang pohon kayu tegakan di areal kebunnya. Mereka memilih menanami tanaman produktif holtikultura dengan cara menyesuaikan dengan tanaman tegakan.

Atas kepedulianya terhadap pelestarian kawasan hutan rakyat, Kelompok tersebut diganjar penghargaan oleh pemerintah Kabupaten Ciamis pada tahun 2010 sebagai kelompok tani hutan terbaik.

sumber: kabar-priangan.com