
CIAMIS, (PRLM).- Kendati jumlah mobil dinas Bupati Ciamis sudah berlebih sebanyak empat unit, berbagai kalangan justru mengusulkan ke Pemkab Ciamis agar membeli mobil dinas baru untuk Bupati. Alasannya, mobil dinas bupati yang ada sekarang, sudah ketinggalan jaman.
Hal itu setidaknya disampaikan Ketua LSM Nuansa Ungu Maulana Sidik dan Direktur LSM Bina Pandu Mandiri, Didi Ruswendi. Pernyataan yang kurang lebih senada disampaikan juga Wakil Ketua DPRD Ciamis Drs. H. Gandjar M. Yusuf.
Menurut mereka, selama menjadi Bupati Ciamis dua periode, yakni dari periode 2004-2009 dan 2009 hingga 2014 nanti, Bupati Ciamis tidak membeli mobil dinas baru. Bupati selalu menggunakan mobil yang sama termasuk mobil bekas Bupati Oma Sasmita Sumardi.
Biasanya, kata Sidik dan Didi, jika terpilih menjadi Bupati untuk kedua kalinya, Bupati selalu mendapatkan mobil baru. Akan tetapi, Bupati Ciamis ternyata tidak melakukannya, dengan alasan terbatasnya anggaran.
“Nah karena itu, saya sarankan Pemkab membeli mobil baru buat bupati, bisa hanya jenis SUV saja, bisa juga sekaligus dengan jenis sedan. Pasalnya sedan Camry peninggalan bupati terdahulu, sepertinya tidak pernah digunakan oleh Pak Engkon,” kata mereka.
Menurut keduanya, mobil dinas itu bagusnya yang terbaik dan tidak ada duanya di Ciamis. Kalau mobil dinas bupati ada yang menyamai, itu bisa bersinggungan dengan harga diri.
“Dulu, jaman kerajaan, raja selalu mencari kuda kencana yang paling unggul, tiada duanya, agar tidak disamai oleh warga kebanyakan. Mobil dinas bupati juga harus begitu. Mobil dinas Bupati Ciamis jangan seperti mobil dinas Bupati Garut yang sering mogok. Itu memalukan,” tutur keduanya.
Di tempat berbeda, Wakil Ketua DPRD Ciamis Drs. H. Gandjar M. Yusuf juga mengatakan bahwa selama 12 tahun menjadi anggota DPRD Ciamis, sepengetahuannya, bupati hanya menggunakan Toyota Sport Rider nopol Z 1 T saja. Mobil itu digunakan baik ke daerah maupun ke luar kota.
Sementara mobil Camry peninggalan Bupati Oma Sasmita, justru disimpan di rumah dinas Wabup Ciamis H. Iing Syam Arifin. “Karena itu, saya berani mengatakan bahwa Bupati Ciamis sebetulnya bisa dibilang bupati kuno, karena selama hampir dua priode menjadi kepala daerah tak pernah ganti mobil,” terangnya.
Pada bagian lain, anggota legislatif dari partai pendukung Bupati Engkon itu mengakui bahwa saat melakukan audit di Ciamis tahun 2010, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jawa Barat menemukan masalah pada mobil dinas Bupati. Bupati disebutkan menggunakan mobil berlebih, yakni enam mobil. Empat mobil di antaranya, ada yang digunakan istri bupati dan istri sekda.
Akan tetapi, menurut Ganjar, temuan BPK terkait penggunaan empat mobil aset pemerintah di luar yang sering digunakan yakni Toyota Sport Rider Z 1 T, kesalahannya hanya bersifat administratif saja, dan tidak menimbulkan kerugian negara. Keempat mobil itu adalah Honda CR-V, Toyota Kijang Innova, Terios dan Toyota Kijang Grand.
“Bahkan kesalahan administrasi itu sudah diperbaiki oleh bagian rumah tangga sekretariat daerah sesuai rekomendasi BPK. Keempat mobil itu sudah diserahkan dari bagian rumah tangga setda ke bagian perlengkapan,” ujar dia. (A-112/das)***
sumber: PR Online
Hal itu setidaknya disampaikan Ketua LSM Nuansa Ungu Maulana Sidik dan Direktur LSM Bina Pandu Mandiri, Didi Ruswendi. Pernyataan yang kurang lebih senada disampaikan juga Wakil Ketua DPRD Ciamis Drs. H. Gandjar M. Yusuf.
Menurut mereka, selama menjadi Bupati Ciamis dua periode, yakni dari periode 2004-2009 dan 2009 hingga 2014 nanti, Bupati Ciamis tidak membeli mobil dinas baru. Bupati selalu menggunakan mobil yang sama termasuk mobil bekas Bupati Oma Sasmita Sumardi.
Biasanya, kata Sidik dan Didi, jika terpilih menjadi Bupati untuk kedua kalinya, Bupati selalu mendapatkan mobil baru. Akan tetapi, Bupati Ciamis ternyata tidak melakukannya, dengan alasan terbatasnya anggaran.
“Nah karena itu, saya sarankan Pemkab membeli mobil baru buat bupati, bisa hanya jenis SUV saja, bisa juga sekaligus dengan jenis sedan. Pasalnya sedan Camry peninggalan bupati terdahulu, sepertinya tidak pernah digunakan oleh Pak Engkon,” kata mereka.
Menurut keduanya, mobil dinas itu bagusnya yang terbaik dan tidak ada duanya di Ciamis. Kalau mobil dinas bupati ada yang menyamai, itu bisa bersinggungan dengan harga diri.
“Dulu, jaman kerajaan, raja selalu mencari kuda kencana yang paling unggul, tiada duanya, agar tidak disamai oleh warga kebanyakan. Mobil dinas bupati juga harus begitu. Mobil dinas Bupati Ciamis jangan seperti mobil dinas Bupati Garut yang sering mogok. Itu memalukan,” tutur keduanya.
Di tempat berbeda, Wakil Ketua DPRD Ciamis Drs. H. Gandjar M. Yusuf juga mengatakan bahwa selama 12 tahun menjadi anggota DPRD Ciamis, sepengetahuannya, bupati hanya menggunakan Toyota Sport Rider nopol Z 1 T saja. Mobil itu digunakan baik ke daerah maupun ke luar kota.
Sementara mobil Camry peninggalan Bupati Oma Sasmita, justru disimpan di rumah dinas Wabup Ciamis H. Iing Syam Arifin. “Karena itu, saya berani mengatakan bahwa Bupati Ciamis sebetulnya bisa dibilang bupati kuno, karena selama hampir dua priode menjadi kepala daerah tak pernah ganti mobil,” terangnya.
Pada bagian lain, anggota legislatif dari partai pendukung Bupati Engkon itu mengakui bahwa saat melakukan audit di Ciamis tahun 2010, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jawa Barat menemukan masalah pada mobil dinas Bupati. Bupati disebutkan menggunakan mobil berlebih, yakni enam mobil. Empat mobil di antaranya, ada yang digunakan istri bupati dan istri sekda.
Akan tetapi, menurut Ganjar, temuan BPK terkait penggunaan empat mobil aset pemerintah di luar yang sering digunakan yakni Toyota Sport Rider Z 1 T, kesalahannya hanya bersifat administratif saja, dan tidak menimbulkan kerugian negara. Keempat mobil itu adalah Honda CR-V, Toyota Kijang Innova, Terios dan Toyota Kijang Grand.
“Bahkan kesalahan administrasi itu sudah diperbaiki oleh bagian rumah tangga sekretariat daerah sesuai rekomendasi BPK. Keempat mobil itu sudah diserahkan dari bagian rumah tangga setda ke bagian perlengkapan,” ujar dia. (A-112/das)***
sumber: PR Online
0 komentar:
Post a Comment